Sukses

Perang Dagang Baru Muncul Gara-Gara Boeing vs Airbus?

Liputan6.com, Washington D.C. - Meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terancam diikuti perang dagang dengan Benua Biru. Penyebabnya? Pesawat terbang.

Dilaporkan CNBC, AS ingin memberi sanksi ke UE karena subsidi yang mereka berikan ke Airbus. Sebelumnya World Trade Organization (WTO) menyebut subsidi ke Airbus telah menyebabkan kerugian pada AS.

Serupa dengan perang dagang melawan China, kini AS menyasar sejumlah produk Uni Eropa (UE). Wacana sanksi yang AS berikan akan menimpa produk seperti pesawat terbang, ikan, produk susu, binokular, minyak zaitun, dan wine.

AS mempertimbangkan untuk menerapkan sanksi ke Uni Eropa (UE) senilai total USD 11 miliar atau Rp 155,5 triliun (USD 1 = Rp 14.141). Pihak UE pun mengaku siap membalas.

Angka sanksi USD 11 miliar dianggap AS sebagai kerugian yang negara mereka derita karena subsidi ilegal Airbus. Sementara, pihak EU menyebut perhitungan AS melebih-lebihkan, dan perhitungan sanksi yang sah harus dilakukan WTO.

"Jumlah retaliasi (dagang) yang diotorisasi WTO haya dapat ditentukan oleh arbitrator yang diangkat WTO," ungkap seorang sumber di Komisi Eropa. Keputusan WTO terkait sanksi AS akan keluar pada musim panas mendatang.

Ancaman perang dagang ini terjadi karena kedua belah pihak memang kerap memberi subsidi bagi perusahaan pembuat pesawat masing-masing demi meraup keuntungan di bisnis manufaktur pesawat: AS memberi subsidi ke Boeing, sementara UE ke Airbus.

2 dari 3 halaman

Uni Eropa Siap Retaliasi

Pihak Uni Eropa juga menantikan hak retaliasi mereka dari WTO. Pasalnya, Boeing ditemukan menerima subsidi ilegal sejumlah miliaran dolar pada tahun 2012 lalu.

Lebih lanjut, bulan Maret lalu, WTO memutuskan bahwa AS gagal mematuhi keputusan untuk mencabut semua subsidi ilegal yang diterima Boeing. Bahkan, AS terus melakukan subsidi ilegal sehingga dinilai merugikan Airbus juga.

UE percaya mereka juga akan mendapatkan hak retaliasi yang sama. "Tekad retaliasi EU juga semakin dekat, dan UE akan meminta arbitrator yang diangkat WTO untuk menentukan hak retaliasi UE," ujar Komisi Eropa.

3 dari 3 halaman

Prancis Mencari Jalan Tengah

Namun demikian, Bloomberg mencatat potensi perang dagang antara AS dan UE lebih ringan ketimbang yang terjadi pada China. Sekadar pengingat, AS dan China saling mengenakan tarif sebesar USD 360 juta dalam sembilan bulan terakhir.

Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire menyebut pihak AS dan UE diharapkan menemukan jalan tengah. Hal itu disebut solusi terbaik bagi keduanya di tengah melambatnya ekonomi dunia.

"Merupakan kepentingan AS dan UE untuk menemukan kesepakatan bersahabat perihal isu hukuman di sektor pesawat. Ketika saya melihat pelambatan ekonomi dunia, saya berpikir kita tak sanggup melalui perang dagang, bahkan jika di satu industri.

Sementara, pihak AS lebih keras dalam pernyataannya karena kasus ini sudah berlangsung cukup lama. "Kasus ini berada dalam litigasi selama 14 tahun, dan waktunya tiba untuk ambil tindakan," ujar Robert Lighthizer, perwakilan dagang AS.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Presiden Korsel Kunjungi AS Untuk Hidupkan Lagi Pembicaraan Soal Korut
Artikel Selanjutnya
10-4-1971: Diplomasi Pingpong, Ketidaksengajaan yang Cairkan Hubungan AS - China