Sukses

IHSG Berpeluang Koreksi, Simak Saham Pilihan Ini

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi tersungkur pada perdagangan saham Selasa (4/12/2018). IHSG akan berada di level 6.038-6.155.

Adapun setelah pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi G-20, yang menjadi fokus bulan depan oleh para investor menurut analis ialah hasil-hasil pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.  Pelaku pasar saham kini masih menanti kejutan atas aksi gencatan senjata antar kedua negara tersebut. 

"Sesungguhnya yang harus dibahas adalah mengenai Konfrensi Tingkat Tinggi G20 yang berlangsung di Buenos Aires, namun hal ini terasa kurang menarik apabila kita sandingkan dengan pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping," ucap Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, Maximilianus Nico Demus di Jakarta.

Sedangkan untuk suku bunga acuan The Fed, menurut Nico, tingkat probabilitasnya saat ini berada di 72,6 persen. Tingkat keyakinan mencerminkan potensi kenaikan tingkat suku bunga The Fed. 

"Sejauh ini meskipun ada kenaikkan atau penurunan, tapi secara probabilitas masih terjaga di atas 70 persen," ujar dia.

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menuturkan, adanya aksi ambil untung yang diikuti dengan antisipasi pertemuan antara Presiden Xi dan Presiden Trump di sela KTT G-20 Summit membuat laju kenaikan IHSG terhenti. 

"Sentimen positif dari sejumlah berita emiten dan penguatan rupiah yang terbantukan dengan sentimen dari dalam negeri tidak cukup membantu bertahannya IHSG di zona hijau," ujar dia.

Reza memperkirakan IHSG berada di bawah target support dan resistance di 6.074-6.088.

Untuk saham rekomendasi, Nico menganjurkan saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI).

Kemudian Reza yang menyarankan saham PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), serta PT Medco Energi International Tbk (MEDC).

 

2 dari 2 halaman

Perdagangan Saham Senin

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di zona hijau di tengah aksi jual investor asing. Penguatan IHSG didukung nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan saham, Senin 3 Desember 2018, IHSG menguat 62,19 poin atau 1,03 persen ke posisi 6.118,32. Indeks saham LQ45 mendaki 1,28 persen ke posisi 978,78. Seluruh indeks saham acuan kompak menghijau.

Sebanyak 235 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. 177 saham melemah dan 121 saham diam di tempat.

Pada awal pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.157,30 dan terendah 6.101,74.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 499.742 kali dengan volume perdagangan 13 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 12,5 triliun. Investor asing jual saham Rp 748,66 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di Rp 14.246.

10 sektor saham kompak menghijau. Sektor saham tambang menguat 2,51 persen, dan bukukan penguatan terbesar. Disusul sektor saham konstruksi naik 2,19 persen dan sektor saham pertanian mendaki 2,18 persen.

Saham-saham jadi top gainers di awal pekan ini antara lain saham YULE melonjak 34,46 persen ke posisi Rp 238 per saham, saham ITMA mendaki 25 persen ke posisi Rp 800 per saham, dan saham SURE menanjak 24,90 persen ke posisi Rp 3.010 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham MTSM melemah 25 persen ke posisi Rp 222 per saham, saham AKSI tergelincir 14,65 persen ke posisi Rp 338 per saham, dan saham OASA susut 14,37 persen ke posisi Rp 274 per saham.

Bursa saham Asia pun kompak menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng menguat 2,55 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 1,67 persen, indeks saham Jepang Nikkei menanjak 1 persen.

Selain itu, indeks saham Thailand menguat 1,91 persen, indeks saham Shanghai mendaki 2,57 persen, indeks saham Singapura menanjak 2,34 persen dan indeks saham Taiwan menguat 2,53 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, penguatan IHSG didorong harga komoditas, bursa saham global dan termasuk penguatan nilai tukar rupiah.

“Sentimen itu didukung dari hasil kesepakatan 90 hari gencatan senjata dalam sengketa perdagangan antara AS dengan China di KTT G20 di Argentina,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, untuk sentimen domestik, terlihat data inflasi yang di atas harapan pelaku pasar juga memberikan sentimen positif baik terhadap IHSG dan rupiah. BPS melaporkan inflasi November 2018 sebesar 0,27 persen.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Video Populer Bisnis

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Bursa Global Menghijau, IHSG Naik 62,19 Poin
Artikel Selanjutnya
Rupiah Tembus 14.248 per Dolar AS, IHSG Menguat 1,33 Persen