Sukses

Tengok Perjuangan dan Harta Wanita Terkaya di AS

Liputan6.com, Jakarta - Kegigihan disertai kerja keras mampu mendorong siapapun menyingkirkan segala hambatan demi mencapai cita-citanya.

Itu pula yang tampaknya berlaku di kehidupan Diane Hendricks, yang kini menjadi wanita terkaya di Amerika berkat bisnisnya sendiri dengan total kekayaan di atas USD 6 miliar atau sekitar Rp 90,92 triliun (asumsi kurs Rp 15.153 per dolar AS).

Melansir laman Time.com, Sabtu (6/10/2018),  meski lahir di tengah keluarga peternak, Hendricks kecil selalu bermimpi menjadi seorang pengusaha.

Mimpinya memang pernah meredup kala Hendricks mengandung anak pertamanya di usia yang masih belia. Namun, di usianya yang kini menginjak 71 tahun Hendricks telah berhasil mewujudkan mimpinya dan menjadi wanita terkaya di Amerika Serikat.

Jalannya menjadi salah satu wanita terkaya di dunia memang tak mudah. Bayangkan saja, ia merupakan anak peternak yang kini menguasai perusahaan bernilai lebih dari USD 1 miliar.

Hendricks mendirikan perusahaan ABC Supply dengan suami keduanya, Ken Hendrics pada 1982. Sejak didirikan, perusahaan tersebut terus menggelembung menjadi distributor atap terbesar di seluruh Amerika Serikat.

Setelah suaminya meninggal pada 2007, Hendricks memimpin perusahaan tersebut sendirian, termasuk melihat potensi-potensi dilakukannya sejumlah akuisisi. Salah satu proses akuisisi terpenting adalah pembelian L&W Supply senilai USD 670 juta pada 2016. Perusahaan tersebut tumbuh dari bisnis senilai USD 3 miliar menjadi senilai USD 9 miliar.

Hendricks juga menggunakan pendapatannya dalam berbagai cara seperti menyediakan bantuan ekonomi untuk Beloit, Wisconsin. ABC Supply pertama kali didirikan, memproduseri berbagai film Hollywood, dan mendonasikan lebih dari USD 1 juta untuk Republikan.

Dengan total kekayaan mencapai USD 6,8 miliar, wanita terkaya berusia 71 tahun ini baru saja menduduki peringkat ke-76 dalam daftar orang terkaya di Amerika Serikat yang dirilis Forbes.

Jauh sebelum menjadi sekaya sekarang, Hendricks hidup di tengah keluarga peternak dan memiliki 8 saudara perempuan. Dia mengaku hidupnya sangat menyenangkan. Meski begitu, ia selalu bercita-cita menjadi pebisnis.

Untuk mewujudkannya, ia harus mengatasi sejumlah kendala. Di usia 17 tahun, dia sudah menikah dan memiliki seorang anak. Kehamilannya di usia remaja membuatnya kesulitan melanjutkan pendidikan.

"Itu tidak menghentikan saya untuk meraih mimpi saya. Kenyataannya, saya justru menjadi lebih fokus pada apa yang ingin saya capai," ujar dia.

 

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Dia lantas pindah ke Janesville, Wis., di mana suami pertamanya bekerja. Dia juga bekerja sebagai sales rumah baru. Tak lama setelah itu, ia belajar agar mendapat lisensi resmi sebagai pialang properti.

"Saya tahu harus cari cara untuk membiayai hidup sendiri. Saya selalu yakin bisa membesarkan anak sendiri. Lalu saya layangkan permohonan bercerai seminggu setelah menginjak usia 21 tahun," kisahnya.

Tak perlu waktu lama, hatinya berlabuh pada Ken Hendricks, seorang kontraktor pembuatan atap. Keduanya lantas menjalankan bisnis bersama. Dalam tiga tahun, mereka membeli 100 rumah di Beloit dan merenovasinya.

Beberapa tahun kemudian, pasangan tersebut membuka toko ABC Supply pertama di Beloit dengan bantuan investasi properti keduanya serta dari perusahaan real estate Ken lainnya.

Dari sana bisnisnya terus berkembang hingga pada 2001, pasangan tersebut membentuk Hendricks Holding Company yang kini memiliki portofolio yang luas termasuk perusahaan industri, logistik, layanan kesehatan, properti dan banyak lagi.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Live Streaming EMTEK GOES TO CAMPUS 2018 di Surabaya

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Jurnalis The Washington Post 'Hilang' di Istanbul, Arab Saudi Diduga Jadi Dalang
Artikel Selanjutnya
6-10-1961: Presiden AS Kennedy Perintahkan Pembangunan 'Bunker Kiamat'