Sukses

IHSG Meroket 93,59 Poin Berkat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menguat pada awal pekan ini. Bahkan IHSG tembus posisi 6.100.

Pada penutupan perdagangan saham, Senin (6/8/2018), IHSG naik 93,59 poin atau 1,56 persen ke posisi 6.101,13. Indeks saham LQ45 menanjak 2,21 persen ke posisi 971,20. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Sebanyak 231 saham menghijau sehingga mengangkat IHSG. 161 saham melemah dan 119 saham diam di tempat. Pada awal pekan ini, IHSG sempat berada di posisi tertinggi 6.102,53 dan terendah 6.025,42.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 406.233 kali dengan volume perdagangan saham 8,9 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 7,8 triliun. Investor asing beli saham Rp 377,02 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat di kisaran Rp 14.463.

Sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham pertanian turun 0,24 persen. Sektor saham aneka industri naik 3,55 persen, dan catatkan penguatan terbesar.

Disusul sektor saham infrastruktur mendaki 3,49 persen, dan sektor saham keuangan menanjak 1,73 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan antara lain saham INTD naik 22,13 persen ke posisi 298 per saham, saham FREN melonjak  11,72 persen ke posisi 143 per saham, dan saham BKSL mendaki 10 persen ke posisi 143 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham PUDP turun 21,81 persen ke posisi 380 per saham, saham IIKP susut 16,17 persen ke posisi 280 per saham, dan saham GLOB tergelincir 8,65 persen ke posisi 190 per saham.

Bursa Asia pun bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,52 persen, indeks saham Singapura menguat 0,53 persen dan indeks saham Taiwan mendaki 0,11 persen.

Sementara itu, indeks saham Korea Selatan Kospi susut 0,05 persen, indeks saham Jepang Nikkei turun 0,08 persen, indeks saham Thailand melemah 0,55 persen dan indeks saham Shanghai tergelincir 1,29 persen.

IHSG menguat ini di tengah rilis data ekonomi tumbuh 5,27 persen pada kuartal II 2018. Angka itu mengalahkan prediksi ekonom sebesar 5,1 persen.

Adapun yang menjadi sorotan antara lain konsumsi rumah tangga naik 5,14 persen secara year on year (YoY). Investasi naik 5,87 persen pada kuartal II 2018. Ini cenderung melambat karena kontraksi dalam belanja modal pemerintah pada kuartal I 2018.

Selain itu, belanja pemerintah naik 5,26 persen pada kuartal II 2018. Ini didorong peningkatan bantuan sosial, dana desa dan konsumsi personil.

“Kami yakin setiap upaya meningkatkan pertumbuhan pada semester II 2018 ini harus difokuskan untuk memacu konsumsi rumah tangga dari pada terlalu andalkan investasi yang hasilkan impor,” tulis PT Ashmore Assets Management Indonesia.

Menurut Ashmore, hal terpenting meningkatkan daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah yang memiliki tingkat konsumsi marjinal yang tinggi. Ini dapat dilakukan dengan memastikan pencairan dana bantuan sosial dan transfer daerah yang efisien.

 

2 dari 2 halaman

IHSG Naik pada Sesi I

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di zona hijau pada sesi pertama perdagangan saham awal pekan ini. IHSG mampu menguat terjadi di tengah rilis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 sebesar 5,2 persen.

Pada penutupan sesi pertama perdagangan saham, Senin (6/8/2018), IHSG menguat 76,81 poin atau 1,28 persen ke posisi 6.084,35. Indeks saham LQ45 menguat 1,82 persen ke posisi 967,47. Seluruh indeks saham acuan kompak menghijau.

Sebanyak 224 saham menguat sehingga mengangkat IHSG ke zona hijau. Sedangkan 138 saham melemah dan 119 saham diam di tempat.

Pada sesi pertama perdagangan saham, IHSG berada di posisi tertinggi 6.092,97 dan terendah 6.025,42. Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 231.514 kali dengan volume perdagangan 5,1 miliar saham.

Nilai transaksi harian saham RP 3,7 triliun. Investor asing beli saham Rp 156,37 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran 14.466.

Secara sektoral, 10 sektor saham kompak menguat. Sektor saham aneka industri naik 2,96 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham infrastruktur mendaki 2,3 persen dan sektor saham konstruksi menanjak 1,61 persen.

Saham-saham catatkan penguatan terbesar antara lain saham INTD naik 22,12 persen ke posisi 298 per saham, saham MFMI melonjak 17,57 persen ke posisi 870 dan saham FREN menanjak 10,94 persen ke posisi 142 per saham.

Sedangkan saham-saham tertekan antara lain saham PUDP susut 24,69 persen ke posisi 366 per saham, saham TRIO tergelincir 9,48 persen ke posisi 525 per saham, dan saham MDKI susut 8,57 persen ke posisi 320 per saham.

Bursa Asia pun bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,42 persen, indeks saham Thailand menguat 0,03 persen, indeks saham Singapura menanjak 0,91 persen dan indeks saham Taiwan mendaki 0,04 persen.

Sementara itu, indeks saham Korea Selatan Kospi melemah 0,02 persen dan indeks saham Shanghai turun 0,92 persen.

Penguatan IHSG juga dipengaruhi rilis data ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2018.

"Di atas harapan soalnya GDP growth," ujar VP Sales and Marketing PT Ashmore Assets Management Indonesia, Angganata Sebastian.

Ia menuturkan, data rilis ekonomi kuartal II 2018 tumbuh di atas harapan menjadi katalis positif untuk IHSG. Berdasarkan survei ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 sebesar 5,12 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan periode sama tahun lalu hanya 5,01 persen.

"Pertumbuhan ini cukup bagus. Dan pendorong utamanya karena di triwulan II ini ada momen Ramadan dan Lebaran," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Senin 6 Agustus 2018.

Dia menjelaskan selain lebih tinggi jika dibandingkan periode sama 2017, angka ini juga lebih tinggi dibandigkan pertmbuhan ekonomi triwulan I 2018 yang saat itu 5,06 persen.

"Memang ini cukup bagus, namun kalau di 2018 ditargetkan sebesar 5,4 persen, ini masih belum capai target," tambah dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Papua dan Maluku Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi RI
Artikel Selanjutnya
Penjualan Kendaraan Bermotor Melonjak pada Kuartal II 2018