Sukses

6 Fakta Fenomena Karoshi di Jepang, Kerja Tanpa Cuti Sampai Mati

Liputan6.com, Tokyo - Citra Jepang sebagai negara yang memiliki penduduk gila kerja sepertinya benar adanya. Selain memiliki watak tak mudah menyerah, penduduk negara ini juga rela untuk menghabiskan waktunya untuk bekerja bahkan hingga menyebabkan kematian. Fenomena banyaknya pekerja Jepang yang meninggal dunia karena kelelahan bekerja ini disebut dengan Karoshi.

Fenomena karoshi di Jepang menjadi isu yang sangat hangat dalam beberapa tahun belakangan. Pemerintah di Jepang pun melakukan berbagai cara agar hal ini tidak terus terjadi di negara matahari terbit tersebut.

Berikut 6 hal tentang Karoshi dilansir dari BBC.com, Rabu (16/8/2017):

1. Pertama kali terjadi pada 1969

Karoshi pertama kali terjadi pada tahun 1969. Waktu itu, seorang pria berusia 29 tahun, sudah menikah, bekerja di departemen pengiriman surat kabar terbesar di Jepang. Dia meninggal karena mendadak terserang stroke di kantornya. The Workers Compensation Bureau of Japan’s Ministry of Labor menganggap bahwa kerja berlebihan adalah penyebab kematian pria tersebut.

2. Takut dipecat

Banyak hal yang menyebabkan para pekerja di Jepang rela bekerja sangat keras. Mereka biasanya takut dipecat kalau bekerja dengan tidak maksimal.

Alhasil para pekerja pun bekerja dengan lebih agar terlihat produktif di depan atasannya. Dengan lebih produktif mereka berharap bisa naik gaji atau menapaki jenjang karier lebih tinggi. Sayangnya, banyak yang tidak peduli lagi dengan faktor kesehatan.

Lebih parah lai, alih-alih ingin terlihat lebih maju dibanding pegawai lain, terkadang apa yang dilakukan pegawai jepang ini justru sia-sia. Pihak perusahaan seringkali tidak memberi imbalan sesuai pengorbanan para pegawai. Ada yang rela melakukan lembur meski pada akhirnya tidak dibayar.

3. Penyebab meninggal karena sakit

Dalam tahun-tahun berikutnya, karoshi menjadi fenomena yang semakin dikenal di Jepang, terutama di kalangan pekerja kerah putih atau yang dikenal "salary men". Penyebab dari karoshi biasanya serangan jantung dan stroke.

Simak video menarik di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Jumlah korban

Fenomena Karoshi di Jepang

4. Jumlah korban

Menurut data yang disajikan oleh Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang di tahun 2015 terungkap bahwa, jumlah kematian karoshi di Jepang dalam 1 tahun terakhir mencapai 1.456 kasus. Angka ini mencatatkan rekor tertinggi di Jepang.

Kasus-kasus kematian karoshi itu mayoritas dialami bekerja yang bekerja di bidang-bidang seperti teknik, transportasi, perawatan kesehatan dan pelayanan sosial yang memang sejak lama kekurangan tenaga kerja.

5. Bisa menuntut uang ganti rugi

Penduduk Jepang yang memiliki anggota keluarga yang meninggal karena Karoshi, bisa mengajukan ganti rugi pada perusahaan tempat orang tersebut bekerja. Pemerintah Jepang sudah menetapkan parameter untuk penduduk yang meninggal karena karoshi.

Dalam kasus bunuh diri, seseorang bisa mengajukan klaim kompensasi karoshi jika korban bekerja sedikitnya 160 jam lembur dalam satu bulan atau lebih dari 100 jam lembur tiga bulan berturut-turut.

Pada Desember 2015, pengelola Watami, sebuah jaringan restoran ternama di Jepang, harus membayar kompensasi sebesar 130 juta yen untuk keluarga Mina Mori (26) yang bunuh diri karena terlalu banyak bekerja lembur.

Mori bunuh diri pada Juni 2008, hanya dua bulan setelah bekerja di Watami. Dalam masa kerja yang singkat itu, dia dipaksa bekerja panjang sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk istirahat.

3 dari 3 halaman

Selanjutnya

6. Upaya pemerintah

Untuk mengatasi permasalahan mengerikan seperti ini, pemerintah Jepang memberlakukan pembatasan lembur. Biasanya dalam satu bulan hanya boleh sampai maksimal 30 jam saja.

Selain pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan besar otomotif di Jepang juga mulai memperhatikan kesehatan dari para pegawainya. Mereka menyuruh pekerja pulang setelah pukul 19.00 atau pulang lebih awal jika memiliki anak kecil di rumah. Strategi ini terbukti menurunkan angka karoshi meski tidak signifikan.