Sukses

Keuntungan Jual BBM di Wilayah Terpencil Bakal Lebih Besar

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa keuntungan menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah terpencil akan lebih besar jika dibanding dengan di kota. Langkah tersebut untuk meningkatkan gairah pengusaha untuk membangun fasilitas pengisian BBM resmi atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Wakil Direktur Utama Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, omzet penjualan BBM di daerah terpencil sangat kecil. Oleh karena itu, tak banyak pengusaha yang tertarik untuk membangun fasilitas penyaluran BBM resmi. Para pengusaha lebih memilih untuk membangun fasilitas penyaluran BBM di kota-kota besar. 

Untuk mengatasi hal tersebut, Pertamina bakal memberikan insentif bagi para pengusaha yang tertarik untuk mendirikan SPBU di daerah terpencil. Insentif tersdebut berupa keuntungan atau margin harga yang lebih besar jika dibandingkan dengan di kota.

"Margin yang diterima pengusaha di wilayah terpencil akan berbeda dengan margin yang akan diterima oleh pengusaha di kota." kata Bambang, di Jakarta, Rabu (23/11/2016).

Untuk menjalankan program BBM Satu Harga di seluruh wilayah Indonesia, Pertamina akan memberikan keuntungan penjualan BBM di wilayah terpencil lebih besar ketimbang wilayah perkotaan. Menurut Bambang, margin harga BBM di daerah terpencil bisa mencapai sekitar Rp 1.100 per liter, sedangkan wilayah perkotaan di kisaran Rp 200 per liter.

"Di Jawa omzet per hari minimum 15 ton. Kalau di daerah terpencil cuma 2 ton dalam satu haru. Kalau bikin mau dapat berapa? Kalau pakai untung Rp 200 dan ini 15 juta ton dikali Rp 200 dapatnya Rp 30 juta. Ya kalau 2 ton kali Rp 200 ya cuma Rp 400 ribu. Jadi tidak ada yang mau," papar dia.

Meski pengusaha mendapat keuntungan yang lebih besar, tetapi tidak mempengaruhi besaran harga BBM yang dijual masih mengacu pada harga resmi yang ditetapkan Pemerintah. Karena Pertamina akan menomboki besaran keuntungan tersebut.

"Itu untuk daerah remote yang omzet sangat kecil. Itu Pertamina memberikan margin lebih. Tetapi harga tetap. Artinya, margin lebih akan berarti mengurangi penerimaan. Ini akan disesuaikan secara ekonomi," tutup Bambang. (Pew/Gdn)