Sukses

Pala, Lada Sampai Kayu Manis RI Ditolak Uni Eropa

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pertumbuhan ekspor komoditas spices, seperti pala, lada, dan kayu manis selama lima tahun terakhir ‎sebesar 10 persen, produk pertanian asal Indonesia ini kerap ditolak Uni Eropa. Alasannya karena tercemar aflatoxin atau racun yang dihasilkan oleh jamur dan dapat menyebabkan kanker hati.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag)‎, Nuz Nuzuliah Ishak, mengungkapkan, ekspor hasil pertanian pala, kayu manis dan lada Indonesia pernah dikembalikan atau ditolak Uni Eropa.

"Pala, lada dan kayu manis kita ditolak pasar Eropa karena mengandung aflatoxin. Hanya karena itu. Pernah juga terjadi penolakan untuk ekspor lada Indonesia di Italia, tapi kita bisa tangani," ucap dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Senin (27/4/2015).

Dari laporan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussel, Nuz menyebut, sudah terjadi 12 kali penolakan ekspor buah pala Indonesia sepanjang 2014 hingga Februari tahun ini ke Uni Eropa karena aflatoxin.

"Penolakan terhadap lada dan kayu manis ada, tapi tidak terlampau sering," tambahnya.

Jika dilihat catatan ekspor, kata dia, tren pertumbuhan pengiriman produk spices pala, lada dan kayu manis Indonesia meningkat 10 persen selama periode 2010-2014. ‎Nuz pun mengaku, nilai ekspor produk spices pada tahun lalu mengalami kenaikan menjadi US$ 602 juta dari realisasi US$ 417 juta di 2010.

"Produk spices Indonesia diekspor ke Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Amerika Utara. Untuk ekspor rempah-rempah (food ingredient) paling banyak dikirim ke Amerika," jelas Nuz.

Dia menuturkan, sebenarnya permintaan produk spices Indonesia ‎ke pasar Uni Eropa sangat besar seiring peningkatan jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan ini pada 2016. Permintaan terbesar pasar Uni Eropa adalah hasil perkebunan pala.

"Enggak semua produk spices kita ditolak Uni Eropa. Jadi di beberapa negara Uni Eropa, pala, kayu manis, atau lada kita ada yang lolos. ‎Demand konsumen Uni Eropa juga kian meningkat, terutama permintaan produk pala," tegas Nuz. (Fik/Ndw)