Sukses

Brasil & Australia Rugi Jika Stop Dagang dengan RI

Liputan6.com, Jakarta - Sikap pemerintah Brasil dan Australia yang memprotes Indonesia terkait proses hukuman mati bagi warga negara asal kedua negara tersebut dinilai tidak akan berpengaruh terhadap kerja sama perdagangan dan bisnis.

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel meyakini, kerja sama perdagangan dan bisnis Indonesia dengan Brasil dan Australia akan tetap berjalan dengan baik meski muncul protes dari pemerintah kedua negara tersebut.

"Kami bisnis tetap jalan, tentu kami lihat apa yang mereka lakukan untuk Indonesia," ujarnya di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (25/2/2015) malam.

Bahkan menurut Rachmat, jika Brasil maupun Australia memutuskan kerja sama perdagangan dengan Indonesia, maka kedua negara tersebut yang akan merugi. Pasalnya selama ini produk-produk kedua negara tersebut banyak masuk ke Indonesia.

"Saya kira kalau mereka stop, mereka yang rugi," tandasnya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada tahun lalu Brazil mendominasi perdagangan ke Indonesia sebesar US$ 2,55 miliar lebih tinggi daripada ekspor Indonesia ke Brazil yang hanya sebesar US$ 1,51 miliar.

Begitu pun dengan Australia. Ekspor dari negeri kangguru tersebut ke Indonesia mencapai US$ 5,65 miliar atau lebih tinggi sekitar 12 persen dari ekspor Indonesia ke Australia yang hanya sebesar US$ 5,03 miliar.

Para pengusaha pun juga mengatakan hal yang sama. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto mengatakan, pemerintah seharusnya tidak perlu khawatir jika Brasil maupun Australia memutuskan hubungan bilateralnya dengan Indonesia.

"Kita seharusnya tidak perlu khawatir. Sekarang Anda lihat, siapa yang neraca perdagangannya defisit? Kan kita, karena perdagangan mereka banyak masuk ke kita," ujar Suryo di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (25/2/2015).

Meski dinilai akan menganggu hubungan bilateral antara Indonesia dengan Brasil dan Australia, namun Suryo menilai posisi Indonesia saat ini bisa dibilang di atas angin karena tidak tergantung pada kedua negara tersebut.

"Kalau produk dia tidak masuk ke sini, ya kita cari saja alternatif lain. Yang penting pemerintah menjaga agar jangan sampai terjadi inflasi," kata Suryo. (Dny/Gdn)