Sukses

Jokowi Presiden, RI Bisa Jadi Raja Furnitur?

Liputan6.com, Bogor - Pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Cahaya Sakti Furintraco (Olympic), Au Bintoro memperkirakan Indonesia mampu menjadi raja furnitur di dunia apabila dipimpin oleh Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Kalau Jokowi terpilih, kita bisa jadi raja furnitur di dunia. Karena kita punya sumber daya alam, sumber daya manusia dan Jokowi punya latar belakang pengusaha furnitur," kata dia kepada Liputan6.com, Bogor, seperti ditulis Minggu (29/6/2014).

Au menilai, Indonesia berpotensi menjajaki lebih dalam ekspor furnitur hampir ke seluruh negara, termasuk Eropa, Jepang dan sebagainya. Namun produk furnitur negara ini justru akan terjegal jika masuk ke beberapa negara.

"Seluruh negara bagus dimasuki furnitur Indonesia, kecuali China, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Barang kita sulit masuk ke sana karena mereka sudah punya (furnitur) sendiri. Apalagi Vietnam, industrinya sedang bertumbuh," tutur Au.   

Kata dia, persaingan paling sengit untuk produk furnitur antara Indonesia dengan Malaysia dan Thailand. Pasalnya, kedua negara itu mempunyai sumber daya alam yang sama besar dengan Indonesia.

"Jarak mereka dengan kita dekat, resources juga banyak sehingga harga produk mereka bisa lebih kompetitif. Sedangkan dengan China nggak perlu takut, karena dia punya tenaga kerja dan biaya produksi sudah lebih mahal dibanding kita," jelas Au.

Meski begitu, dia berharap, agar pemerintah mengantisipasi lonjakan upah minimum yang kebablasan. Apalagi setiap daerah memiliki upah minimum yang berbeda.

"Masa UMR naik sampai 70 persen dalam setahun, itu kan konyol namanya. Kalau cuma 20-25 persen masih wajar. Di negara lain biarpun upah tinggi, tapi merata. Di kita kan nggak," tegas Au.

Selain itu, Au mendesak pemerintah untuk membangun infrastruktur memadai bagi para pengusaha lokal, termasuk yang melakoni bisnis furnitur.

"Kalau industri furnitur di China terkluster dalam satu kawasan, sehingga kalau butuh apa-apa cepat. Sedangkan di sini nyari baut saja butuh waktu satu hari. Ini kan bikin tambah kerjaan. Infrastruktur belum menunjang," pungkas dia.(Fik/Ahm)