Sukses

Kilas Balik Peraih Emas Pertama Indonesia, Awal Kesuksesan #KontingenKebaikan di Asian Games 2018

Liputan6.com, Jakarta Perolehan medali emas Indonesia di Asian Games 2018 begitu sensasional dan diluar perkiraan banyak orang, termasuk pemerintah Indonesia. Awalnya, kontingen Indonesia ditargetnya meraih 16 medali emas dan masuk 10 besar klasemen akhir ajang pesta olahraga terbesar Asia, Asian Games 2018.

Kenyataan di lapangan jauh berbeda, malahan kemungkinan untuk meraih dua kali lipat dari target bisa terjadi.  Hingga pukul 19.00 Wib, Rabu (29/8), Indonesia mengumpulkan 31 medali emas, 22 medali perak, dan 36 medali perunggu. Indonesia bahkan mantap berada di posisi 4 klasemen sementara Asian Games 2018, di bawah China, Jepang, dan Korea.

Tim Pencak Silat jadi bintang kontingen Indonesia dengan perolehan medali emas paling banyak yakni 14 emas. Cabang ini pun jadi pusat perhatian dan buah bibir masyarakat Indonesia dan dunia tentunya. Pemberitaannya pun mengalahkan topik tim bulutangkis dan sepakbola yang notabene olahraga paling banyak penggemarnya.

Dari sekian cabor yang berkontibusi terhadap perolehan medali emas kontingen Indonesia, tentu kita tidak boleh melupakan penyumbang emas pertama yang menjadi awal semangat untuk meraih medali emas sebanyak-banyaknya(selanjutnya) yakni Taekwondo dengan atlet Defia Rosmaniar.

Atlet Taekwondo yang turun di nomor individu poomsae putri ini berhasil meraih emas setelah mengalahkan wakil Iran, Salahshouri Marjan dengan skor 8.690 - 8.470 pada duel final di Jakarta Convention Center, Jumat (19/8). Kemenangan Defia juga menjadi sejarah bagi cabor Taekwondo Indonesia. Tercatat, Indonesia sudah memiliki 10 cabang peraih emas di pentas Asian Games. Sebelumnya, ada 9 cabang yang sudah merasakan kejayaan, yakni atletik, tinju, balap sepeda, karate, perahu naga, layar, bowling, wushu dan menyelam.

Bagi Defia, medali emas di nomor poomsae tunggal putri menjadi kado dari kerja keras dan pengorbanan yang telah dilakukan sepanjang masa persiapan Asian Games 2018. Gadis kelahiran Bogor itu terpaksa melewatkan pemakaman sang ayah di Indonesia, karena fokus berlatih di Korea Selatan pada Maret - Juni 2018.

Kini, seluruh perjuangan berat yang dilakoni Defia berbuah manis. Satu keping emas dari perempuan tangguh berusia 23 tahun tersebut membuat Indonesia bangga dan menjadi warisan olahraga Indonesia yang tak ternilai. Ayo dukung terus atlet-atlet Indonesia berprestasi dan jadilah bagian dari #KontingenKebaikan yang digagas AQUA. ini diganti karna udah lewat lebih ke trima kasih kepada orang dibalik kesuksesan tersebut yang merupakan kontingen kebaikan seperti pelatih keluara pemenang dll, intinya yang memberi dukungan dibalik kemenangan hal itu disebut kontingen kebaikan baru masuk ke aktivitas AQUA dan kontigen kebaikan…

#KontingenKebaikan, AQUA merupakan gerakan untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia melakukan tindakan kebaikan yang menjadi warisan nilai-nilai budaya Indonesia seperti ramah tamah, gotong royong dan tolong menolong, sehingga dapat mengharumkan nama bangsa di mata dunia sebagai tuan rumah yang baik.

Selama penyelenggaraan Asian Games 2018, #KontingenKebaikan akan melakukan berbagai aktivitas di empat area penyelenggaraan di Jakarta, yaitu Jakarta (GBK, Kemayoran), Bogor (Stadion Pakan Sari), dan Palembang (Jakabaring).  

Di setiap lokasi tersebut, akan ada gerai Danone-AQUA dimana di tempat tersebut #KontingenKebaikan melakukan kegiatan seperti edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah serta daur ulang sampah. Asian Games 2018 tidak melulu soal menang-kalah dan pertandingan. Bagi Indonesia sendiri, ini adalah kesempatan untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah tuan rumah yang baik.

 

 

(*)