Kisah Jenderal dan Saudagar Mencapai Puncak

Duet SBY-JK dinyatakan oleh KPU sebagai pemenang pilpres putaran II. Mantan jenderal dan saudagar itu berada di puncak politik negeri. Pelantikan Presiden dan Wapres RI baru ini tinggal menunggu hari.

oleh Liputan6Diterbitkan 06 Oktober 2004, 09:33 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Nasib Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla bak bintang bersinar tinggi jauh di angkasa. Senin (4/10), duet calon presiden dan wakil presiden itu ditetapkan Komisi Pemilihan Umum sebagai pemenang pemilihan presiden putaran kedua. Sejatinya, posisi RI-1 dan RI-2 telah diduduki kedua orang itu.

Orang kini memanggilnya SBY. Putra kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949 adalah buah pernikahan pasangan R. Sukoci dan Siti Habibah. Saat menempuh pendidikan di Akademi Militer, SBY berkenalan dengan Kristiani Herrawati, putri Letnan Jenderal Purnawirawan TNI Sarwo Edhie Wibowo. Saat itu, Sarwo Edhie menjabat Gubernur Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Perkenalan itu berlanjut ke jenjang pernikahan. Kini, mereka dikarunia dua orang putra, Agus Harimurti lulusan terbaik AKABRI 2000 dan Edhie Baskoro yang kini sekolah di Australia.

Karier politik SBY dimulai kala menjabat Ketua Fraksi ABRI MPR dalam Sidang Istimewa MPR 1998. Pada pemerintahaan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dia dipercaya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi. Gus Dur lalu meminta SBY menggantikan posisi Wiranto sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan. Namun, dia mengundurkan diri dari posisi itu beberapa saat sebelum Gus Dur menerbitkan Dekrit Presiden tentang Pembubaran DPR pada 2001.

SBY kembali masuk dalam Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Sukarnoputri. Dia menjadi andalan untuk menangani masalah-masalah penting. Namun belakangan, ikatan itu kendur. SBY yang disebut-sebut bakal menjadi calon presiden membuat Mega gusar. Puncaknya, SBY keluar dari kabinet.

Keinginan SBY untuk maju dalam kompetisi merebut kursi kepresidenan mempertemukannya dengan Jusuf Kalla yang saat itu masih menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Gotong Royong. Jusuf Kalla lahir di Kota Watampone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942. Ayahnya Haji Kalla adalah saudagar kaya dan ternama di Sulsel. Meski begitu, jangan berpikir Jusuf atau lebih akrab dipanggil Kak Ucu hidup mewah karena warisan orang tua.

Menjelang peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, perusahaan NV Haji Kalla yang diwarisi Jusuf nyaris bangkrut. Kondisi ini memacunya untuk bekerja keras melanjutkan usaha itu. Kini, NV Haji Kalla berubah menjadi perusahaan yang menggurita di kawasan timur Indonesia. Mulai dari perdagangan, perhotelan hingga industri digeluri perusahaan ini. Tidak hanya di timur Indonesia, kawasan barat pun dirambah. Di bawah bendera Bukaka, Jusuf mengembangkan usaha bidang konstruksi.

Kalla mulai masuk pemerintahan ketika Gus Dur menunjuknya sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Ia kemudian dipecat dengan dalih melakukan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sampai kini tidak terbukti. Namun, kartu Jusuf hidup lagi ketika Megawati menjadi Presiden. Dia dipilih sebagai Menko Kesra. Nama kakek dari belasan cucu ini meroket saat berada di posisi itu. Dia berperan penting untuk mendamaikan konflik di Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon, Maluku, yang dikenal dengan kesepakatan Malino.

Suami dari Mufidah ini sempat maju dalam Konvensi Partai Golongan Karya untuk menyaring calon presiden dari partai itu. Namun, belakangan ayah lima anak itu memilih mundur. Dia juga sempat digadang-gadang sebagai pendamping Megawati untuk posisi cawapres. Tapi, tawaran yang dianggap paling realistis sekaligus prospektif datang dari koleganya sesama menko yakni SBY. Jusuf pun putar haluan menjadi sekondan mantan Kepala Staf Teritorial TNI itu. Jadilah keduanya bintang pada pilpres I dan II. Kini bintang mereka bersinar tinggi di puncak kekuasaan negeri.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya