Rupiah Melejit ke 18.082 Usai Dolar AS Tertekan

Analis memprediksi rupiah masih berpeluang menguat terhadap dolar AS tetapi pergerakannya masih bergejolak.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 November 2026, 19:17 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada penutupan perdagangan Kamis, (5/11/2026). Penguatan rupiah ini didukung dolar AS yang melemah.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 86 poin atau 0,47% menjadi 18.082 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.168 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada justru bergerak menguat ke level 18.094 per dolar AS dari sebelumnya 18.140 per dolar AS

“Penguatan ini terutama didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global yang memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik,” ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa.

Dolar AS merosot setelah pemilihan paruh waktu AS berdampak terhadap sentimen investor. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi relatif kurang menarik.

"Kondisi ini memberikan dukungan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," kata dia.

Di sisi lain, Amru menilai, harga minyak dunia yang melemah turut menjadi sentimen positif karena dapat mengurangi tekanan biaya impor energi Indonesia.

Kendati demikian, sejumlah data ekonomi AS dinyatakan masih menunjukkan kondisi yang cukup kuat.

Laporan ADP mencatat penambahan 86 ribu tenaga kerja swasta pada Oktober, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 69 ribu. Aktivitas sektor jasa AS juga masih berada dalam fase ekspansi, dengan ISM Services PMI di level 54,5.

Perkembangan ini dinilai membuat pasar tetap mencermati arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) ke depan.

 

Rupiah Berpeluang Menguat

Petugas menunjukkan dolar AS dan rupiah (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Melihat perkembangan tersebut, dia menilai, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan, meskipun pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dari perkiraan dan pelemahan dolar AS menjadi faktor yang mendukung rupiah.

Adapun sentimen positif dari domestik dipengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang mencapai 5,47% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,29% dan juga melampaui perkiraan pasar.

"Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia masih cukup kuat, terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor. Kondisi ini turut memberikan kepercayaan bagi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia," ujar Amru.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya