Menyapa Pagi Lewat Sepiring Rebusan Murah Pengganjal Perut

Mulai Rp 10.000-an, jajanan gerobak kukusan kini jadi tren sarapan sehat warga Jakarta. Simak kisah sukses usahanya.

oleh Dreyandra Puteri ValzabilbinaDiterbitkan 05 November 2026, 21:00 WIB
Jualan sarapan kukusan atau rebusan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Foto: Dreyandra Puteri Valzabilbina

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas jalanan Jakarta, sebuah gerobak sederhana kerap mencuri perhatian. Di atasnya, tersaji aneka makanan kukusan yang tertata rapi dengan warna-warni alami: jagung kuning, ubi ungu, singkong putih, labu,hingga telur rebus yang siap menggugah selera.

Uap panas yang membubung dari wadah pemanas menjadi penanda kesegaran bahan yang siap disantap. Tanpa kemasan mewah atau penyajian berlebihan, kuliner ini mengandalkan cita rasa alami dan kesegaran bahan pangan lokal.

Bagi warga kota, gerobak rebusan bukan sekadar tempat membeli jajanan pengganjal perut. Lebih dari itu, kuliner tradisional ini menawarkan pilihan sarapan yang mengenyangkan, relatif terjangkau, sekaligus mendukung pola hidup sehat. Di balik kesederhanaannya, tersimpan peluang bisnis yang menjanjikan sekaligus upaya melestarikan kebiasaan mengonsumsi pangan lokal.

Alternatif Praktis Rp 10.000-an di Jakarta Pusat

Pemandangan ini salah satunya terlihat di kawasan Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Di tengah kesibukan warga pada pagi hari, terselip gerobak penjual aneka makanan kukusan yang menawarkan menu beragam.

Pilihan yang tersedia mulai dari jagung, singkong, ubi ungu, ubi oranye, edamame, pisang, kacang-kacangan, telur,kentang, hingga labu. Harganya pun sangat ramah kantong, mulai dari Rp 2.000 per potong.

Cukup dengan merogoh kocek sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000, pembeli sudah bisa membawa pulang satu paket sarapan padat gizi yang bervariasi—menjadikannya solusi ekonomis bagi masyarakat pekerja.

Salah satu pelaku usaha yang menekuni bisnis ini adalah Baby (34), pemilik lapak Kookusan. Ia telah berjualan di kawasan Percetakan Negara selama kurang lebih satu tahun. Saban hari, Baby siap melayani pembeli sejak pukul 05.30 WIB.

"Setahun lah, kurang lebih," tutur Baby saat ditemui tim Liputan6.com di lapaknya, Kamis (5/11/2026). Jika kondisi sedang ramai, seluruh dagangannya bahkan ludes terjual pada pukul 08.00 WIB.

Dalam menjalankan usahanya, Baby menyiapkan seluruh kebutuhan secara mandiri, mulai dari belanja bahan segar hingga meracik bumbu pelengkap. Pelanggannya pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda usia 20-an hingga para orang tua.

 

Bergeser dari Gorengan ke Menu Kukusan

Jualan sarapan kukusan atau rebusan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Foto: Dreyandra Puteri Valzabilbina

Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan perlahan ikut mengubah kebiasaan memilih sarapan. Jika sebelumnya nasi uduk, gorengan, atau makanan cepat saji menjadi pilihan utama, kini menu kukusan makin dilirik sebagai alternatif yang lebih ramah bagi tubuh.

Yanti, salah seorang pelanggan setia, mengaku mulai rutin mengonsumsi makanan kukusan dalam dua bulan terakhir demi mengurangi asupan gorengan dan karbohidrat berlebih.

"Makanan kukusan terasa lebih sehat sekaligus mengenyangkan dibanding pilihan lain. Apalagi sekarang makin mudah ditemukan penjualnya," ungkap Yanti.

Dengan modal Rp 10.000 hingga Rp 15.000, ia biasanya memilih kombinasi jagung rebus, telur, dan ubi untuk menemani aktivitas paginya.

 

Beradaptasi Lewat Pre-Order dan Media Sosial

Sosial Media Instagram Kookusan.id, penjual Sarapan Kukusan atau Rebusan

Menyadari tingginya kesibukan masyarakat perkotaan, Baby tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke gerobak. Lapak Kookusan juga melayani sistem pre-order (PO) H-1, khususnya untuk memenuhi pesanan dari perkantoran di wilayah Jakarta.

Pemesanan dilayani via aplikasi pesan WhatsApp dan dikirim memanfaatkan jasa kurir instan seperti GoSend agar kesegaran makanan tetap terjaga.

Tak hanya itu, Baby memanfaatkan platform Instagram melalui akun @kookusan.id untuk memperluas jangkauan pasar.Melalui media sosial tersebut, Kookusan kerap membuka pemesanan sekaligus mengabarkan keikutsertaan mereka di berbagai bazar atau acara (event).

Meski mengakui persaingan kini makin ketat seiring bermunculannya pedagang serupa, Baby melihat fenomena ini secara positif. "Pilihan kukusan sekarang memang makin banyak, tapi ini justru memberikan lebih banyak pilihan sehat bagi konsumen," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya