Liputan6.com, Tokyo - Sambil sesekali melirik bayinya yang berada di kereta dorong, Minae Kamata mengoperasikan mesin permainan di pinggiran kota Tokyo, Jepang, menggerakan capitan bukan untuk mengambil boneka, tapi sebungkus tisu toilet.
Dikutip dari Japan Today, Jumat (6/11/2026), seiring dengan beban inflasi yang membebani rumah tangga Jepang, pusat hiburan raksasa di pinggiran kota-kota besar mulai memasang mesin capit yang berisikan telur, beras, deterjen cuci, dan kebutuhan pokok lainnya.
Advertisement
Tempat belanja dan bermain ini memadukan kebutuhan belanja dengan hiburan sehingga keluarga tidak perlu memilih antara membawa pulang barang-barang kebutuhan pokok atau menikmati waktu luang seharian.
Seorang ibu rumah tangga berusia 25 tahun bernama Kamata berkata kepada AFP bahwa ia berhasil memenangkan hadiahnya setelah hanya dua kali percobaan, dengan biaya 100 yen (Rp 11 ribu) per percobaan.
"Kalau sedikit beruntung, ini sama saja seperti berbelanja dengan diskon," tuturnya kepada AFP.
Para ahli menyatakan tren ini merupakan respons terhadap gelombang inflasi berkepanjangan di Jepang, di mana kenaikan harga telah melampaui pertumbuhan upah selama bertahun-tahun.
"Pengeluaran untuk makanan dan barang kebutuhan sehari-hari terus menurun selama lima tahun terakhir karena bahan-bahan ini menjadi sasaran pemotongan anggaran," tutur pakar perilaku konsumen di NLI Research Institute Naoko Kuga.
Ia menambahkan, karena hal ini, "toko ritel berusaha menjadikan pengalaman berbelanja sebagai hal yang menyenangkan untuk mendorong pembelian" dan meredakan rasa bersalah.
Kepopuleran Mesin Capit di Jepang
Mesin capit sudah sangat populer di Jepang sebelum gelombang inflasi melanda. Menurut Asosiasi Industri Hiburan Jepang, pasar "permainan hadiah" ini tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun hingga mencapai 417,7 miliar yen (Rp 47,9 triliun) pada tahun 2024, dan kini menyumbang hampir 70 persen dari pendapatan tempat permainan.
Dalam beberapa tahun terakhir, keluarga yang mencari barang-barang kebutuhan sehari-hari telah menjadi bagian yang semakin besar dari basis pelanggan mereka.
Di Kawasaki, pinggiran selatan Tokyo, ratusan mesin di sebuah tempat yang dioperasikan oleh jaringan khusus Benex penuh dengan botol-botol minuman bersoda, kantong-kantong permen, dan deterjen.
"Ketika sebuah keluarga menghabiskan 10 ribu yen (Rp 1,1 juta) untuk satu hari karaoke atau bowling, mereka hanya bersenang-senang. Namun di Benex, Anda pulang dengan membawa tisu toilet, botol, dan mainan," ujar seorang eksekutif di Tisco yang merupakan perusahaan pengoperasi Benex bernama Teruaki Tsuchiya. "Dengan adanya inflasi, para orang tua memilih opsi hiburan yang paling hemat biaya."
Perusahaan tersebut, yang memiliki lima cabang di wilayah metropolitan Tokyo dan mengklaim memiliki lebih dari satu juta pengunjung per tahun, menghapus mesin permainan video dan mesin berbasis koin tahun lalu untuk kembali berfokus pada mesin capit.
Dikatakan pendapatan dari penjualan produk rumah tangga telah meningkat 2,6 kali lipat dalam dua tahun.
Tsuchiya mengatakan model ini mirip dengan jaringan ritel seperti Costco atau Ikea, toko-toko besar di pinggiran kota, di mana harga tanah lebih murah dan pelanggan setia datang dengan mobil dan berbelanja dalam nominal yang relatif lebih besar.
Rencana Membuka Lebih Banyak Mesin Capit
Tingkat inflasi Jepang telah berada di sekitar target dua persen yang ditetapkan bank sentral dalam beberapa bulan terakhir. Angka ini tergolong rendah bagi banyak negara maju, tapi menjadi kejutan bagi negara yang selama puluhan tahun terbiasa dengan harga yang stagnan atau terus turun.
Setelah "dua atau tiga jam" bermain di mesin-mesin tersebut, karyawan sushi berusia 56 tahun bernama Chiaki Sugai, mendorong gerobak besar yang penuh hadiah yang harganya hampir mencapai 8.000 yen (Rp 918 ribu).
"Sebelumnya, saya biasa membeli banyak camilan di minimarket, tapi sekarang saya membelinya di sini," ujarnya.
Sachiko Iyokawa yang berusia 49 tahun juga terlihat puas dengan hadiahnya, yaitu dua kotak telur premium, yang harganya lebih murah daripada di supermarket.
"Biasanya saya hemat, tapi di sini saya memanjakan diri sedikit." tuturnya.
Toko ritel besar juga ikut dalam tren ini. Aeon Fantasy, anak perusahaan di bidang hiburan dari Aeon Group yang terus berkembang, membuka area pertamanya yang khusus untuk hadiah dalam bentuk makanan dan perlengkapan rumah tangga yang ditujukan bagi para ibu di bulan Oktober 2025.
Sekarang, perusahaan tersebut telah memiliki tujuh area yang mirip dan berencana untuk membuka sekitar 60 area lagi hingga tahun 2030.
"Di saat konsumen sangat sensitif terhadap harga, kami menawarkan pengalaman yang memadukan keseruan dengan sensasi mendapatkan penawaran menarik," tutur manajer di Aeon Fantasy Yuya Shiozawa kepada AFP.
"Contohnya, kami melihat pelanggan yang telah memenangkan sayuran, pergi ke supermarket di sebelahnya untuk membeli bahan-bahan yang melengkapi makan malam mereka."
Menurut Kuga, tren ini diperkirakan akan bertahan lebih lama dari periode inflasi saat ini, karena toko ritel konvensional terus mencari cara baru untuk menarik pelanggan yang semakin sering membeli produk rumah tangga lewat langganan Amazon.
Ia memprediksi bahwa "toko-toko akan melipatgandakan inisiatif untuk menarik pelanggan, baik dengan mesin capit atau dalam bentuk lain."