Tren Kerja Quiet Quitting Mewabah di Inggris, Apa Itu?

Tren “quiet quitting” oleh karyawan yang dipopulerkan di media sosial diklaim melambatkan pertumbuhan produktivitas.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 05 November 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi karyawan, bekerja, suasana kantor. (Photo by Damir Kopezhanov on Unsplash)  

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga think tank asal Inggris, Resolution Foundation, menemukan bahwa tren quiet quitting atau sikap pekerja yang hanya menjalankan tugas sesuai tanggung jawab tanpa melakukan pekerjaan ekstra, turut memengaruhi perekonomian negara tersebut.

Fenomena ini dinilai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan produktivitas pekerja Inggris dalam satu dekade terakhir.

Istilah quiet quitting sendiri mulai populer di media sosial setelah pandemi, seiring meningkatnya kesadaran pekerja terhadap keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Melansir BBC, Kamis (5/11/2026), tren tersebut bisa menjadi penjelasan adanya penurunan produktivitas tenaga kerja yang terjadi di Inggris sejak pandemi.

"Ini buruk bagi karyawan, tapi ini juga memengaruhi produktivitas dan pasokan tenaga kerja, yang penting untuk menaikkan standar hidup di beberapa tahun ke depan,” ujar Ekonom Utama Resolution Foundation, Hannah Slaughter.

Akibat frustasi dengan permintaan tinggi, bayaran rendah, dan tekanan standar hidup, banyak pekerja yang kemudian bersuara jika mereka seharusnya hanya bekerja sesuai apa yang diminta atasan.

Jadi, pekerja merasa cukup masuk kerja, tetapi tak perlu lagi melakukan tugas tambahan atau mengecek email setelah jam kerja.

Sementara, orang-orang tersebut dianjurkan fokus dengan keseimbangan kehidupan pekerjaan dan pribadi, serta menyesuaikan dengan gaji yang dimiliki.

Komitmen Rendah, Standar Hidup Tinggi

Ilustrasi lingkungan kerja, kantor, karyawan. (Photo by Redd F on Unsplash)

Namun, fenomena quiet quitting bukan sekadar perbincangan di media sosial seperti TikTok. Resolution Foundation menemukan sejumlah perubahan perilaku pekerja Inggris yang sejalan dengan tren tersebut.

Dalam laporan terbarunya, lembaga tersebut mengungkapkan bahwa persentase pekerja yang bersedia bekerja lebih keras demi membantu perusahaan tempat mereka bekerja turun dari 69% pada 2015 menjadi 55% pada 2025. Temuan ini berdasarkan survei terhadap 4.656 orang dewasa.

Di sisi lain, tingkat kepuasan pekerja terhadap jabatan mereka juga menunjukkan perubahan. Proporsi pekerja yang mengaku tidak cukup puas dengan posisi pekerjaannya kini berada di angka satu dari empat responden, atau mencapai rekor terendah.

Tak hanya itu, jumlah karyawan yang menilai pekerjaannya menarik juga semakin berkurang. Dalam satu dekade, persentasenya turun dari 74% pada 2015 menjadi 63% pada 2025.

"Karyawan kini memiliki komitmen lebih rendah terhadap perusahaan dan kurang tertarik pada pekerjaan dibandingkan karyawan satu dekade lalu," demikian kesimpulan laporan Resolution Foundation.

Lembaga tersebut juga menilai perubahan perilaku pekerja selama satu dekade terakhir berpotensi ikut memengaruhi pertumbuhan produktivitas Inggris yang cenderung lesu. Perlambatan produktivitas sebenarnya telah berlangsung sejak krisis keuangan global dan kembali melemah setelah pandemi.

Selain komitmen terhadap perusahaan, orientasi pekerja terhadap pekerjaan juga mengalami pergeseran. Kini, karyawan cenderung lebih mengutamakan besaran gaji.

Menurut laporan tersebut, perubahan ini tidak terlalu mengejutkan mengingat standar hidup masyarakat Inggris mengalami stagnasi selama satu dekade terakhir.

Profesor Ilmu Politik sekaligus salah satu editor Resolution Foundation, Sir John Curtice, menegaskan bahwa temuan tersebut bukan berarti generasi muda semakin malas bekerja ataupun pekerja secara umum semakin enggan berpindah pekerjaan.

Namun, ia menilai perusahaan perlu mengubah pendekatan dalam membangun keterlibatan karyawan. Agar pekerja lebih bersemangat menjalankan pekerjaannya, pemberi kerja perlu menawarkan pekerjaan yang tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga menyediakan fleksibilitas jam kerja.

Dengan demikian, persoalan quiet quitting tidak semata-mata berkaitan dengan kemauan pekerja untuk bekerja lebih keras. Kualitas pekerjaan, kompensasi, dan keseimbangan kehidupan pribadi dengan pekerjaan juga menjadi faktor penting dalam menjaga keterlibatan karyawan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya