Liputan6.com, Jakarta - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat laba bersih dan pertumbuhan pendapatan pada kuartal III 2026, tepatnya Juli-September 2026.
Perseroan mencatat laba bersih Rp 441 miliar pada kuartal III 2026 dibandingkan rugi bersih Rp 255 miliar pada kuartal III 2025. GTV inti naik 89% Year on Year (YoY) menjadi Rp 184 triliun. Sementara itu, pendapatan naik 17% YoY menjadi Rp 5,6 triliun dari periode kuartal III 2025 sebesar Rp 4,7 triliun.
Advertisement
Kinerja Januari-September 2026
Jika melihat kinerja keuangan dari Januari-September 2026, Perseroan mencatat pendapatan tumbuh 24% menjadi Rp 16,54 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 13,29 triliun.
Earning Before Interest, Tax, Depreciation, and Amortization (EBITDA) naik 115% menjadi Rp 2,86 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,33 triliun.
Perseroan membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 1,16 triliun hingga September 2026. Kondisi ini berbeda dari periode sama tahun sebelumnya, Perseroan alami rugi Rp 775,55 miliar. Dengan demikian, laba per saham dilusi perseroan menjadi posisi Rp 1,06 dari sebelumnya rugi Rp 0,73.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), GOTO mencatat jumlah biaya dan beban naik menjadi Rp 15,41 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 13,51 triliun. Perseroan membukukan laba usaha Rp 1,13 triliun hingga September 2026 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 222,36 miliar.
Dari ekuitas Perseroan tercatat naik menjadi Rp 29,45 triliun pada September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 28,71 triliun. Liabilitas naik menjadi Rp 19,11 triliun hingga September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 17,04 triliun.
Aset Perseroan naik menjadi Rp 48,56 triliun hingga September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 45,75 triliun. Perseroan mengantongi kas dan setara kas Rp 24,32 triliun hingga September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 21,75 triliun.
Kata Manajemen GOTO
"Pada kuartal ketiga 2026, GoTo kembali mencatatkan laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Pada kesempatan ini, kami juga menyampaikan GoTo akan menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 menjadi Rp 3,5 triliun-Rp 3,7 triliun,” ujar Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengutip keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).
Ia menambahkan, hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir.
"Ini adalah kuartal penuh pertama sejak komisi 8% mulai diterapkan di layanan GoRide dan dampaknya cukup signifikan,” kata dia.
Di tengah dinamika eksternal, Hans menegaskan perusahaan fokus pada disiplin operasional dan alokasi modal. “Selain itu, untuk semakin memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, kami melakukan dua hal,” kata Hans.
Pertama, perseroan akan membatalkan 32 miliar saham tresuri atau setara 2,7% dari total saham, yang baru-baru ini disetujui dalam RUPSLB. Langkah ini akan mengurangi jumlah saham beredar sehingga meningkatkan persentase kepemilikan pemegang saham yang ada.
Kedua, perseroan juga terus membeli kembali saham perusahaan karena percaya saham GoTo saat ini menawarkan nilai yang menarik.
“Kami akan terus menjaga fundamental bisnis tetap sehat. Dengan bisnis yang sehat, kami dapat terus tumbuh dan mendukung seluruh pihak dalam ekosistem kami, termasuk jutaan mitra driver. Melalui Program Apresiasi Mitra yang terus kami perluas, kami ingin lebih banyak mitra driver dan keluarga mereka merasakan manfaatnya, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga umrah gratis,” kata Hans.
Target 2026
GoTo menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh menjadi Rp 3,5–Rp 3,7 triliun, dari sebelumnya Rp 3,2–Rp 3,4 triliun.
Target untuk bisnis Fintech dinaikkan menjadi Rp 1,9–Rp 2,0 triliun, dari sebelumnya Rp 1,7– Rp 1,8 triliun. Sementara itu, rentang target untuk bisnis On-demand Services diperlebar menjadi Rp 1,4– Rp 1,6 triliun, dari sebelumnya Rp 1,4– Rp 1,5 triliun. Penyesuaian ini mencerminkan kinerja yang tetap kuat, sekaligus untuk mengakomodasi potensi regulasi ke depan terkait komisi 8%.
Target kinerja ini didasarkan pada estimasi awal Perseroan dengan mempertimbangkan kondisi pasar saat ini dan tetap dipengaruhi oleh berbagai risiko, termasuk persaingan, kenaikan biaya, ketidakpastian makroekonomi, serta faktor lain di luar kendali Perseroan.