Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin tertekan hingga penutupan perdagangan saham sesi pertama perdagangan saham Kamis, (29/10/2026). Koreksi IHSG sesi pertama terjadi di tengah sentimen the Federal Reserve (the Fed) menahan suku bunga acuan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat 18.096.
Mengutip data RTI, IHSG sesi pertama anjlok 2,64% menjadi 5.142,82. Indeks saham LQ45 tergelincir 2,94% menjadi 523,63. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Advertisement
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, pelemahan IHSG masih sejalan dengan yang disampaikan pada laporan teknikal Kamis pagi ini. Pelemahan IHSG terjadi setelah the Federal Reserve (the Fed) menahan suku bunga acuan. Akan tetapi, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat.
“Kami perkirakan, tekanan outflow masih berlangsung di IHSG di mana selama lima hari belakang sudah sebesar Rp 5,5 triliun. Strategi buy on weakness atau menunggu sinyal pembalikan arah,”kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Herditya menuturkan, the Fed yang menahan suku bunga acuan berdampak terhadap sisi tekanan outflow atau aliran dana investor asing yang keluar.
Seiring IHSG yang tertekan, ia menilai, sektor saham energi dan keuangan dapat dicermati. Herditya memilih dua sektor saham itu karena bobot terbesar IHSG adalah di sektor keuangan. Sedangkan sektor saham energi dipengaruhi harga komoditas yang sedang menguat.
Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 5.320,89 dan level terendah 5.135,52. Sebanyak 593 saham melemah sehingga bebani IHSG. 92 saham mengaut dan 100 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 803.471 kali dengan volume perdagangan saham 14,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 5,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 18.096.
Sektor Saham
Seluruh sektor sahasm tertekan. Sektor saham infrastruktur terpangkas 3,78%, dan mencatatkan koreksi terbesar. Sektor saham energi melemah 2,73%, sektor saham basic terperosok 3,56%, sektor saham industri turun 2,99%. Lalu sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 2,04%, sektor saham consumer siklikal susut 2,75%.
Kemudian sektor saham kesehatan merosot 1,72%, sektor saham keuangan terpangkas 1,75%, sektor saham properti turun 1,54%, sektor saham teknologi melemah 1,4% dan sektor saham transportasi tergelincir 1,06%.
Gerak Saham
Pada sesi pertama, harga saham PTRO merosot 6,74% menjadi Rp 2.490 per saham. Harga saham PTRO dibuka stagnan di Rp 2.670 per saham. Saham PTRO berada di level tertinggi Rp 2.690 dan terendah Rp 2.490 per saham. Total frekuensi perdagangan 9.360 kali dengan volume perdagangan saham 317.895 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 80,8 miliar.
Harga saham BBRI melemah 2,05% menjadi Rp 2.860 per saham. Harga saham BBRI dibuka naik 20 poin menjadi Rp 2.940 per saham. Saham BBRI berada di level tertinggi Rp 2.950 dan terendah Rp 2.860 per saham. Total frekuensi perdagangan 20.658 kali dengan volume perdagangan saham 878.094 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 253,6 miliar.
Harga saham ANTM susut 3,57% menjadi Rp 2.700 per saham. Saham ANTM dibuka stagnan di Rp 2.800 per saham. Harga saham ANTM berada di level tertinggi Rp 2.830 dan terendah Rp 2.680 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 11.795 kali dengan volume perdagangan saham 428.293 saham. Nilai transaksi Rp 117,5 miliar.