Tentara AS Raup Rp 7,2 Miliar dari Taruhan Penangkapan Presiden Venezuela

Seorang tentara AS diduga meraup Rp 7,2 miliar dari taruhan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Polymarket.

oleh Septian DenyDiterbitkan 27 Oktober 2026, 18:21 WIB
Ilustrasi tentara AS. (AP Photo/Manish Swarup)

Liputan6.com, Washington, DC - Seorang tentara pasukan khusus Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap otoritas federal. Ia diduga meraup lebih dari US$ 400.000 atau sekitar Rp 7,2 miliar dengan memasang taruhan atas kemungkinan Maduro dilengserkan dari jabatannya.

Dikutip dari ABC News, Selasa (27/10/2026), Departemen Kehakiman AS mengumumkan pada Kamis bahwa tentara bernama Gannon Ken Van Dyke itu diduga menggunakan informasi rahasia pemerintah untuk memasang taruhan di platform pasar prediksi Polymarket, beberapa hari sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan penangkapan Maduro.

Penyelidik federal menyebut Van Dyke memasang taruhan senilai lebih dari US$33.000. Serangkaian taruhan tersebut menghasilkan keuntungan lebih dari US$409.000, sekaligus memicu kecurigaan di kalangan pelaku pasar prediksi dan penyelidikan selama berbulan-bulan mengenai dugaan penggunaan informasi orang dalam.

Van Dyke didakwa atas sejumlah tuduhan, termasuk penggunaan informasi rahasia secara ilegal untuk keuntungan pribadi, pencurian informasi pemerintah yang tidak tersedia untuk publik, penipuan komoditas, dan penipuan melalui sarana elektronik.

Menurut dakwaan, setelah memasang taruhan, Van Dyke melihat laporan mengenai aktivitas perdagangan tidak biasa yang berkaitan dengan misi penangkapan Maduro. Ia kemudian diduga berusaha menghilangkan bukti transaksi dengan mencoba menghapus akun Polymarket dan mengganti alamat email yang terdaftar pada akun bursa mata uang kriptonya.

“Alih-alih melindungi informasi tersebut sebagaimana kewajibannya, VAN DYKE memutuskan menggunakan informasi rahasia itu untuk melakukan perdagangan di platform pasar prediksi demi keuntungan pribadi,” demikian bunyi dokumen dakwaan.

Dokumen tersebut juga menyebut Van Dyke kemudian berusaha menyembunyikan penggunaan informasi rahasia pemerintah AS secara ilegal dengan mengaburkan sumber keuntungan yang diperolehnya serta menyamarkan keterkaitannya dengan akun-akun yang digunakan dalam transaksi tersebut.

Hingga laporan ini disusun, belum diketahui apakah Van Dyke telah memiliki pendampingan hukum.

Raup Keuntungan 1.242 Persen

Menurut keterangan otoritas, beberapa hari sebelum Trump mengumumkan penangkapan Maduro dalam operasi yang disebut Operation Absolute Resolve, Van Dyke memasang serangkaian taruhan di Polymarket.

Taruhan tersebut mencakup prediksi apakah Maduro akan lengser dari jabatannya sebelum 31 Januari dan apakah AS akan menginvasi Venezuela.

Trump sebelumnya menyampaikan bahwa operasi tersebut direncanakan secara cermat dan dilaksanakan pada malam hari.

“Kita kembali menjadi negara yang dihormati, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Trump setelah operasi tersebut.

“Para prajurit terlatih ini, yang bekerja sama dengan penegak hukum AS, menangkap mereka dalam posisi yang sangat siap,” lanjutnya.

Meski dokumen dakwaan tidak merinci keterlibatan Van Dyke dalam operasi penangkapan tersebut, jaksa menyebut ia pernah difoto di geladak kapal USS Iwo Jima, tempat Maduro dipindahkan setelah ditangkap. Dalam foto itu, Van Dyke terlihat mengenakan seragam militer dan memegang senapan bersama sejumlah personel militer lainnya.

Polymarket menyebut seorang pengguna yang membuat akun pada Desember 2025 memasang taruhan senilai US$ 33.933 dalam empat prediksi terkait invasi AS ke Venezuela dan penangkapan Maduro.

Taruhan terbesarnya, senilai US$ 32.537, dipasang pada prediksi bahwa Maduro tidak lagi menjabat pada 31 Januari. Taruhan itu menghasilkan keuntungan sebesar US$ 404.222, dengan tingkat keuntungan mencapai 1.242 persen.

Juru bicara Polymarket mengatakan perusahaan telah melaporkan aktivitas taruhan mencurigakan tersebut kepada Departemen Kehakiman AS dan bekerja sama dalam penyelidikan.

“Perdagangan berdasarkan informasi orang dalam tidak memiliki tempat di Polymarket. Penangkapan hari ini membuktikan bahwa sistem berjalan sebagaimana mestinya,” demikian pernyataan perusahaan yang diunggah melalui platform X.

 

 

Trump Samakan Taruhan dengan Kasus Pete Rose

Penangkapan dan dakwaan terhadap Van Dyke diyakini menjadi kasus pertama ketika Departemen Kehakiman AS menuntut seseorang atas dugaan perdagangan berdasarkan informasi orang dalam di pasar prediksi.

Polymarket, yang disebut sebagai platform pasar prediksi terbesar di dunia, memungkinkan pengguna memasang taruhan secara anonim terhadap berbagai peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan. Transaksi dilakukan melalui kontrak berbasis pertanyaan dengan pilihan jawaban ya atau tidak.

Meski pasar prediksi terutama berada di bawah pengawasan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC), transaksi yang waktunya dinilai mencurigakan di platform seperti Polymarket dan Kalshi telah memunculkan kekhawatiran mengenai praktik perdagangan berdasarkan informasi orang dalam.

Selain taruhan terkait Maduro yang menghasilkan lebih dari US$400.000, pengguna Polymarket lainnya dilaporkan meraup sekitar US$550.000 melalui serangkaian taruhan terkait serangan AS terhadap Iran dan kemungkinan lengsernya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Saat ditanya wartawan pada Kamis mengenai taruhan yang dipasang Van Dyke, Trump membandingkannya dengan kasus mantan pemain bisbol Pete Rose yang bertaruh pada timnya sendiri.

“Itu seperti Pete Rose yang bertaruh pada timnya sendiri,” kata Trump di Ruang Oval Gedung Putih.

“Pete Rose dilarang masuk Hall of Fame karena bertaruh pada timnya sendiri. Kalau dia bertaruh melawan timnya, itu tidak baik. Namun, dia bertaruh pada timnya sendiri,” ujar Trump.

Trump menambahkan bahwa dirinya akan mempelajari kasus tersebut.

Terkait kekhawatiran mengenai pegawai federal yang memasang taruhan berdasarkan informasi orang dalam tentang konflik Iran dan perkembangan lainnya, Trump mengatakan dunia kini telah menjadi semacam kasino.

“Lihat apa yang terjadi di seluruh dunia, di Eropa dan di mana-mana. Mereka melakukan hal-hal taruhan ini. Saya tidak pernah terlalu mendukungnya. Secara konsep, saya tidak menyukainya, tetapi begitulah kenyataannya,” kata Trump.

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak senang dengan praktik tersebut, meskipun berbagai situs pasar prediksi kini tersedia.

“Ini dunia yang gila. Dunia sekarang sangat berbeda dibandingkan dahulu,” ujarnya.

 

Jaksa AS Cari Dasar Hukum untuk Menindak Perdagangan Orang Dalam

Pada awal Maret, Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, mengonfirmasi bahwa kantornya secara aktif mengkaji kemungkinan penggunaan hukum untuk menuntut individu yang berusaha memanipulasi pasar prediksi demi keuntungan pribadi.

“Para jaksa saya sedang sibuk mempelajari undang-undang apa yang bisa kami gunakan, yang serupa dengan undang-undang perdagangan orang dalam,” kata Clayton kepada CNBC.

Meski pasar prediksi tergolong relatif baru, jaksa dinilai dapat menggunakan ketentuan hukum yang telah berlaku selama puluhan tahun untuk menangani kasus semacam ini.

Noah Solowiejczyk, mitra di firma hukum Fenwick & West sekaligus mantan jaksa federal di Manhattan, mengatakan Undang-Undang Bursa Komoditas AS (Commodities Exchange Act) dapat diterapkan dalam kasus tersebut.

“Undang-undang Bursa Komoditas menangani situasi seperti ini,” kata Solowiejczyk, yang saat menjadi jaksa pernah menangani kasus perdagangan orang dalam mata uang kripto untuk pertama kalinya.

Ia menjelaskan, terdapat ketentuan khusus yang melarang pegawai atau agen pemerintah federal memperdagangkan aset berdasarkan informasi rahasia pemerintah yang mereka peroleh.

Namun, Solowiejczyk mengingatkan bahwa jaksa mungkin perlu mempersiapkan proses edukasi bagi calon anggota juri agar mereka memahami cara kerja pasar prediksi sebelum menangani perkara semacam ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya