Liputan6.com, Jakarta - Maudy Koesnaedi siap tampil beda di atas panggung. Aktris ini dipercaya memerankan Sayap Hitam dalam pertunjukan teater Njonja Ati Soetji yang digelar pada 30-31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Sayap Hitam merupakan karakter antagonis yang digambarkan sebagai mucikari atau perantara dalam perdagangan pekerja seks komersial. Peran ini tercatat sebagai karakter antagonis pertama yang dimainkan Maudy sepanjang kariernya di industri hiburan.
Advertisement
Keluar dari Zona Nyaman
Selama ini, Maudy lebih sering mendapatkan peran sebagai sosok protagonis dengan pembawaan lembut. Karena itu, Sayap Hitam menghadirkan pengalaman yang benar-benar baru baginya.
"Di pementasan ini aku dikasih peran yang berbeda dari peran peran sebelumnya, dan begitu merasa wah seru banget di kasih kesempatan buat eksplor kemampuan di panggung," ujar Maudy Koesnaedi saat jumpa pers di Kawasan Lebak Bulus, belum lama ini.
Meski menghadapi tantangan dalam membawakan karakter tersebut, Maudy melihat adanya ruang untuk mengeksplorasi kemampuan aktingnya. Ia juga ingin mendalami pesan yang disampaikan melalui pertunjukan ini.
Menurut Maudy, karakter yang dimainkannya turut mengajak penonton melihat persoalan moral dari berbagai sisi. Setiap pilihan dan tindakan memiliki konsekuensi bagi orang lain, sehingga tidak cukup dinilai hanya dari alasan yang digunakan untuk membenarkannya.
"Selain nilai moral dan kepahlawanannya, karakter itu yang bikin tantangan buat aku," jelas Maudy.
Kisah Perjuangan Njonja Ati Soetji
Pementasan produksi Regina Art ini mengangkat perjuangan perempuan Tionghoa-Indonesia, Auw Tjoei Lan, atau Njonja Ati Soetji, dalam menyelamatkan perempuan dan anak korban perdagangan manusia pada masa kolonial. Naskah ditulis Endah D. Jenura setelah riset selama dua tahun, sedangkan Wawan Sofwan duduk di kursi sutradara. Selain Maudy, Tika Bravani turut bermain sebagai Noona Kneefel.
Wakil Ketua Yayasan Hati Suci, Wenny, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kisah pendiri yayasannya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan juga teladan bagi masyarakat masa kini.
"Kami mengapresiasi Regina Art karena mengangkat tentang pendiri kami. Buat kami, ini bukan saja hanya sejarah, namun juga sebuah teladan," kata Wenny