Liputan6.com, Jakarta - Saham SpaceX mengalami penurunan tajam hingga 9 persen pada perdagangan Kamis, menghapus sebagian besar lonjakan harga pada hari sebelumnya
Saham perusahaan antariksa milik Elon Musk ini sempat melejit 7,8 persen pada Rabu menyusul laporan kinerja keuangan kuartal III yang positif serta optimisme perkembangan bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Advertisement
Penurunan saham SpaceX terjadi di tengah tekanan aksi jual yang melanda sektor teknologi setelah Meta merilis laporan keuangannya. Selain itu, ketegangan geopolitik dan kekhawatiran atas kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah turut memicu kehati-hatian investor di pasar saham global.
Dari sisi operasional, SpaceX memproyeksikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 35 miliar hingga US$ 40 miliar pada kuartal IV. Angka tersebut melonjak signifikan dari posisi capex kuartal III yang tercatat US$ 19,6 miliar.
Perusahaan menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas komputasi AI menjadi pendorong utama lonjakan alokasi investasi tersebut. Hingga akhir kuartal III, total utang SpaceX tercatat mencapai US$ 36,1 miliar.
Analis MoffettNathanson, Julie Zhu, menyoroti besarnya kebutuhan modal perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
"Laporan hasil keuangan tersebut semakin mempertegas besarnya kebutuhan modal yang membayangi operasional perusahaan selama beberapa tahun ke depan," tulis Zhu dalam risetnya dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (23/10/2026).
Menanggapi kekhawatiran pasar, Chief Financial Officer (CFO) SpaceX, Bret Johnsen, menegaskan kekuatan fundamental dan akses pendanaan perusahaan.
"Kami memiliki peringkat layak investasi (investment grade), neraca keuangan yang sangat kuat, serta akses yang luas terhadap berbagai sumber pembiayaan utang," ujar Johnsen.
Analis Wall Street Dongkrak Target Harga Saham SpaceX
Di samping isu lonjakan capex, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada wacana potensi penggabungan usaha (merger) antara SpaceX dan Tesla. Elon Musk mengonfirmasi bahwa kedua perusahaan telah membentuk komite khusus yang terdiri dari direktur independen untuk mengkaji opsi merger tersebut.
Musk juga memastikan tidak terlibat langsung dalam pembahasan komite demi menghindari konflik kepentingan.
"Apakah menurut saya itu ide yang bagus? Ya," kata Musk saat menanggapi pertanyaan mengenai rencana merger.
Kendati harga saham SpaceX mengalami koreksi harian, sejumlah analis Wall Street tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Analis JPMorgan, Doug Anmuth, menaikkan target harga saham SpaceX secara signifikan dari US$ 240 menjadi US$ 500, berpatokan pada pertumbuhan masif infrastruktur AI.
Bank of America (BoA) turut mengerek target harga saham SpaceX menjadi US$ 275 dari sebelumnya US$ 235.
Sementara itu, analis Barclays, Dan Levy, menyebutkan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan Tesla yang dijadwalkan paling lambat 6 Desember mendatang berpotensi menjadi ajang pemungutan suara bagi pemegang saham terkait aksi merger tersebut.
Levy menambahkan, apabila kesepakatan resmi diumumkan pada rentang akhir Oktober hingga awal November, proses persetujuan dan integrasi kedua perusahaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 12 bulan.