Airlangga Janji Tangani Kendala Hambat Ekspor Indonesia

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menuturkan, pemerintah berupaya memacu seluruh sektor untuk dongkrak ekspor.

oleh Arief Rahman HakimDiterbitkan 20 Oktober 2026, 12:10 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Dok Kemenko Perekonomian)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto membahas upaya peningkatan ekspor dari Indonesia. Dia pun menyiapkan langkah untuk mengatasi hambatan yang dihadapi.

Hal tersebut diungkap Airlangga setelah rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto. Beberapa menteri lain turut hadir dalam pembahasan tersebut.

"Kami membahas bagaimana caranya untuk meningkatkan ekspor. Jadi, ekspor kita akan pacu dari seluruh sektor termasuk manufaktur," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Selasa (20/10/2026).

Menurutnya pemerintah akan melakukan upaya untuk menghambat ekspor. Satuan tugas (satgas) yang dibentuk sebelumnya juga akan menangani hambatan-hambatan perusahaan dalam pelaksanaan bisnisnya.

"Sehingga berbagai hal yang bisa mengurangi ekspor nanti akan kita debottlnecking yang sudah diberikan penugasan oleh Bapak Presiden melalui Satgas," ucap dia.

Diketahui, sidang penanganan debottlenecking beberapa kali digelar saat Purbaya Yudhi Sadewa menjabat Menteri Keuangan. Berbagai hambatan regulasi dibahas dalam forum yang mempertemukan pengusaha dan regulator.

Ekspor Indonesia

Sebelumnya, produk unggulan dari desa semakin berpeluang menembus pasar internasional. Melalui program fasilitasi ekspor dan perluasan perjanjian dagang, pemerintah berupaya memperkuat kinerja perdagangan Indonesia sekaligus membuka kesempatan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjangkau pembeli global.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus sektor perdagangan dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di dalam negeri.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan perkembangan positif.

"Dari sektor perdagangan, meskipun tantangan global cukup besar, kinerjanya terus tumbuh positif," ujar Budi dikutip dari Antara, Sabtu, 17 Oktober 2026.

 

Nilai Ekspor RI

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$ 282,91 miliar, meningkat 6,15 persen dibandingkan 2024 yang sebesar US$ 266,51 miliar.

Pertumbuhan berlanjut pada Januari-Agustus 2026. Nilai ekspor tercatat mencapai US$ 193,64 miliar, naik 4,74 persen. Pada periode yang sama, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$ 7,25 miliar.

Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut melalui perluasan pasar ekspor, peningkatan nilai tambah produk, dan penguatan daya saing pelaku usaha dalam negeri.

 

Perluasan Pasar

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Perluasan pasar menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menjaga keberlanjutan ekspor Indonesia. Perjanjian perdagangan dengan negara mitra diharapkan dapat membuka akses pasar, mengurangi hambatan tarif, dan meningkatkan peluang produk nasional bersaing di luar negeri.

Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, sedangkan 13 perjanjian lainnya masih dalam tahap negosiasi. Pemerintah juga berupaya menyelesaikan perundingan dengan Gulf Cooperation Council (GCC) di kawasan Timur Tengah serta menjajaki kerja sama dengan blok perdagangan Mercosur di Amerika Selatan.

Menurut Budi Santoso, pembukaan pasar tidak harus selalu menunggu kesepakatan regional yang prosesnya panjang. Penjajakan bilateral dapat menjadi langkah awal untuk memperluas hubungan perdagangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya