Liputan6.com, Jakarta - Fenomena Gen Z suka resign dari pekerjaan dalam waktu singkat kini jadi sorotan di banyak negara. Studi perusahaan rekrutmen Randstad mencatat rata-rata masa kerja Gen Z pada lima tahun pertama karier hanya sekitar 1,1 tahun, paling singkat dibandingkan generasi lain.
Angka serupa muncul di survei lain. Gateway Commercial Finance, yang menyurvei 1.008 pekerja dan manajer perekrutan di Amerika Serikat, menemukan 58 persen Gen Z menganggap pekerjaannya sebagai "situationship", yakni hubungan jangka pendek tanpa komitmen.
Sebanyak 47 persen di antaranya berencana keluar dalam setahun. Di Kanada, survei yang dikutip Benefits and Pensions Monitor menyebut 55 persen Gen Z berencana mencari pekerjaan baru pada 2026, dibandingkan 6 persen baby boomer.
Advertisement
Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa kecenderungan ini tidak sesederhana soal "tidak loyal". Dalam pembahasan ini merangkum data, alasan, dan konteks di balik gelombang resign Gen Z, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber pada Senin (20/10/2026).
Seberapa Cepat Gen Z Resign?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2407856/original/083776900_1542165767-rawpixel-1075743-unsplash.jpg)
Studi Randstad berjudul The Gen Z Workplace Blueprint melibatkan lebih dari 11.250 profesional dan menganalisis lebih dari 126 juta lowongan kerja global. Hasilnya, rata-rata masa kerja Gen Z (lahir 1997-2012) pada lima tahun pertama karier adalah 1,1 tahun. Milenial tercatat 1,8 tahun, Gen X 2,8 tahun, dan baby boomer 2,9 tahun.
Survei Gateway Commercial Finance di AS memberi angka sedikit berbeda, yakni rata-rata satu pekerjaan bertahan sekitar 1,8 tahun. Perbedaan ini wajar karena metode, cakupan negara, dan definisi masa kerja tiap studi tidak sama. Randstad juga mencatat 54 persen Gen Z aktif mencari pekerjaan, dengan tingkat pergantian karyawan Gen Z dalam 12 bulan terakhir sebesar 22 persen, tertinggi di antara semua generasi yang disurvei.
Di Inggris, analisis Totaljobs yang dirilis Januari 2026 menunjukkan 48 persen pekerja usia 18-29 tahun sedang atau berencana mencari pekerjaan baru pada 2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata seluruh pekerja yang sebesar 41 persen.
Advertisement
Gaji dan Pengembangan Karier Jadi Pemicu Utama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516675/original/029696900_1772340435-Gemini_Generated_Image_bcy17mbcy17mbcy1.jpeg)
Kompensasi konsisten menjadi alasan terbesar. Totaljobs mencatat gaji adalah faktor terpenting bagi 81 persen pencari kerja. Survei Deloitte Global 2022 terhadap Gen Z dan milenial juga menempatkan gaji sebagai alasan utama responden meninggalkan pekerjaan dalam dua tahun terakhir. Randstad bahkan menemukan tiga dari lima Gen Z bersedia menerima pekerjaan yang tidak sejalan dengan nilai pribadi bila gaji dan tunjangannya kuat.
Di Kanada, survei terhadap lebih dari 3.500 pekerja yang diberitakan NOW Toronto menunjukkan 42 persen Gen Z berencana berganti pekerjaan dalam enam bulan, jauh di atas rata-rata 23 persen untuk seluruh pekerja. Kompensasi disebut sebagai pendorong utamanya.
Selain gaji, peluang belajar dan berkembang menentukan pilihan. Deloitte mencatat keseimbangan hidup-kerja serta pelatihan dan pengembangan menjadi prioritas teratas saat memilih tempat kerja baru. Menurut Randstad yang dikutip Fortune, empat dari sepuluh Gen Z selalu mempertimbangkan tujuan karier jangka panjang saat memutuskan pindah, tertinggi di antara generasi lain.
Burnout dan Kesehatan Mental Ikut Berperan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349522/original/095146000_1757923927-Depositphotos_553907888_XL.jpg)
Deloitte menemukan masalah kesehatan mental di tempat kerja dan burnout masuk tiga alasan teratas Gen Z dan milenial meninggalkan pekerjaan. Dalam survei tersebut, 46 persen Gen Z mengaku mengalami burnout akibat lingkungan kerja. Data ini berasal dari 2022, tetapi masih sering dirujuk sebagai gambaran tekanan kerja generasi muda.
Berpindah kerja ternyata tidak otomatis menyelesaikan masalah. Survei Gateway Commercial Finance mencatat Gen Z yang sering berpindah kerja 65 persen lebih mungkin melaporkan burnout. Mereka juga melaporkan keseimbangan hidup-kerja dan kepuasan kerja yang lebih rendah dibandingkan rekan yang bertahan.
Menurut survei Deloitte yang dikutip CNBC, hanya 15 persen Gen Z yang percaya perusahaan besar mengambil tindakan nyata untuk mengatasi burnout. Sekitar tiga perempat responden juga lebih memilih bekerja hibrida atau jarak jauh. Temuan ini menunjukkan fleksibilitas dan dukungan kesehatan mental semakin penting bagi generasi muda.
Advertisement
Pasar Kerja Ketat, Ekspektasi Tak Selalu Terpenuhi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4397425/original/004780500_1681649840-asian-woman-standing-deks-office-with-belongings-cardboard-box_1_.jpg)
Resign Gen Z terjadi di tengah pasar kerja yang tidak mudah. Fortune melaporkan lowongan level pemula turun 29 persen sejak Januari 2024. Banyak Gen Z merasa kurang siap dan kurang didukung dalam kariernya, sehingga pindah kerja menjadi cara mencari peran yang lebih sesuai.
Randstad mencatat hanya 56 persen Gen Z yang menyebut pekerjaannya sejalan dengan karier impian, lebih rendah dari 63 persen pada baby boomer. Di sisi lain, survei HireClix di AS yang dikutip Newsweek menemukan 54 persen Gen Z berniat meninggalkan tempat kerja saat ini, naik dari 30 persen pada 2024. Namun niat itu belum berubah menjadi keluar massal. Fenomena yang disebut "job hugging" ini dinilai para pakar sebagai tanda lemahnya pasar kerja AS.
Pemberi kerja pun bersikap waspada. Survei Gateway Commercial Finance menyebut 36 persen manajer perekrutan pernah menolak kandidat karena khawatir sering berpindah kerja, dan seperempatnya menganggap masa kerja singkat di CV Gen Z sebagai tanda bahaya. Hanya 46 persen Gen Z yakin loyalitas masih berbuah manis di pasar kerja saat ini.
Benarkah Gen Z Tidak Loyal?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5409321/original/075457300_1762852842-pexels-fauxels-3184465.jpg)
Randstad menyimpulkan Gen Z berpindah kerja demi pengembangan diri, bukan karena tidak loyal. Pengamat Cris Beswick menilai Gen Z bukan takut berkomitmen, melainkan lebih skeptis terhadap komitmen. Dengan kata lain, mereka bersedia bertahan selama perusahaan memberikan gaji layak, ruang tumbuh, dan fleksibilitas.
Konteks sejarah juga penting. Laporan EBRI yang dikutip Fortune mencatat median masa kerja di AS pada 2022 sebesar 4,9 tahun, hampir sama dengan 5,0 tahun pada 1983. Masa kerja per kelompok usia relatif stabil dari waktu ke waktu, dan orang cenderung bertahan lebih lama seiring bertambahnya usia. Pew Research Center sebelumnya juga menyimpulkan citra pekerja muda yang tidak setia lebih mirip mitos media.
Tren terbaru pun mulai bergeser. KEYT, mengutip data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) September 2026, melaporkan median masa kerja naik menjadi 4,1 tahun dan pekerja usia 25-34 tahun kini bertahan rata-rata tiga tahun, naik dari 2,7 tahun pada 2024. Selisih kenaikan gaji bagi yang berpindah kerja dibandingkan yang bertahan juga menyempit. Gen Z tetap lebih sering berpindah dibandingkan pekerja yang lebih tua, tetapi tidak sepenuhnya tanpa loyalitas.
Advertisement
Tanya Jawab Seputar Gen Z Resign Lebih Cepat
1. Berapa rata-rata masa kerja Gen Z?
Menurut Randstad, sekitar 1,1 tahun pada lima tahun pertama karier. Survei Gateway Commercial Finance di AS mencatat sekitar 1,8 tahun.
2. Apa alasan utama Gen Z resign?
Gaji, kurangnya pengembangan karier, burnout, dan masalah kesehatan mental, menurut Deloitte dan sejumlah survei lain.
3. Apakah Gen Z tidak loyal pada perusahaan?
Tidak sepenuhnya. Randstad menilai mereka berpindah demi berkembang, dan data EBRI menunjukkan masa kerja jangka panjang relatif stabil selama puluhan tahun.
4. Apakah sering pindah kerja membuat lebih bahagia?
Belum tentu. Survei Gateway Commercial Finance menemukan Gen Z yang sering berpindah 65 persen lebih mungkin mengalami burnout.
5. Apa yang bisa dilakukan perusahaan agar Gen Z bertahan?
Menawarkan gaji adil, jalur karier jelas, fleksibilitas kerja, dan dukungan kesehatan mental, sesuai temuan Deloitte dan Randstad.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288151/original/067339000_1752895807-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377480/original/078319600_1792466079-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322269/original/035290200_1786523414-cek_fakta_-_ombudsman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4705662/original/001851700_1704333030-Ilustrasi_resign__pindah_kerja__mengundurkan_diri.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5682746/original/008169100_1778554915-fujifilm_x100vi-3.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307396/original/063573700_1785030515-Ilustrasi_lowongan_kerja-26_Juli_2026c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4645120/original/074567700_1699758609-WhatsApp_Image_2023-11-12_at_09.53.52_429fc32f_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5341034/original/032598400_1757302100-gudang_garam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2743231/original/035378600_1551759008-Grab_SuperApp_Umumkan_Status_Decacorn_Lewat_Promo_di_Aplikasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3067235/original/024198100_1583244110-Ilustrasi_Wawancara_Kerja.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320657/original/033591700_1755602491-IMG_8641.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539480/original/043083000_1774601767-image-02.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4681516/original/045333400_1702271598-annie-spratt-g9KFpAfQ5bc-unsplash.jpg)