Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik tipis pada perdagangan Senin (19/10/2026). Harga emas Antam hari ini naik Rp 2.000 per gram.
Berdasarkan pantauan dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini naik menjadi Rp 2.574.000 per gram. Sedangkan kemarin, harga emas Antam dilego Rp 2.572.000 per gram.
Advertisement
Sejalan dengan harga jual, nilai jual kembali (buyback) emas Antam turut terkerek naik dengan angka yang sama, yaitu Rp 2.000. Harga buyback hari ini menjadi Rp 2.389.000 per gram. Harga buyback merupakan nominal yang diterima oleh pemilik emas ketika menjual kembali emas batangannya ke pihak Antam.
Pergerakan harga emas Antam bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar serta tren harga emas global. Sebagai catatan sejarah, rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) emas Antam pernah tercatat pada Kamis (29/1/2026) lalu di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback menembus Rp 2.989.000 per gram.
Dalam setiap transaksi emas Antam, berlaku ketentuan perpajakan sesuai regulasi yang berjalan. Pembelian emas batangan dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 0,25% dari harga dasar yang tertera.
Sementara itu, untuk transaksi buyback dengan nilai di atas Rp 10.000.000, konsumen dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5% yang dipotong langsung dari total nilai transaksi.
Berikut rincian harga emas Antam hari ini:
- 0,5 gram: Rp 1.337.000
- 1 gram: Rp 2.574.000
- 2 gram: Rp 5.098.000
- 3 gram: Rp 7.629.000
- 5 gram: Rp 12.685.000
- 10 gram: Rp 25.290.000
- 25 gram: Rp 63.060.000
- 50 gram: Rp 125.955.000
- 100 gram: Rp 251.760.000
- 250 gram: Rp 629.090.000
- 500 gram: Rp 1.247.900.000
- 1.000 gram: Rp 2.514.600.000.
Prediksi Harga Emas Sepekan
Harga emas dunia berpeluang naik menuju US$4.400–US$4.500 per troy ounce pada pekan mendatang di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian geopolitik, meskipun tekanan inflasi dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pasar.
Harga emas spot ditutup pada US$ 4.165,42 per troy ounce, turun 0,58% secara mingguan setelah sempat menyentuh US$ 4.073,35 dan gagal bertahan di atas US$ 4.200.
“Untuk pekan ketujuh berturut-turut, emas mengikuti pola yang sama, dengan tekanan jual pada paruh pertama pekan dan reli mulai Rabu,” kata analis pasar senior di FxPro, Alex Kuptsikevich dilansir dari Kitco, Minggu (18/10/2026).
Ia memperkirakan pelemahan dolar AS dapat mendorong harga emas menuju US$ 4.400–US$ 4.500 per troy ounce. Kuptsikevich menilai ketidakpastian politik menjelang pemilihan paruh waktu AS dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, ia menyebut kenaikan lebih lanjut membutuhkan perubahan signifikan dalam kebijakan The Fed atau pemerintah AS.
Sebaliknya, Fawad Razaqzada, analis pasar di StoneX Bullion, memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Ia menilai pemulihan pada akhir pekan belum cukup membuktikan bahwa koreksi harga telah berakhir.
"Untuk saat ini, prospek emas dalam jangka pendek masih sedikit bearish, meskipun saya memiliki pandangan bullish yang kuat terhadap emas dalam jangka panjang, terutama perak,” kata Razaqzada.
Razaqzada menilai harga emas perlu menembus zona resistensi di atas level saat ini untuk memberikan sinyal kenaikan yang lebih meyakinkan. Ia juga menyoroti US$ 4.100 per troy ounce sebagai level dukungan penting bagi pergerakan emas.
Survei Kitco
Kepala strategi pasar di SIA Wealth Management, Colin Cieszynski memilih bersikap netral terhadap prospek emas pada pekan mendatang. Ia memperkirakan harga emas bergerak di sekitar US$ 4.200 per troy ounce karena agenda data ekonomi AS relatif terbatas dan perhatian investor beralih ke laporan kinerja perusahaan.
"Saya bersikap netral terhadap emas untuk pekan mendatang. Harga emas tampaknya bertahan di sekitar level US$ 4.200 saat ini,” kata Cieszynski.
Sementara itu, Kepala Strategi Mata Uang di investingLive, Adam Button memperkirakan harga emas turun karena data inflasi AS meningkatkan risiko pengetatan kebijakan moneter. Kenaikan suku bunga berpotensi menekan emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Survei Kitco News terhadap 12 analis menunjukkan empat analis atau 33% memperkirakan harga emas naik pada pekan mendatang. Sebanyak dua analis atau 17% memperkirakan harga turun, sedangkan enam analis atau 50% memperkirakan harga bergerak mendatar atau belum menentukan arah.
Survei daring Kitco terhadap 139 investor ritel menunjukkan 43% responden memperkirakan harga emas naik, sementara 45% memprediksi penurunan dan 12% memperkirakan harga bergerak konsolidatif.
Pelaku pasar akan memantau data perumahan AS, klaim pengangguran mingguan, indeks manajer pembelian (PMI), dan sentimen konsumen pada pekan mendatang. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, dan arah harga emas.