Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Rusia menawarkan kerja sama strategis di bidang kapal penangkap ikan dan teknologi informasi (IT) kepada Indonesia. Penjajakan ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, Alexey Gruzdev, saat menemui Menteri Perindustrian RI Muhammad Sarmuji di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
"Ada beberapa penawaran yang diajukan, termasuk di bidang perkapalan, mereka menawarkan kerja sama kapal ikan. Mereka punya teknologi dan keahlian yang mungkin bisa kita kerjasamakan. Selain itu, juga ada di bidang IT yang mereka tawarkan," ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
Advertisement
Langkah ini menjadi bentuk nyata tindak lanjut atas kesepahaman antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu di Vladivostok pada 3 September 2026 lalu. Salah satu proyek yang tengah dimatangkan adalah studi bersama PT Pupuk Indonesia terkait rencana investasi pabrik pupuk urea di Vladivostok.
Di sektor perkapalan, kedua negara berpeluang mengembangkan teknologi kapal penangkap ikan modern yang langsung dilengkapi fasilitas pengolahan hasil laut di atas kapal. Meski demikian, potensi besar ini masih membutuhkan kajian mendalam terkait teknis, kelayakan komersial, hingga kesiapan galangan kapal nasional.
Peluang kolaborasi ini juga terbuka lebar melalui kemitraan antara Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) dengan raksasa perkapalan Rusia, Ak Bars. Kerja sama ini diarahkan pada pengembangan desain, rekayasa, produksi komponen, hingga layanan perawatan kapal.
Lima Sektor Industri Prioritas
Dalam pertemuan tersebut, Sarmuji memaparkan lima sektor utama yang membanggakan potensi kolaborasi, yakni permesinan dan rekayasa, perkeretaapian, telekomunikasi dan teknologi digital, pupuk dan bahan kimia, serta industri perkapalan.
"Kerja sama pada sektor-sektor tersebut kami harapkan dapat memperluas kemampuan industri nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia," kata Sarmuji.
Di sektor digital dan telekomunikasi, kedua negara berpotensi menggarap perangkat telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga otomatisasi industri. Sarmuji menegaskan, Indonesia juga menyambut hangat peluang investasi di ranah pengolahan pangan, farmasi, furnitur, hingga hilirisasi industri.
Peta Perdagangan dan Langkah Konkret
Hubungan dagang kedua negara menunjukkan dinamika yang kuat. Berdasarkan data Trade Map tahun 2025, ekspor utama Indonesia ke Rusia didominasi oleh lemak dan minyak hewani/nabati senilai US$ 972,84 juta, disusul bahan kimia anorganik (US$ 300,34 juta), kakao (US$ 122,68 juta), serta kopi, teh, dan rempah-rempah (US$ 111,22 juta).
Sebaliknya, impor Indonesia dari Rusia pada 2025 didominasi oleh bahan bakar mineral dan minyak mineral senilai US$ 1,76 miliar, pupuk sebesar US$ 697,96 juta, serta produk besi dan baja sebesar US$ 268,70 juta.
Untuk merealisasikan berbagai peluang ini, Kemenperin mendorong perumusan daftar proyek industri prioritas. "Nanti kita akan dalami lebih lanjut. Pada prinsipnya, Kementerian Perindustrian menyambut baik dan siap memfasilitasi dengan stakeholder yang lain. Kita juga akan minta Rusia untuk menyiapkan langkah-langkah lanjutannya," kata Sarmuji.
Kemitraan industri kedua negara sebelumnya sempat diperkuat saat Indonesia tampil sebagai Negara Partner Resmi (Official Partner Country) di ajang pameran INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia, Juli lalu. Sarmuji berharap keanggotaan Indonesia dan Rusia dalam BRICS dapat menjadi pijakan kuat untuk memperluas arus investasi dan kerja sama manufaktur di masa depan.