Liputan6.com, Jakarta - Warga Desa Rowobelang, Batang Jawa Tengah yang diduga keracunan PMT bertambah. Warga yang menjalani perawatan di RSUD Kalisari Batang bertambah empat orang, dari 10 menjadi 14 pasien.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang mencatat 41 warga mengalami gejala. Sebanyak 13 orang merupakan laki-laki. Sedangkan 28 orang lainnya merupakan perempuan. Puluhan pasien asal Dukuh Rowosoko Desa Rowobelang mayoritas mengeluhkan diare. Kemudian sakit perut. Ada pula yang hanya mengalami mual, pusing, muntah dan lemah.
Advertisement
Keluhan lain yang ditemukan yakni perut melilit, sakit kepala, serta demam. Ada pula yang gejala ringan seperti menggigil, perut kembung dan sesak napas. Bahkan satu orang ada yang mengalami lebih dari satu keluhan.
Dinkes Batang telah melakukan penyelidikan epidemiologi dan analisis data kasus. Pemeriksaan juga mencakup aspek higiene dan sanitasi, komunikasi risiko, serta surveilans aktif.
Lima jenis sampel telah dikirim ke laboratorium rujukan. Meliputi sampel kacang hijau, roti tawar, tahu bacem, feses kasus, dan air sumur bor dari rumah Ny. E.
Pemeriksaan laboratorium tersebut menjadi bagian dari investigasi untuk menelusuri kemungkinan faktor yang berkaitan dengan munculnya gejala. Hingga data terakhir diperbarui, Dinkes masih menetapkan kejadian itu sebagai dugaan keracunan pangan.
Belum ada hasil pemeriksaan yang dapat memastikan makanan atau sumber tertentu sebagai penyebab munculnya gejala pada warga. Keterangan tersebut pun terkonfirmasi oleh Khairunnisa selalu Kasi Surveilans, imunisasi dan KLB Dinas Kesehatan Batang.
Menu Bubur Kacang Hijau Dicurigai
Polresta Batang masih menyelidiki dugaan keracunan yang dialami sejumlah warga. Polisi kini memeriksa sampel makanan yang dikonsumsi warga, untuk memastikan sumber penyebab munculnya gejala keracunan.
Kasat Reskrim Polresta Batang, Kompol Bintoro Thio Pratama, mengatakan sampel makanan telah diambil dan dikirim untuk menjalani pemeriksaan di laboratorium.
Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga bubur kacang hijau menjadi salah satu makanan yang berpotensi memicu keracunan. Pasalnya, makanan tersebut dimasak pada pagi hari, tetapi baru dibagikan kepada warga pada sore hari.
“Berdasarkan hasil penyelidikan, makanan kacang hijau itu dibuat pada pagi hari dan seharusnya diberikan pada pagi hari. Namun, karena ada satu atau dua hal, makanan tersebut kemudian dibagikan pada sore hari. Hal itu kemungkinan menjadi salah satu penyebab keracunan,” ujar Bintoro kepada wartawan.
Meski demikian, polisi belum dapat memastikan bubur kacang hijau sebagai penyebab keracunan. Polresta Batang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab warga mengalami gejala keracunan.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 34 warga Dukuh Rowosoko, Desa Rowobelang Batang terdiri dari lansia dan balita di Kabupaten Batang Jawa Tengah keracunan.
Diduga, menu bubur kacang hijau, tahu bacem, dan roti tawar yang dibagikan posyandu setempat dalam Program Pemberian Makanan Tamban (PMT) menjadi pemicu. Pembagian menu sehat tersebut dilakukan pada Senin sore (21/9/2026).
Beberapa saat setelah menyantap menu yang dibagikan, korban mengalami berbagai keluhan kesehatan.
Informasi yang dihimpun Liputan6.com, agenda rutin Posyandu di Dukuh Rowosoko Desa Rowobelang awalnya dijadwalkan pada Senin pagi (21/9/2026). Namun karena ada salah satu warga kampung setempat yang meninggal dunia, pelaksanaan agenda Posyandu diubah pada sore harinya. Padahal menu PMT bagi peserta Posyandu telah dimasak sejak pagi.
Hingga Rabu (23/9/2026) pukul 10.00 WIB, penanganan masih berjalan. Dinkes Batang melanjutkan penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan higiene dan sanitasi, surveilans aktif, serta pengujian spesimen di laboratorium rujukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kejadian di Desa Rowobelang.