Nyala Lilin dan Gema Doa di Kalianda untuk 8 Orang Hilang di Selat Sunda

Cahaya lilin jadi simbol bahwa 8 orang yang hingga kini belum ditemukan terus dikenang dalam doa.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 23 September 2026, 12:14 WIB
1.000 Lilin di Kalianda, Doa untuk 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal yang Hilang di Selat Sunda (Foto: Ardi Munthe/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan cahaya lilin menyala di Tugu Pancasila, Kalianda, Lampung Selatan, Senin (21/9/2026) malam. Di tengah gelapnya malam, para jurnalis dan pegiat pers berkumpul dalam suasana duka, mengirimkan doa untuk lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Aksi bertajuk "1.000 Lilin, Renungan dan Doa Bersama" tersebut digelar atas inisiatif PWI Lampung Selatan, SMSI, dan JTI Krakatau Raya.

Para peserta mengenakan pakaian hitam sebagai simbol duka dan solidaritas. Satu per satu lilin dinyalakan hingga menerangi kawasan Tugu Pancasila.

Mereka kemudian mengikuti renungan dan doa bersama untuk delapan orang yang hilang saat melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan.

 

Menjaga Harapan di Tengah Ketidakpastian

1.000 Lilin di Kalianda, Doa untuk 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal yang Hilang di Selat Sunda (Foto: Ardi Munthe/Liputan6.com)

Penasehat PWI Lampung Selatan, Rudi Apriadi, mengatakan 1.000 lilin yang dinyalakan bukan sekadar simbol penerangan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk doa sekaligus harapan agar para jurnalis dan kru kapal dapat kembali berkumpul dengan keluarga.

"Kita berkumpul menyalakan lilin, penuh doa. Menitipkan harapan, menguatkan keluarga, serta menyuarakan satu pesan bahwa kita masih menunggu," kata Rudi dikonfirmasi, Rabu (23/9/2026).

Dia mengatakan cahaya lilin juga menjadi simbol bahwa keluarga, rekan, dan sesama jurnalis tidak melupakan delapan orang yang hingga kini masih dikenang dalam doa.

"Semoga cahaya dari 1.000 lilin ini menjadi doa yang menembus gelapnya laut, menjadi kekuatan bagi keluarga yang menanti dan menjadi pengingat bahwa mereka tak sendiri," jelasnya.

Ketua PWI Lampung Selatan, Edwin Apriandi mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya keselamatan dalam menjalankan profesi jurnalistik.

Terlebih, kata dia, wartawan kerap harus bekerja di wilayah yang memiliki risiko keselamatan saat menjalankan tugas peliputan.

"Saya berharap dengan kegiatan 1.000 lilin ini, apa pun kemungkinan yang akan terjadi, yang kita tidak pernah tahu di hari esok itu seperti apa, harapan itu jangan pernah dipadamkan," kata Edwin.

Menurut Edwin, solidaritas tersebut juga menjadi pengingat bagi seluruh insan pers agar aspek keselamatan kerja tidak diabaikan ketika menjalankan tugas.

"Ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya keselamatan kerja bagi para pemburu berita yang kerap bertaruh nyawa di garis depan demi sebuah informasi," ujarnya.

 

Pencarian Lima Jurnalis dan 3 Kru Kapal Dihentikan

1.000 Lilin di Kalianda, Doa untuk 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal yang Hilang di Selat Sunda (Foto: Ardi Munthe/Liputan6.com)

Delapan orang tersebut sebelumnya berangkat menggunakan kapal KM Arupadatu I dari Pantai Carita, Banten, pada Senin (7/9/2026).

Mereka melakukan perjalanan untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelum akhirnya kehilangan kontak di perairan Selat Sunda.

Lima jurnalis dalam rombongan tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donald, jurnalis freelance.

Mereka berada di kapal bersama Warta selaku kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto sebagai pemandu perjalanan.

Hilangnya delapan orang tersebut kemudian memicu operasi pencarian oleh tim SAR gabungan di sejumlah wilayah perairan Selat Sunda.

Tim SAR gabungan melakukan pencarian selama 10 hari. Dalam operasi tersebut, petugas menghadapi berbagai kendala, mulai dari arus laut yang kuat, gelombang, hingga kondisi medan perairan yang menyulitkan proses pencarian.

Basarnas kemudian menghentikan operasi pencarian resmi pada Kamis (17/9/2026) malam setelah seluruh upaya pencarian dilakukan secara maksimal.

Jurnalis dan pegiat pers di Lampung Selatan berkumpul dalam suasana duka, mengirimkan doa untuk lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak. (Liputan6.com/Ardi Munthe).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya