Studi: Dukungan bagi Wanita Cuti Karier Harus Dimulai Lebih Dini

Studi oleh Singapore Council of Women's Organisations (SCWO) menunjukkan wanita yang kembali bekerja membutuhkan dukungan.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 22 September 2026, 17:52 WIB
Ilustrasi wanita karier. (Foto:Magnet.me/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Dukungan bagi wanita yang kembali ke dunia kerja harus dimulai dari sebelum mereka meninggalkan pekerjaannya. Ini merupakan salah satu temuan utama dari studi yang dilakukan Singapore Council of Women's Organisations (SCWO) yang dirilis Jumat, 18 September 2026 dengan judul “Women's Workforce Re-entry: Challenges, Barriers & Opportunities”.

Melansir CNA, Selasa (22/9/2026), studi tersebut melihat pengalaman wanita yang kembali bekerja setelah cuti karier, termasuk mencari pekerjaan baru, kembali memasuki tempat kerja, dan tetap bekerja.

Ini merupakan bagian pertama dari program penelitian menuju tindakan tiga tahun oleh SCWO, yang akan berfokus pada kekerasan rumah tangga pada 2027 dan kesejahteraan pengasuh pada 2028.

Chief executive officer SCWO, Yan Ping Koh, mengatakan dukungan yang sebenarnya harusnya dimulai sebelum dia meninggalkan dunia pekerjaan dan berlanjut saat dia kembali.

“Kembali bekerja bukanlah satu momen di mana seorang wanita kembali mencari pekerjaan lagi, jadi dukungannya harus mulai sebelum dia meninggalkan dunia pekerjaan dan berlanjut setelah dia kembali lagi,” ujarnya.

Dia menegaskan, dukungan seharusnya tidak berhenti di memberikan pekerjaan kembali kepada wanita.

“Kita harus melihat lebih jauh dibanding sesederhana mengembalikan wanita ke dunia kerja dan mulai melihat apakah peluang yang cocok ada, apakah tempat kerja siap menyokong kembalinya mereka dan tugas mereka sebagai pengasuh, dan apakah wanita bisa menetap dan berprogres saat mereka kembali,” dia menjelaskan.

Studi yang Berfokus pada Pengalaman Perempuan di Berbagai Tahap Kehidupan

Ilustrasi wanita karier (Foto:Magnet.me /Unsplash)

Studi yang merupakan sebuah kolaborasi dengan unit Wanita dan Keluarga NTUC ini melibatkan 20 focus group discussion (FGD) dengan 120 wanita pada Juli, sebuah jajak pendapat daring dari 502 wanita yang tinggal di Singapura berusia 24 ke atas pada Agustus, serta tinjauan terhadap inisiatif kembali bekerja di Singapura dan di luar negeri.

FGD tersebut mencakup perempuan muda yang kembali bekerja setelah cuti melahirkan, perempuan di tengah karier yang pernah mengambil cuti karier terkait pengasuhan, perempuan berusia 50 hingga 65 tahun yang telah lama tidak aktif di dunia kerja, serta perempuan yang pernah gagal dalam upaya kembali bekerja.

Menurut Koh, temuan ini tidak mewakili seluruh perempuan di Singapura secara nasional. Sebaliknya, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman perempuan pada berbagai tahap kehidupan dan titik-titik tertentu dalam perjalanan mereka kembali ke dunia kerja.

Kesulitan Mencari Pekerjaan yang Cocok

Studi oleh Singapore Council of Women's Organisations (SCWO) menunjukkan kebutuhan utama wanita yang cuti karier. /Copyright unsplash.com/jeshoots

Sebanyak 299 wanita yang mengisi jajak pendapat tersebut pernah atau sedang dalam cuti karier, dan 80% di antaranya mengatakan mereka ingin kembali bekerja.

Di saat yang sama, hampir 70% wanita percaya mengambil cuti karier membuat mencari pekerjaan yang cocok semakin sulit.

Wanita-wanita di studi tersebut mendeskripsikan mereka mempersiapkan diri untuk kembali bekerja dengan memperbarui daftar riwayat hidup, mengasah kembali keterampilan, hingga mencari pekerjaan dari berbagai kanal. Namun, mereka tidak selalu menemukan jabatan yang sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan mereka akan stabilitas.

Kesepakatan kerja fleksibel menjadi dukungan kembali bekerja yang paling diinginkan, menurut 61% responden.

Temuan SCWO menunjukkan bahwa fleksibilitas penting di berbagai titik karier seorang wanita. Itu bisa mencegah seseorang pergi karena tekanan mengasuh, membuat kembali bekerja lebih memungkinkan, dan membantu untuk menetap di pekerjaan tersebut setelahnya.

Dalam FGD tersebut, beberapa wanita mengatakan mereka telah menerima bayaran atau masa kerja lebih rendah dalam kesepakatannya. Namun, studi tersebut juga melihat bahwa fleksibilitas saja tidak membuat sebuah pekerjaan bisa berlanjut jika beban kerjanya sulit dikerjakan atau peluang pengembangan kariernya terbatas

Beberapa yang kembali setelah cuti lebih singkat biasanya membutuhkan lebih sedikit pelatihan ulang. Sementara, cuti lebih lama artinya jaringan profesionalnya lebih lemah dan harus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan praktik di tempat kerja.

Pekerja Professionals, Managers, Executives, dan Technicians (PMET) yang kembali bekerja lebih mengutamakan dukungan yang disesuaikan dengan industri, peran, dan jenjang karier mereka. Sementara itu, para pekerja non-PMET yang kembali bekerja lebih mementingkan pelatihan praktis, jadwal kerja yang teratur, tempat kerja yang mudah diakses, dan gaji yang layak.

Kebutuhan Dukungan yang Lebih Terintegrasi

Studi oleh Singapore Council of Women's Organisations (SCWO) menunjukkan kebutuhan utama wanita yang cuti karier. (Foto: unsplash.com)

Studi SCWO juga menemukan selain dukungan publik, Singapura sudah memiliki 33 inisiatif non-pemerintah untuk kembali bekerja, termasuk Program Kembali Bekerja dari organisasi kesehatan mental Club Heal dan program Kembali Bekerja dari lembaga sosial ABLE (Abilities Beyond Limitations and Expectations).

Koh mengatakan oleh karena itu, masalahnya bukanlah tentang memiliki lebih banyak program, melainkan tentang menghubungkan dukungan secara lebih baik di seluruh alurnya, mulai dari mempertahankan perempuan dalam pekerjaan hingga menemukan peran yang sesuai dan mendukung mereka setelah kembali bekerja.

SCWO selanjutnya akan mendirikan SCWO’s CoLab, sebuah inisiatif yang akan mengkaji berbagai bidang, termasuk retensi di tempat kerja, akses ke pekerjaan yang sesuai dan fleksibel, praktik perekrutan pemberi kerja, berbagai bentuk dukungan bagi pekerja yang kembali bekerja, serta kondisi yang diperlukan agar perempuan tetap bekerja setelah kembali.

Melalui inisiatif ini, organisasi anggota juga akan mengembangkan respons yang dipimpin oleh komunitas untuk mengatasi kesenjangan yang diidentifikasi oleh penelitian tersebut.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya