Survei: 100% Analis Prediksi Harga Emas Naik

Survei Kitco menunjukkan 100% analis Wall Street memprediksi harga emas naik pekan depan setelah penguatan usai keputusan The Fed.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 21 September 2026, 06:30 WIB
Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas kembali menguat setelah melewati perdagangan yang bergejolak sepanjang pekan kemarin. Tekanan awal akibat kenaikan harga minyak, imbal hasil Treasury AS yang mendekati 5%, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve mulai mereda setelah keputusan tersebut diumumkan.

Pada perdagangan pekan kemarin, mengutip Kitco, Senin (21/9/2026), harga emas spot mengawali di sekitar US$ 4.340 per troy ounce. Namun, tekanan meningkat hingga emas turun ke sekitar US$ 4.279,30 pada Selasa, level terendah lebih dari sebulan.

Setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%-4%, harga emas sempat kembali tertekan dan menyentuh titik terendah pekanan sekitar US$ 4.261,80.

Namun, harga emas kemudian bangkit. Penurunan harga minyak, pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil Treasury membantu emas naik hingga US$ 4.400,60 pada Jumat (18/9/2026).

Harga kemudian terkoreksi dan ditutup di sekitar US$ 4.377 per troy ounce. Kinerja tersebut membuat emas mencatat kenaikan mingguan sekaligus mengakhiri tren penurunan selama tiga pekan.

100% Analis Wall Street Prediksi Harga Emas Naik

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Pergerakan harga emas tersebut membuat sentimen analis berubah lebih positif. Survei mingguan Kitco News menunjukkan seluruh 16 analis Wall Street yang berpartisipasi memperkirakan harga emas akan kembali naik pada pekan ini.

Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler, mengatakan bahwa kenaikan emas pekan kemarin masih relatif terbatas, tetapi pergerakan harga menunjukkan tanda positif.

“Emas di pasar spot mencatat kenaikan untuk pertama kalinya dalam empat pekan, meskipun kenaikannya masih tipis, yakni sedikit di atas 0,5%,” ujar Chandler.

Adam Button, Head of Currency Strategy investingLive, juga melihat peluang kenaikan.

“Naik,” kata Button.

“Pembeli emas mulai bermunculan setelah FOMC mengambil sikap hawkish. Itu cukup mengesankan,” tambah dia.

Senior Market Analyst Barchart.com, Darin Newsom, turut memperkirakan harga emas bergerak naik pekan ini. Menurutnya, indikator teknikal menunjukkan meningkatnya minat beli investor.

Sementara itu, Mark Leibovit, Publisher VR Metals/Resource Letter, memberikan pandangan singkat, “BUY,” dan menyebut kondisi tersebut sebagai cycle low.

Adrian Day dari Adrian Day Asset Management menilai kondisi pasar obligasi AS dan inflasi yang bertahan dapat menjadi faktor positif bagi emas.

Investor Ritel Juga Makin Optimistis

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Sentimen positif tidak hanya datang dari analis Wall Street. Survei daring Kitco juga menunjukkan mayoritas investor ritel memperkirakan harga emas kembali naik pekan ini.

Dari 220 suara dalam jajak pendapat tersebut, sebanyak 127 investor atau 58% memperkirakan harga emas naik. Sebanyak 52 investor atau 24% memperkirakan harga emas turun, sedangkan 41 investor atau 19% memperkirakan harga bergerak mendatar.

Sean Lusk, Co-Director Commercial Hedging Walsh Trading, melihat sejumlah faktor yang dapat mendukung harga emas hingga Oktober. Ia menyoroti kemungkinan penurunan harga energi serta faktor musiman dari permintaan fisik emas.

“Saya pikir ada cukup banyak data positif di sini. Jadi, bahkan jika mereka kembali menaikkan suku bunga, saya melihat harga emas bisa melonjak dari level saat ini hingga Oktober, kemudian kemungkinan mulai mereda menjelang pemilu paruh waktu,” ujar Lusk.

Menurut Lusk, risiko utama berasal dari kemungkinan kenaikan kembali harga minyak mentah hingga US$ 110-US$ 115 per barel.

Untuk sementara, ia melihat harga emas berpeluang kembali ke kisaran US$ 4.300-US$ 4.400.

Namun, prediksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan inflasi, kebijakan The Fed, harga minyak, imbal hasil obligasi AS, serta kondisi geopolitik. Survei Kitco mencerminkan ekspektasi para responden, bukan kepastian arah harga emas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya