Bahlil Bakal Impor Minyak Mentah dengan Harga Murah

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menuturkan, pemerintah mencari harga terbaik sehingga tidak membebankan APBN untuk pengadaan minyak.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 18 September 2026, 06:53 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, pertimbangan impor minyak mentah dari luar negeri. Harga jual yang lebih murah menjadi salah satu aspek pertimbangannya.

Bahlil mengaku tidak condong pada negara tertentu penghasil minyak bumi saja. Selain ketersediaan, aspek keekonomian juga menjadi perhatian pemerintah.

"Pemerintah Indonesia akan selalu berpikir, bertindak hati-hati dengan mempertimbangkan dan memprioritaskan asas-asas keekonomian. Di samping kepastian juga asas keekonomian, artinya barang ada itu penting, tapi juga harus ekonomis," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat (18/9/2026).

Indonesia masih perlu mengimpor minyak mentah sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi konsumsi nasional sebanyak 1,6 juta barel per hari. Seiring dengan kebutuhan yang cukup banyak itu, Bahlil tak ingin impor minyak mentah yang dilakukan menambah beban APBN.

"Sehingga tidak membebankan APBN kita atau tidak membebankan rakyat kita terhadap nilai daripada apa yang kita akan beli. Kita cari yang terbaik, kita cari yang lebih murah, mana, itu yang kita akan beli," jelas dia.

Bahlil juga memastikan kecukupan minyak mentah untuk kebutuhan Tanah Air, termasuk pemenuhan atas impor dari Rusia. "Saya menyampaikan bahwa ketersediaan untuk crude kita insyaallah aman, termasuk bagian daripada Rusia, nanti yang teknis lainnya dari Rusia saya akan menjelaskan pada waktu yang tepat," urainya.

Lebih Murah dari Minyak Mentah Afrika

Sebelumnya, Bahlil Lahadalia mengungkapkan alasan pemerintah mendatangkan minyak mentah dari Rusia. Pertimbangan harga menjadi salah satu alasannya.

Bahlil menyadari pentingnya menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Namun, ada pertimbangan daru sisi harga. Dia sempat mendapat lampu hijau, minyak dari negara Afrika bisa diimpor, tapi harganya disebut lebih mahal.

"Nah, kita mencari formulasi, kemudian kita mengalihkan (impor) crude kita, dari Middle East ke beberapa negara lain, di Afrika, di Angola, di mana-mana kita cari. Itu sudah clear, nah, yang menjadi masalah adalah harga," ujar Bahlil dalam InTechSEA 2026, di Jakarta, Senin, 14 September 2026.

 

Pertimbangkan Harga

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di JICC Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026). (Liputan6.com/Arief)

Soal harga yang terpengaruh kondisi geopolitik tadi, Bahlil pun melapor ke Presiden Prabowo Subianto. Berharap mendapatkan pertimbangan mengenai sumber minyak mentah, termasuk kepastian harganya.

"Saya katakan kepada Bapak Presiden, Pak, ini urusan energi ini urusan hajat hidup orang banyak. Kita harus mampu membuat rumusan kebijakan, yang sekalipun kondisi global itu terjadi yang luar biasa, tapi kepastian terhadap harga harus kita jamin," ucap dia, mengulang percakapannya.

Alhasil, Bahlil menemukan sumber minyak mentah lain dengan harga yang lebih baik, yakni berasal dari Rusia. "Yang ujung kesimpulannya adalah, yang ujungnya adalah Bapak Ibu semua, kita sekarang mendapat crude dari beberapa negara termasuk Rusia," katanya.

 

Negosiasi Pengadaan Minyak

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di JICC Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026). (Liputan6.com/Arief)

Bahlil lantas mengisahkan ketika proses negosiasi pengadaan minyak mentah asal Rusia tersebut. Menurutnya, tidak ada masalah Indonesia berdagang dengan pihak manapun.

"Waktu saya melakukan negosiasi dengan Menteri Energi Rusia, orang mengatakan bagaimana dengan negara lain, adidaya dan segala macam, saya katakan negara Indonesia ini negara merdeka, kita menganut mazhab politik bebas aktif, kita juga menganut mazhab ekonomi bebas aktif," tuturnya.

"Karena itu tidak boleh ada satu negara yang bisa mengintervensi atau mengatur negara kesatuan Republik Indonesia. Yang penting barang ada, dan murah. Itu yang paling penting, urusan ini mau dari laut sana, laut sini, langit sana, yang penting ada barang, harga murah," sambung Bahlil Lahadalia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya