Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami perubahan bentuk tubuhnya, akibat penumpukan matrial vulkani dari aktivitas erupsi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno mengungkapkan, Gunung Anak Krakatau saat ini tengah membangun kembali tubuhnya setelah sebagian kubah gunung tersebut longsor pada 2018 lalu.
Advertisement
"Sebetulnya Gunung Anak Krakatau ini lagi membangun tubuhnya kembali, karena kubah yang tahun 2018 sudah longsor. Makanya sekarang lagi membangun tubuhnya kembali," kata Suwarno kepada Liputan6.com, Jumat (11/9/2026).
Suwarno menjelaskan, bentuk Anak Krakatau yang terlihat melebar akibat aktivitas erupsi tidak perlu dimaknai sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
Material vulkanik yang terus dikeluarkan dari dalam gunung akan menumpuk secara bertahap dan membentuk kembali tubuh Gunung Anak Krakatau.
"Masalah pengaruh melebar itu nantinya akan tertutup kembali oleh material yang mereka keluarkan. Contohnya mulai dari bulan Juli sampai saat ini," ungkapnya.
Anak Krakatau Punya Siklus Sendiri
Terkait kemungkinan Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi besar, Suwarno mengatakan setiap gunung api memiliki siklus aktivitas yang berbeda-beda.
Karena itu, tidak bisa dipastikan sebuah gunung api akan mengalami erupsi besar setiap tahun.
"Semua gunung mempunyai siklus masing-masing. Ada yang lima tahun, ada yang satu tahun, ada yang 10 tahun, ada pula delapan tahun," jelas Suwarno.
Dia mengatakan, Gunung Anak Krakatau juga memiliki siklus aktivitasnya sendiri.
Masyarakat diminta tidak berspekulasi terkait kemungkinan erupsi besar dan tetap mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG.
Suwarno juga mengingatkan nelayan, wisatawan, dan pendaki untuk mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan, yakni tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Larangan tersebut diberlakukan untuk mengantisipasi bahaya lontaran batu pijar, awan panas, dan material vulkanik lainnya.