Rupiah Tertekan ke 17.512 per Dolar AS, Ini Sentimen yang Membayangi

Rupiah hari ini bergerak melemah ke 17.512 per dolar AS di tengah tekanan dolar AS dan kenaikan harga minyak.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 September 2026, 11:00 WIB
Petugas valas menghitung mata uang dolar AS di DolarAsia Valas di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Banten. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada pembukaan perdagangan Kamis (10/9/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen global, mulai dari rencana pembelian kembali atau buyback surat utang AS hingga penantian data inflasi AS.

Rupiah dibuka di level 17.512 per dolar AS, melemah 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di 17.511 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pasar saat ini mencermati rencana Departemen Keuangan AS terkait besaran buyback surat utang pemerintah AS atau UST bertenor panjang.

"Dolar AS berada di bawah tekanan seiring investor mengantisipasi pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai besaran rencana buyback surat utang UST bertenor panjang," katanya dikutip dari Antara. 

Sebelumnya, pemerintah AS mengindikasikan nilai buyback setidaknya mencapai US$ 4 miliar. Namun, sejumlah analis memperkirakan realisasinya dapat lebih besar.

Di pasar valuta asing, yen Jepang juga melanjutkan penguatan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengingatkan pelaku pasar agar tidak mengambil posisi yang berlawanan dengan yen.

 

Data Inflasi AS

Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain perkembangan mata uang global, perhatian investor tertuju pada data inflasi AS. Pasar menunggu rilis Consumer Price Index (CPI) yang dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Data tersebut menjadi semakin penting karena The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada pekan depan. Investor akan mencermati apakah perkembangan inflasi dapat memengaruhi keputusan suku bunga.

Sentimen terhadap rupiah juga datang dari pasar komoditas, terutama harga minyak yang terus mengalami kenaikan.

Penguatan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi.

Pejabat AS melaporkan Iran berupaya menyerang kapal Angkatan Laut AS pada Senin (7/9/2026). Sebelumnya, Iran juga dilaporkan menargetkan sebuah kapal induk dengan rudal balistik pada akhir pekan.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan sebuah rudal AS menghantam kapal tanker minyak kecil sekitar empat mil dari Pulau Kharg pada Selasa (8/9/2026).

 

Perkembangan Geopolitik

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Tekanan terhadap harga minyak turut diperkuat oleh kondisi pasokan. Persediaan minyak mentah AS tercatat turun 0,3 juta barel pada pekan lalu.

Sementara itu, drone Ukraina dilaporkan menyerang infrastruktur di Novorossiysk, Rusia, pada Rabu (9/9/2026). Wilayah tersebut merupakan salah satu terminal minyak utama Rusia yang berada di kawasan Laut Hitam.

Perkembangan geopolitik tersebut menjadi perhatian pasar karena gangguan terhadap produksi, distribusi, maupun infrastruktur energi dapat memengaruhi pasokan minyak global.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral di berbagai negara, termasuk The Fed.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan hari ini.

"Hari ini, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.475-Rp17.600 per dolar AS," ungkap Josua.

Dengan demikian, pelaku pasar akan mencermati perkembangan dolar AS, hasil data inflasi AS, kebijakan The Fed, serta pergerakan harga minyak sebagai faktor yang berpotensi menentukan arah rupiah dalam perdagangan selanjutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya