Liputan6.com, Jakarta - Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) ikut merasakan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Wilayah hidup badak dan wisata itu mulai terkena hujan debu vulkanik.
"Untuk debu tipis sudah sampai ke kawasan TNUK, berdasarkan peta sebaran debu, debu tebal mengarah ke Sumatera," ujar Kepala Balai TNUK Ardi Andono, Minggu (6/8/2026).
Advertisement
Jarak antara TNUK dengan GAK yang berada di Selat Sunda, sekira 50 kilometer. Getaran dan suara gemuruh letusan juga terasa hingga ke kantor Balai TNUK yang berada di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten.
"Kawasan TNUK berjarak 50 km dari anak krakatau, untuk getaran dan gemuruh teramati terasa hingga kantor BTNUK," terangnya.
Untuk menjaga keamanan dan kesehatan para pegawai TNUK, saat ini seluruh aktivitas di sekitar perairan dihentikan. Mereka diminta bersiaga dan berhati-hati.
"Seluruh staf dalam keadaan aman, dan seluruh aktifitas di laut dihentikan sementara," tuturnya.
Di sisi lain, abu vulkanik juga mengotori rumah hingga kendaraan masyarakat. Salah satunya dirasakan oleh Carwadi, warga Desa Karyawangi, Kecamatan Pulosari , Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
"Sudah di sapu, dibersihkan, tidak selang lama abunya ada lagi," ucapnya.
Dirinya mengaku jendela rumahnya terus bergetar, serta terasa seperti gempa bumi. Bahkan suara dentuman Gunung Anak Krakatau (GAK) terasa dirumahnya, menyebabkan mereka merasa khawatir.
"Jendela bergetar, seperti ada gempa kecil, dari semalam sampai dengan sekarang dentuman Gunung Anak Krakatau masih terdengar samapi ke sini," jelasnya.