Pemulihan Pasar Modal Semakin Terbuka, 2 Faktor Ini Jadi Kunci

Sejumlah sentimen akan mempengaruhi Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2026. Namun, pemulihan pasar modal dinilai semakin terbuka.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 September 2026, 08:20 WIB
Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah faktor akan mempengaruhi pasar modal Indonesia yakni suku bunga dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah faktor itu, pemulihan pasar modal Indonesia dinilai semakin terbuka.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim menuturkan, pemulihan pasar saham membutuhkan syarat terutama dari arah rupiah dan suku bunga. Ia mengatakan, saat ini investor mempertanyakan kapan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat kembali menguat usai merosot sepanjang 2026.

“Pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG bisa kembali rebound. Jika melihat sejarah, IHSG beberapa kali menunjukkan pemulihan berbentuk V setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat yang jelas, terutama dari arah rupiah dan suku bunga,” tutur Shim dikutip dari Antara, Minggu (6/9/2026).

Shim menuturkan, nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun memiliki korelasi negatif yang kuat terhadap IHSG. Hal ini berarti pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi cenderung memberikan tekanan terhadap pasar saham.

"Sebaliknya, stabilisasi rupiah dan penurunan imbal hasil berpotensi membuka ruang bagi pemulihan IHSG," ujar dia.

Shim memprediksi, tekanan terhadap mata uang rupiah telah mencapai puncaknya pada semester I 2026.

"Jika pelemahan rupiah sudah melewati titik terburuknya, maka alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi semakin lemah. Ini penting bagi pasar, karena rupiah dan suku bunga merupakan dua prasyarat utama untuk membuka jalan pemulihan IHSG,” tutur Shim.

Terkait suku bunga, Shim menuturkan, pelaku pasar mulai memprediksi Bank Indonesia (BI) tidak akan melanjutkan kenaikan suku bunga hingga kuartal IV 2026 dan 2027.

"Namun demikian, arah kebijakan tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah," kata Shim. Ia menilai imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di level sekitar 7 persen, masih sebanding dengan negara-negara berperingkat BBB.

"Secara teoritis, imbal hasil tersebut berpotensi berada di kisaran 6 persen, dengan mempertimbangkan tingkat inflasi negara pembanding," tutur Shim.

 

Faktor Lain

Ilustrasi IHSG (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Shim menambahkan, faktor lain yang dinilai mendukung pemulihan pasar yakni likuiditas domestik, dengan uang beredar (M2) Indonesia tercatat Rp 10.371 triliun atau tumbuh 8 persen secara (year on year).

“Kami melihat investor masih memiliki likuiditas yang cukup besar. Ketika sentimen mulai berbalik dan dana mulai bergerak kembali ke pasar saham, pergerakan harga dapat berlangsung cukup cepat,” kata Shim.

Dari sentimen global, ia menuturkan, arus dana asing mulai menunjukkan perbaikan, sejak Juni 2026 investor asing tercatat mulai kembali membeli obligasi dan saham Indonesia.

"Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat mendorong rotasi dana ke aset pasar berkembang, termasuk Indonesia," kata Shim.

Sejak Juni 2026, Samuel Tumbuh Bersama melihat valuasi saham domestik mulai menarik, yaitu IHSG memiliki trailing price-to-earnings ratio (P/E) sekitar 14,2 kali, atau mendekati level terendah 10 tahun sebesar 12,5 kali dan berada di bawah rata-rata 10 tahun sekitar 20,6 kali.

 

Peluang Pemulihan Semakin Terbuka

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dengan valuasi yang lebih rendah, fundamental korporasi yang masih solid, serta potensi stabilisasi rupiah dan suku bunga, ia menilai peluang kenaikan pasar mulai lebih besar dibandingkan risiko penurunan.

“Valuasi pasar saat ini sudah berada di level yang lebih menarik, sementara fundamental korporasi Indonesia masih solid. Dengan rupiah yang lebih stabil, ekspektasi suku bunga yang mereda, likuiditas domestik yang besar, dan asing mulai kembali masuk, kami melihat peluang pemulihan pasar semakin terbuka,” ujar Shim.

Seiring hal itu, Samuel Tumbuh Bersama merekomendasikan investor mulai mengurangi porsi kas dan menyeimbangkan kembali alokasi ke aset berisiko, dengan komposisi saham 40%, fixed income 40%, emas 5%, kripto 10%, dan kas 5%.

untuk saham preferensi diarahkan pada non-MSCI blue chips, sedangkan pada instrumen pendapatan tetap, pilihan tetap difokuskan pada obligasi berjangka pendek.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya