Pekik Takbir Menggema saat Kapal Nelayan Dihujani Batu Anak Krakatau

Detik-detik mencekam itu bahkan terekam dalam video dan beredar di media sosial.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 05 September 2026, 20:57 WIB
Tangkapan layar video amatir kapal nelayan dihujani material vulkanik berupa batu-batu kecil yang terlontar dari aktivitas erupsi. (Liputan6.com/Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Peristiwa mengerikan dialami sekelompok nelayan nekat mencari ikan di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan, saat gunung api tersebut tengah mengalami erupsi.

Kapal digunakan nelayan tiba-tiba dihujani material vulkanik berupa batu-batu kecil terlontar dari aktivitas erupsi. Detik-detik mencekam itu bahkan terekam dalam video dan beredar di media sosial.

Dalam video tersebut, terlihat material vulkanik berjatuhan di sekitar kapal. Ribuan batu kecil menghantam permukaan laut hingga menimbulkan percikan air di sekitar kapal nelayan.

Situasi semakin panik ketika para nelayan menyadari mereka berada di tengah hujan material vulkanik. Mereka hanya bisa melantunkan takbir dan berdoa memohon keselamatan.

"Ya Allah, hujan batu, Ya Allah. Hujan batu," teriak salah seorang nelayan dalam video tersebut.

Kondisi Nelayan

Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara membenarkan peristiwa tersebut. Dia memastikan seluruh nelayan berada di kapal berhasil selamat.

"Benar, itu terjadi pada hari ini. Jadi kami mendapatkan informasi bahwa ada kelompok nelayan yang terjebak hujan batu di lokasi sekitar Anak Gunung Krakatau yang sedang erupsi. Alhamdulillah mereka selamat," kata Rezie, Sabtu (5/9/2026).

Rezie mengingatkan masyarakat, khususnya nelayan untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau yang saat ini masih mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dia menegaskan terdapat larangan mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius 3 kilometer.

"Aturan sudah jelas, jarak 3 kilometer tidak boleh sama sekali mendekat. Jadi tolong kepada semua masyarakat patuhi larangan tersebut, jangan sampai karena kecerobohan nanti merugikan banyak pihak," ujar Rezie.

Menurut Rezie, potensi bahaya tidak hanya berasal dari lontaran material vulkanik, tetapi juga abu yang dapat terbawa angin ke wilayah lain. Tim SAR, kata Rezie, saat ini masih bersiaga menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Perubahan arah angin menjadi salah satu hal yang turut diwaspadai karena dapat membawa material erupsi menuju wilayah permukiman, termasuk Pulau Sebesi.

"Kami saat ini tetap siaga karena arah angin berubah. Pulau Sebesi bisa sangat terdampak jika ada perubahan angin, dampaknya bisa terkena hujan debu maupun material batu seperti pada video nelayan," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya