Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menekankan pentingnya operasi penyelamatan orangutan terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Ia ingin sosialisasi dan patroli satwa diperkuat lebih masif lagi.
Diketahui, saat ini sudah ada 21 orangutan mengidap ISPA akibat kebakaran hutan dan lahan.
Advertisement
Menurutnya, Kemenhut terus memperkuat kerja sama dengan BKSDA Kalteng dan sejumlah NGO dalam upaya konservasi orangutan.
Saat ini, terdapat tiga NGO yang fokus pada konservasi orangutan Kalimantan, yakni Orangutan Foundation International (OFI), Orangutan Foundation United Kingdom (OF-UK), dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
"Dalam konteks karhutla, dari awal kami juga sudah berkoordinasi, bekerja sama, dan malam tadi, hasil rapat koordinasi kami, kami akan merapatkan kembali kerja sama ini lebih baik lagi," kata Raja Juli saat mengunjungi kawasan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (5/9/2026).
"Dampak karhutla ini adalah yang paling (terdampak), selain kepada manusia, tentu juga kepada satwa liar. Nah, satgas yang ada selama ini kita perkuat kembali. Jadi, satgas penyelamatan satwa liar, ya, di Kalimantan Tengah," tambahnya.
Salah satu langkah yang disiapkan pemerintah adalah menyosialisasikan kembali nomor call center penyelamatan satwa liar secara lebih masif kepada masyarakat.
Raja Juli berpesan kepada masyarakat yang menemukan orangutan atau satwa liar lainnya di sekitar permukiman, untuk segera menghubungi nomor 081152185000 yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng.
"Dan kemudian nanti siapa yang paling dekat, apakah BOSF, apakah OFI, apakah OF-UK, atau balai kami sendiri, nanti itu yang pertama melakukan rescue (penyelamatan)," kata dia.
Langkah Lainnya
Selain ketersediaan call center, Kemenhut juga berencana untuk meningkatkan frekuensi patroli dalam penyelamatan satwa liar. Raja Juli mendorong kegiatan tersebut dilakukan setiap hari.
"Kalau dulu cuman seminggu sekali atau berapa kali, kalau sekarang setiap hari, patroli sekaligus sosialisasi kepada masyarakat kalau bertemu, menemukan orang utan, hal yang pertama dilakukan adalah telepon ke nomor call center," jelas Raja Juli.
Lebih jauh dia memastikan kesiapan tenaga medis dalam penanganan satwa yang terdampak asap maupun kebakaran akan diperkuat. Misalnya, setiap lenbaga konservasi kini sudah memiliki dokter hewan.
Adapun jika kebutuhan tenaga medis tidak mencukupi, Kementerian Kehutanan akab turun tangan dengan mendatangkan dokter hewan dari daerah lain.
"Kita sudah cek, masing-masing punya dokter hewan, ya kalau kurang, nanti kita juga bisa kirimkan, BKO-kan dari Jawa," jelas Raja Juli.
"Kemudian untuk peralatan, ya. Tadi kita cek, tabung oksigen dan nebulizer, ya. Nebulizer untuk mencegah terjadi gangguan pernapasan bagi orang utan," imbuh dia.
Penguatan-penguatan ini diharapkan Raja Juli dapat meminimalisir dampak negatif karhutla terhadap satwa liar di Kalimantan Tengah.
Ia juga berharap orangutan yang diselamatkan nantinya dapat ditempatkan terlebih dahulu di rescue center untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.