Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berpotensi memicu tsunami. Erupsi beruntun Gunung Anak Krakatau terjadi sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Kepastian tersebut berdasarkan hasil evaluasi terhadap pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi pada 22 Desember 2018. Badan Geologi menilai tubuh gunung saat ini masih relatif kecil sehingga tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Advertisement
"Tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," kata Badan Geologi melalui keterangan tertulis, Sabtu.
Berdasarkan data Magma Indonesia Kementerian ESDM, sedikitnya 10 kali erupsi tercatat dalam sehari terakhir. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau Pasauran.
"Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 WIB masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK," jelas Badan Geologi.
Badan Geologi menambahkan, suara dentuman dan getaran yang dilaporkan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," katanya.
Warga Diminta Tak Panik Isu Tsunami
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat, khususnya di pesisir Banten dan Lampung, tidak panik menyikapi isu tsunami menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan gunung demi keselamatan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam menghadapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pemerintah daerah bersama unsur terkait juga diminta memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada di dalam radius bahaya Gunung Anak Krakatau.
"Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tidak perlu panik terhadap isu tsunami," ujar Berton, Sabtu.
Berton menuturkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi tsunami tidak lepas dari pengalaman tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi serta arahan dari pihak berwenang terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.