Tekan Impor BBM, Pertamina Jalankan Strategi Pertumbuhan Ganda

Pertamina geber transisi energi untuk kurangi impor BBM dan LPG. Simak langkah dual growth strategy hingga inovasi pemanfaatan minyak jelantah.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 04 September 2026, 21:30 WIB
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita dalam sesi diskusi IdeaFest 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyadari pentingnya menjaga ketahanan energi nasional secara serius. Upaya mengurangi ketergantungan impor berbarengan dengan percepatan transisi energi pun dijalankan secara simultan.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, mengungkapkan bahwa sebagian kebutuhan energi nasional masih harus dipasok dari impor, termasuk untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) maupun liquefied petroleum gas (LPG).

"Sudah lama sekali, sejak 20 tahun lalu kita sudah impor. Artinya konsumsi kita lebih tinggi daripada produksi nasional. Di situlah kita perlu mendatangkan pasokan migas dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ungkap Arya dalam diskusi IdeaFest 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Salah satu strategi Pertamina untuk menekan ketergantungan energi fosil dan impor adalah dengan melakukan transisi energi, tanpa mengabaikan ketersediaan pasokan energi saat ini bagi masyarakat.

"Pertamina sebagai perusahaan energi menjalankan dual growth strategy. Untuk memenuhi kebutuhan saat ini, kita harus menjaga ketahanan produksi agar masyarakat tetap mendapatkan BBM. Di sisi lain, kita juga membangun pilar energi ramah lingkungan," tuturnya.

Arya menjelaskan, pengembangan energi bersih yang sedang dikerjakan meliputi sektor panas bumi untuk sumber listrik, panel surya, hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

"Jadi, untuk memenuhi kebutuhan, kita tetap menjalankan energi yang existing dari fosil, sembari terus mengembangkan energi yang ramah lingkungan," tegas Arya.

 

Olah Minyak Jelantah Jadi Bioavtur Pesawat

Pertamina Patra Niaga semakin memperluas jangkauan layanan SAF bagi maskapai. (Foto: Pertamina Patra Niaga)

Sebagai bentuk konkret transisi energi, Pertamina telah memanfaatkan limbah minyak goreng bekas (used cooking oil/UCO) menjadi bahan bakar pesawat terbang. Bahan bakar ramah lingkungan ini telah diakui industri penerbangan dan dipastikan aman digunakan.

Arya menyampaikan bahwa di tangan Pertamina, minyak jelantah tidak sekadar berakhir sebagai limbah, melainkan diolah menjadi bioavtur atau SAF.

"Ternyata minyak goreng yang selama ini sering kali kita anggap tidak bisa dimanfaatkan lagi, sebenarnya bisa dikumpulkan," kata Arya.

Ia menerangkan, minyak jelantah yang terkumpul kemudian diolah di Kilang Pertamina Cilacap dan dicampur dengan bahan baku pendukung lainnya hingga menghasilkan SAF.

"Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, lalu diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025," ungkapnya.

Arya menambahkan, maskapai milik anak perusahaan Pertamina, Pelita Air Service, bahkan sudah pernah menjajal langsung penerbangan rute Jakarta–Bali menggunakan SAF berbasis minyak jelantah tersebut.

"Bagi yang suka naik Pelita Air Service, waktu uji coba penerbangan ke Bali dulu, kita sudah menggunakan SAF," jelas Arya.

 

Wujudkan Kemandirian Energi

Arya menegaskan bahwa inovasi pemanfaatan minyak jelantah ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan demi mewujudkan kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

"Jadi, apa tujuan utamanya? Kenapa kita harus melakukan ini? Karena kita harus mengurangi ketergantungan impor energi. Ini sebenarnya menjadi gerakan kita bersama," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya