Sektor Petrokimia Tertekan Impor, Industri Plastik Hadapi Ancaman Produk China

Bahan baku plastik yang masih impor dan impor plastik China mempengaruhi industri plastik.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 02 September 2026, 20:50 WIB
Pekerja mengolah sampah botol kemasan menjadi cacahan sebagai bahan biji plastik di Koperasi Pemulung Berdaya atau Recycle Business Unit (RBU) Tangerang Selatan, Tangerang, Banten, Rabu (30/7/2025). (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Industri petrokimia nasional masih menghadapi tekanan akibat ketergantungan bahan baku impor dan masuknya produk plastik murah dari China yang menekan daya saing industri dalam negeri.

Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai pemerintah perlu memperkuat industri nasional melalui kebijakan yang mendorong penggunaan bahan baku lokal dan melindungi pelaku usaha dari tekanan produk impor.

“Kalau plastik ini kita tergerus dengan adanya impor dari China, ini memang cukup mempersulit industri. Karena industri plastik kita ini juga impor bahan bakunya,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).

Sekretaris Jenderal INAPLAS Fajar Budiono mengatakan kondisi industri petrokimia mulai memasuki fase pemulihan, tetapi harga, logistik, daya beli, dan pasokan bahan baku masih menekan aktivitas usaha.

“Memang posisinya itu masih belum menentu dari sisi harga karena naik turun karena memang geopolitik masih begini. Tetapi untuk beberapa komoditas, kendalanya bukan masalah bahan baku dan harga, melainkan logistik,” ujar Fajar.

Fajar mengatakan kenaikan biaya pengiriman membuat harga barang impor meningkat dan mendorong pasar domestik menahan pembelian sambil menunggu kepastian harga serta distribusi.

“Freight-nya itu mahal-mahal semua, sehingga barang-barang impor pun mulai turun. Dari Cina juga sudah mulai agak tinggi harganya, tetapi pasar lokal masih wait and see,” kata Fajar.

 

Momen bagi Industri Domestik

Fajar menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi industri domestik untuk memperbesar pasar lokal, tetapi pemerintah harus menjaga industri nasional ketika arus impor kembali normal.

“Kami berharap nanti Oktober sudah mulai agak bisa mengangkat lagi, tetapi arahnya positif dengan catatan pemerintah terus mengontrol agar industri dalam negeri tidak terseok-seok karena tidak mampu bersaing dengan barang-barang impor,” ujarnya.

Tekanan permintaan juga menurunkan tingkat utilisasi pabrik petrokimia karena karakteristik industri tersebut membutuhkan operasi produksi secara berkelanjutan.

Fajar mengatakan tingkat operasi industri sempat berada di bawah 70% sehingga kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

“Operating rate kemarin sempat di bawah 70%. Artinya, kalau di bawah 70% itu sudah rugi,” ungkap Fajar.

Industri juga menghadapi gangguan pasokan bahan baku dari kawasan Timur Tengah yang mendorong perusahaan mencari sumber alternatif dengan harga lebih mahal dan waktu pengiriman lebih panjang.

“Kalau dulu sebulan sudah bisa sampai, sekarang bisa butuh waktu 60 hari sehingga modal kerja makin bertambah,” paparnya.

Fajar menilai pemerintah perlu mempercepat respons kebijakan agar perlindungan industri sesuai dengan perubahan kondisi pasar.

“Pemerintah harus pandai mengatur strategi perlindungan industri dalam negeri dan memastikan kecepatan pengambilan keputusan benar-benar sesuai dengan kondisi pasar,” tegasnya.

Fajar juga melihat pemulihan sektor pertambangan, tekstil, makanan dan minuman, infrastruktur, serta otomotif dapat meningkatkan kembali permintaan produk petrokimia.

 

Sektor Otomotif

Pada sektor otomotif, produksi kendaraan listrik di dalam negeri berpotensi memperluas penggunaan komponen dan bahan baku lokal.

“Kami berharap mobil listrik segera diproduksi dalam negeri sehingga komponennya bisa menggunakan supplier lokal dan bahan bakunya bahan baku lokal,” kata Fajar.

Fajar menilai industri petrokimia belum sepenuhnya pulih karena pelaku usaha masih menghadapi risiko dari perubahan harga, pasokan, logistik, dan permintaan.

“Industri petrokimia sudah keluar dari ICU, tetapi masih belum recover dengan benar. Kalau salah penanganan, industri bisa masuk ICU lagi,” pungkasnya.

Fajar menegaskan pemerintah perlu menjaga fase pemulihan karena industri petrokimia masih rentan terhadap guncangan baru.

“Masa recovery ini benar-benar sensitif. Kalau nanti tersenggol sedikit saja bisa masuk ICU lagi,” tegas Fajar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya