Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) merosot pada perdagangan Rabu, (2/9/2026). Koreksi harga perak Antam hari ini mengikuti harga emas Antam dan perak dunia.
Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini merosot Rp 1.450 menjadi Rp 42.600. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam ditetapkan Rp 44.050.
Advertisement
Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Harga perak batangan 250 gram dipatok Rp 11.175.000 dan perak batangan 500 gram Rp 21.425.000.
Lalu bagaimana harga perak dunia?
Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,60% menjadi US$ 63,67.
Harga perak turun di bawah US$ 64 per ounce pada Rabu, melanjutkan penurunannya karena investor menilai prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (the Fed) menyusul kenaikan tajam imbal hasil obligasi global dan harga minyak.
Imbal hasil obligasi global meningkat di tengah meningkatnya tekanan inflasi dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, dengan imbal hasil Treasury Amerika Serikat (AS) atau obligasi pemerintah AS membalikkan penurunan yang dipicu oleh pengumuman Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengenai perluasan program pembelian kembali.
Janji Ketua Fed Kevin Warsh untuk memerangi inflasi semakin memperkuat pandangan hawkish, dengan pasar kini memperkirakan sekitar 70% kemungkinan kenaikan suku bunga Fed bulan ini.
Perhatian kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis pada Rabu dan data nonfarm payrolls pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai jalur kebijakan The Fed. Sementara itu, harga minyak melanjutkan kenaikannya di tengah meningkatnya permusuhan antara AS dan Iran, sehingga semakin meningkatkan risiko inflasi.
Harga Emas Dunia
Sebelumnya, harga emas dunia turun lebih dari 2% pada perdagangan Selasa, 1 September 2026 ke level terendah dalam dua minggu. Koreksi harga emas dunia terjadi karena tekanan dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi dan penguatan dolar AS. Sementara itu, posisi harga emas yang menembus ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari atau moving average (MA) 200 harian memicu aksi jual.
Mengutip CNBC, Rabu (2/9/2026), harga emas spot turun 2,7% menjadi US$ 4.329,47 per ons, setelah sempat menyentuh ke level terendah sejak 19 Agustus di US$ 4.362,89 pada sesi perdagangan sebelumnya.
Harga emas telah turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang saat ini berada di kisaran US$ 4.528 sejak 28 Agustus 2026. Kontrak berjangka emas AS melemah 2,3% menjadi US4 4.377,40.
"Kami melihat adanya tekanan jual secara teknikal. Ombal hasil obligasi secara global berada di level tertinggi yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun. Jadi, semua faktor ini menekan pasar emas," ujar Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff.
"Harga emas telah turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang merupakan sinyal teknikal penting,” ia menambahkan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi sejak Januari 2025 pada Selasa, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi dan aksi jual obligasi global.
Sentimen Harga Emas Lainnya
Meskipun emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil berkala. Dolar AS juga menguat, membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Harga emas sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada pekan lalu sebelum turun lebih dari 3% pada Jumat, setelah Ketua Federal Reserve AS, Kevin Warsh, memperingatkan perlunya langkah lebih lanjut jika inflasi tidak melandai ke target 2% yang ditetapkan bank sentral. Para pedagang meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga September setelah komentar Warsh tersebut.
Data dari FedWatch Tool milik CME menunjukkan para pedagang kini memperkirakan peluang sebesar 68% untuk kenaikan suku bunga bulan ini. Para investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan ADP pada hari Rabu dan data non-farm payrolls pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai kebijakan ekonomi.
"Saat ini, arah pergerakan yang paling mungkin terjadi di pasar emas dalam jangka pendek adalah mendatar (sideways) atau mendatar dengan kecenderungan turun. Hal yang sama juga berlaku untuk perak," Wyckoff menambahkan.