Menhut soal Kebakaran Hutan Berdampak ke Malaysia: Asap Enggak Ada KTP

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama petugas gabungan lainnya masih terus berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

oleh Rifqy Alief AbiyyaDiterbitkan 01 September 2026, 17:26 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di sela kegiatan Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni buka suara perihal asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang sudah berdampak ke wilayah Serawak, Malaysia.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi disebabkan oleh arah angin yang menuju ke wilayah itu. Dia mengatakan, kondisi ini bisa saja terjadi sebaliknya apabila terjadi kebakaran di Serawak, Malaysia, lalu arah angin menuju Indonesia.

"Arah angin ini kebetulan memang naik ke atas. Kalau seandainya arah anginnya dari sini, ini menurut teman-teman dari LH juga ini kebakaran yang terjadi di sini juga akan masuk Indonesia. Karena memang asap enggak ada KTP-nya gitu," kata Raja Juli kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).

Meski demikian, pemerintah terus berupaya mencegah pencemaran kabut asap lintas negara (transboundary haze) akibat karhutla. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan dampak buruk terhadap negara-negara tetangga yang berpotensi terdampak.

"Jadi tetap saja kita akan berjuang semaksimal mungkin ya kita tidak akan memberikan dampak negatif atau mudarat kepada tetangga kita," kata dia.

Sementara itu, Raja Juli mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 30 kasus dugaan pidana yang diproses oleh Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut. Dia meminta kasus-kasus tersebut tidak hanya dikenai sanksi administratif, tetapi juga diproses secara pidana apabila terbukti adanya pelanggaran.

"Ada 52 pemegang apa namanya PBPH yang juga sudah diberikan peringatan, pengawasan secara intensif dan enam di antaranya sudah diberikan sanksi berat," jelasnya. 

 

 

 

 

 

 

Kendala Pemadaman Kebakaran Hutan di Sumatra-Kalimantan

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Gedung Kementerian Kehutanan, Jakarta, Selasa (1/9/2026). (Foto: Liputan6.com/Rifqy Alief).

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama petugas gabungan lainnya masih terus berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan.

Proses pemadaman dilakukan melalui sumur bor hingga pengerahan water bombing oleh TNI Angkatan Udara. Namun, masih ditemukan kendala dalam penanganan tersebut.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, kendala yang dihadapi oleh petugas lapangan yakni minimnya sumber air yang digunakan untuk memadamkan lahan.

"Dari segi teknis insya Allah apa yang diminta oleh teman-teman daerah terpenuhi, namun realitas di lapangan sumber air tetap menjadi kendala ya meskipun tadi sumur bor sudah datang," kata Raja Juli kepada wartawan saat Media Brief di Gedung Kemenhut, Selasa (1/9/2026).

Raja Juli menuturkan, salah satu penanganan kebakaran yaitu saat berada di pinggir jalan tol di Sumatera Selatan. Petugas mengalami kendala karena hanya terdapat satu sumber air, sedangkan titik api telah menjalar semakin jauh dari lokasi sumber tersebut.

"Sumber airnya ini yang jadi masalah ya semacam kemarin saya dari Sumsel ada kebakaran di pinggir tol dengan Pak Dirjen kemarin. Kemarin ini di pinggir tol karena kita apa namanya sumber air cuma ada satu sementara kebakarannya sudah apa ya sudah menjauh ke mana tapi sumber air cuma ada satu," tuturnya.

Dia mengungkapkan, proses pemadaman melalui Satuan Tugas (Satgas) Darat dinilai lebih efektif dibandingkan metode water bombing. Menurut Raja Juli, pemadaman oleh Satgas Darat mampu memadamkan lahan mencapai 17,5 hektare.

"Satgas darat ini jauh lebih efektif memadamkan api ketimbang water bombing. Water bombing itu hanya bisa memadamkan 2,5 hektar saja sedangkan satgas darat mampu memadamkan 17,5 hektar," kata Raja Juli.

Meski demikian, metode water bombing tetap dilakukan oleh petugas sebagai salah satu upaya pemadaman kebakaran di sejumlah titik di Sumatera maupun Kalimantan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya