OJK Ingatkan Gen Z: Hobi Checkout Tanpa Paham Cara Bayar Berbahaya!

Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi menyoroti kebiasaan belanja online Gen Z yang dipicu kemudahan akses teknologi. OJK mendorong penguatan literasi keuangan.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 28 Agustus 2026, 19:20 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi dalam acara Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkap tantangan besar anak muda dalam menabung saat ini, salah satunya akibat kemudahan belanja secara online.

Friderica membandingkan tantangan menabung pada masa lalu dan sekarang. Jika dahulu distraksi anak muda sebatas jajan sepulang sekolah, saat ini godaan utama bersumber dari kemudahan akses teknologi digital.

"Anak sekarang, khususnya Gen Z, senangnya scrolling media sosial yang justru rentan memicu kecemasan hingga over-sharing. Saat scrolling, mereka melihat barang belanjaan dan sedikit-sedikit ingin check out," ujar Friderica usai acara Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, kebiasaan tersebut berisiko memicu masalah finansial jika tidak diimbangi dengan penghasilan yang memadai. Alhasil, banyak anak muda yang kebingungan saat harus membayar tagihan barang yang telah dibeli.

"Bahayanya jika mereka belum memiliki penghasilan, tetapi sudah punya kebiasaan belanja online tanpa tahu bagaimana cara membayarnya nanti. Hal ini banyak dialami anak muda sekarang. Kita sering melihat mereka menggunakan layanan buy now, tanpa memikirkan skema paylater-nya," bebernya.

Sebagai regulator, Friderica mengajak para pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) untuk gencar melakukan edukasi finansial kepada Gen Z, termasuk membenahi skema alokasi produk buy now pay later (BNPL).

"Produk seperti itu sebenarnya tidak buruk. Namun, menjadi bermasalah ketika penggunanya belum bijaksana atau belum tepat menggunakannya. Karena itu, kami meminta PUJK mencermati profil calon konsumennya, memastikan mereka sudah memiliki penghasilan, serta memberikan literasi dan perlindungan yang memadai," sambung Friderica.

 

Ajak Anak Muda Biasakan Menabung

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi dalam acara Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). (Liputan6.com/Arief)

Friderica mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperluas sosialisasi edukasi keuangan bagi pelajar dan mahasiswa. Langkah ini diharapkan dapat membentuk landasan kuat dalam pengelolaan keuangan pribadi.

"Godaan saat ini sangat besar, sehingga anak-anak perlu didampingi dan dibekali pengetahuan. Harapannya, ketika memiliki uang, alokasi utama (top of mind) mereka adalah menabung terlebih dahulu. Baru setelah target tabungan terpenuhi, sisanya disisihkan untuk jajan atau belanja. Kebiasaan inilah yang harus kita tanamkan," tuturnya.

 

Literasi Keuangan Remaja Masih Rendah

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi dalam acara Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). (Liputan6.com/Arief)

Sebelumnya, OJK mencatat indeks literasi dan inklusi keuangan nasional terbaru. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat literasi finansial di kalangan remaja masih berada di bawah rata-rata nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyoroti angka literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa yang baru mencapai 62,72%, dengan tingkat inklusi sebesar 92,76%.

"Jika melihat literasi dan inklusi keuangan pelajar serta mahasiswa, angkanya masih di bawah standar nasional," jelas Friderica.

Sebagai perbandingan, tingkat literasi keuangan nasional telah mencapai 69,57% dan inklusi keuangan berada di angka 93,61%. Kendati demikian, capaian dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ini secara umum sudah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

"Oleh karena itu, ini menjadi tugas kita bersama, termasuk para kepala daerah, untuk terus meningkatkan indeks literasi dan inklusi keuangan pelajar di Indonesia," kata Friderica.

Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 88 juta penduduk berstatus pelajar dan mahasiswa. Jumlah tersebut mencakup sekitar 31% dari total populasi penduduk RI yang mencapai 287,2 juta jiwa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya