Menteri Ara Sumbang Rp 5 Miliar untuk Pemulihan Bencana NTT

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyalurkan bantuan pribadi senilai Rp 5 miliar untuk korban gempa M 7,7 di NTT.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 28 Agustus 2026, 18:15 WIB
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait saat ditemui di Nation Building Conference (NBC) 2026, Kabupaten Tangerang, Jumat (28/8/2026). (Liputan6.com/Pramita)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, mengaku telah menghubungi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, untuk menyalurkan bantuan dana pribadi sebesar Rp 5 miliar.

"Ya, Rp 5 miliar untuk NTT. Sebagai warga negara dan secara pribadi, saya sudah berkontak dengan Gubernur untuk menyalurkan Rp 5 miliar," ungkap pria yang akrab disapa Menteri Ara ini saat ditemui dalam ajang Nation Building Conference (NBC) 2026 di Kabupaten Tangerang, Jumat (28/8/2026).

Selain mengulurkan bantuan pribadi, ia turut mengajak para pengusaha untuk berkontribusi memulihkan NTT melalui alokasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi maupun kehidupan masyarakat yang terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7.

Sementara itu, langkah yang tengah diambil Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kementerian PKP) saat ini adalah menyesuaikan dengan status tanggap darurat yang masih berlaku di wilayah tersebut.

"Saat ini kan masih tahap tanggap darurat. Setelah itu usai, peran kami masuk di tahap rekonstruksi. Kita pasti akan membangun hunian tetap (huntap), seperti yang dilakukan di Sumatra," jelas Menteri Ara.

Saat ini, pihak Kementerian PKP masih terus mendata bangunan rumah warga yang mengalami kerusakan parah sebelum melangkah ke tahap pembangunan lanjutan.

AHY Ungkap Tiga Prioritas Penanganan Gempa NTT

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastuktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di kantornya, Jakarta. (Foto: Liputan6.com/Devira Prastiwi).

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastuktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengaku sejak hari pertama terjadinya gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah langsung berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum yang langsung terjun ke lokasi bencana.

"Sejak hari pertama saya berkomunikasi berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum yang langsung terbang ke daerah bencana, untuk memastikan alat-alat berat segera di deploy, dikerahkan untuk pertama, tentu membantu proses evakuasi," ujar AHY dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Bidang Infrastuktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rabu (19/8/2026).

"Kita sungguh berduka kehilangan tapi evakuasi itu harus nomor satu," sambung dia.

Yang kedua, lanjut AHY, memastikan agar tidak ada daerah yang terisolir, jalan-jalan putus yang mungkin terjadi longsor, maka harus segera dibersihkan dan ditangani.

"Dan yang ketiga memulihkan kembali infrastruktur dasar, air, listrik dan lain sebagainya ini harus dipastikan karena itu yang paling mendasar bagi masyarakat," ucap AHY.

Menurut dia, apabila semua masalah di atas bisa teratasi, maka bantuan logistik yakni makanan dan obat-obatan bisa lancar disalurkan untuk korban gempa NTT.

"Karena belajar dari pengalaman di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bencana yang lalu ketika terjadi daerah yang terisolir akibat jalan yang terputus, maka akan sulit sekali bagi petugas untuk memberikan bantuan logistik sekali lagi makanan maupun obat-obatan. Dan ini yang kita harus dahulukan," tandas AHY.

Gempa NTT Magnitudo 7,7 Picu Banyak Longsoran

Rumah rusak akibat gempa NTT. (BNPB)

Kerentanan geologi lokal dan besarnya energi seismik yang dilepaskan, membuat gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores NTT, Sabtu (15/8/2026) silam, memicu longsoran yang masif di sepanjang jalur strategis Ende, Nagekeo, Bajawa, hingga Maumere. Hal itu diungkap Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Daryono dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026), lebih jauh menjelaskan, Pulau Flores didominasi oleh batuan vulkanik muda dan endapan piroklastik, seperti tuf dan aglomerat yang mengalami pelapukan lanjut.

"Material tanah dan batuan pelapukan ini, memiliki struktur rapuh serta kuat geser yang rendah, sehingga sangat tidak stabil ketika menerima guncangan dinamis secara mendadak," katanya.

​Kerentanan material batuan tersebut, kata Daryono, diperparah oleh kondisi morfologi Flores yang didominasi oleh pegunungan dan lereng-lereng terjal dengan kemiringan ekstrem.

Pemotongan lereng untuk jalur jalan nasional Trans-Flores secara alami mengurangi tumpuan bawah tebing dan memperbesar gaya pendorong gravitasi.

"Ketika gempa Magntudo 7,7 terjadi, nilai percepatan tanah maksimum terlampaui secara drastis, sementara durasi guncangan yang berlangsung lama merusak ikatan kohesi antarbutir tanah hingga memicu runtuhan lereng serentak di berbagai titik," katanya.

​Faktor gelombang seismik juga mengalami pembesaran akibat efek tapak lokal pada lapisan tanah lunak dan fenomena amplifikasi topografi.

Gelombang gempa memantul serta terkonsentrasi di area puncak bukit dan tebing, membuat guncangan di bagian atas lereng jauh lebih kuat ketimbang area lembah.

"Pada saat yang sama, guncangan siklik yang seketika menghilangkan daya dukung material dan meruntuhkan ribuan ton tanah serta batuan hingga menutupi akses jalan utama," kata Daryono.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya