Liputan6.com, Islamabad - Hari Rabu (26/8/2026) pukul 06.30 waktu setempat, Arif Rana (46) terbangun karena telepon. Saat itu, ia sedang tidur di halaman berumput di luar unit bersalin Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS), rumah sakit pemerintah terbesar di Islamabad.
"Adik perempuan saya melahirkan bayi perempuan pada Selasa (25/6) dan dirawat di bangsal umum rumah sakit. Saya ditelepon oleh saudara perempuan suaminya yang sedang menemani adik saya. Dia berteriak meminta saya segera naik karena terjadi kebakaran di dalam bangsal," kata Rana kepada Al Jazeera.
Advertisement
Rana dan putranya yang berusia 20 tahun, yang juga berada di rumah sakit, langsung berlari menuju bangsal tanpa sempat mengenakan alas kaki. Asap tebal mengepul dari gedung. Ketika mereka naik ke lantai tiga, lorong-lorong sudah gelap gulita dan dipenuhi hawa panas yang menyesakkan.
"Panas sekali. Saya mendengar banyak teriakan dan orang-orang berteriak panik. Saya bahkan tidak bisa melihat apa-apa karena gelap," kenang Rana beberapa jam setelah kejadian, saat duduk di luar bangsal. "Asap membuat kami sulit bernapas."
Di dalam bangsal, Rana menemukan ibu mertua adiknya dan membawanya keluar ke tempat aman. Setelah berada di luar, ia bertemu dengan adik dan bayi yang baru dilahirkannya. Keduanya telah diselamatkan oleh saudara perempuan suami adiknya.
"Hanya berkat keberanian dia, adik saya dan bayinya bisa selamat. Kalau tidak, mereka mungkin juga meninggal di dalam," kata Rana pelan.
Sebanyak 14 bayi baru lahir lainnya meninggal di ruang perawatan intensif bayi yang berada di lorong yang sama.
Menurut manajemen rumah sakit, kebakaran dipicu korsleting pada unit pendingin udara di ruang perawatan bayi tersebut. Saat kejadian, ada 15 bayi baru lahir di dalam ruangan. Hanya satu yang berhasil diselamatkan.
Ini bukan pertama kalinya kerusakan pendingin udara di rumah sakit merenggut nyawa bayi baru lahir di Pakistan.
Pada Juni 2024, kebakaran serupa melanda bangsal anak di Sahiwal Teaching Hospital, Provinsi Punjab, dan menewaskan 11 bayi.
Kepala Menteri Punjab Maryam Nawaz, keponakan Perdana Menteri (PM) Shehbaz Sharif, kemudian memerintahkan penangkapan kepala rumah sakit dan tiga dokter senior. Langkah itu diambil setelah penyelidikan menemukan bahwa alat pemadam kebakaran di rumah sakit tersebut sudah melewati masa berlaku.
Keterangan Berbeda soal Kedatangan Petugas
Terdapat perbedaan keterangan mengenai waktu pasti petugas penyelamat tiba di lokasi kebakaran pada Rabu pagi.
Pemerintah distrik Islamabad menyatakan panggilan darurat pertama diterima pada pukul 06.45. Mobil pemadam kebakaran dan ambulans disebut tiba di rumah sakit tujuh menit kemudian.
Namun, seorang pejabat di markas Rescue 1122—layanan ambulans, pemadam kebakaran, dan penyelamatan milik pemerintah—mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sejumlah pos menerima laporan kebakaran pada waktu berbeda karena informasi diteruskan secara bertahap.
Pos tempat pejabat itu bertugas menerima laporan pada pukul 06.55 dan tiba di rumah sakit kurang dari 10 menit kemudian. Video yang direkamnya saat tiba di lokasi dan kemudian diperlihatkan kepada Al Jazeera menunjukkan waktu pukul 07.06.
"Ketika kami mencoba masuk, kami tidak bisa mengakses gedung dan melihat asap keluar dari dalam. Kami harus menghancurkan kisi-kisi beton yang menutupi jendela. Setelah jendelanya kami pecahkan, kami bisa mengevakuasi orang-orang melalui sana," ujar seorang petugas pemadam kebakaran kepada Al Jazeera.
Petugas tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang berbicara kepada media.
Kamran Riaz, warga Rawalpindi, juga berada di rumah sakit saat itu sambil menggendong keponakannya yang berusia lima tahun.
Sekitar 50 meter dari tempat Riaz berada, kakaknya—ayah dari anak yang digendongnya—sedang berada di kamar jenazah rumah sakit untuk menyerahkan sampel DNA. Bayi perempuan kakaknya, yang baru lahir tiga hari sebelumnya, termasuk di antara 14 bayi yang meninggal dalam kebakaran.
Bayi tersebut dirawat di ruang perawatan karena mengalami gangguan pernapasan.
"Kami tidak mendapat kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus kami lakukan sekarang," ungkap Riaz.
"Namun, dari sedikit yang diceritakan kakak saya, hampir tidak ada petugas di sana ketika kebakaran terjadi pada pagi hari. Hanya ada satu akses untuk keluar-masuk, sementara akses kedua terhalang."
Sejumlah saksi yang memiliki anggota keluarga di berbagai bangsal unit bersalin menceritakan pengalaman serupa.
Rumah Sakit Ibu dan Anak di PIMS memiliki dua sayap bangunan, yakni sayap lama dan sayap yang baru dibangun.
Kebakaran terjadi di lantai tiga sayap lama, yang hanya memiliki satu akses utama untuk keluar-masuk. Menurut para saksi, pintu-pintu darurat tidak dapat digunakan karena terhalang dari dalam.
Sejumlah orang di rumah sakit juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dalam beberapa pekan terakhir ada pekerjaan renovasi di bagian tertentu gedung tersebut. Namun, tidak ada yang dapat memberikan rincian mengenai lokasi maupun cakupan pekerjaan itu.
Pintu Keluar Jadi Sorotan
Samina Waqar (30) juga menghabiskan malam di rumah sakit untuk menemani saudara perempuannya yang sehari sebelumnya melahirkan melalui operasi caesar.
"Suami saudara perempuan saya ingin menemui istrinya. Ketika dia hendak masuk pada pagi hari, dia mendengar teriakan dan kepanikan. Dia langsung menelepon saya dan memberi tahu ada kebakaran," kata Waqar kepada Al Jazeera.
Waqar kemudian berlari menuju bangsal untuk membantu proses penyelamatan. Saudara perempuannya, meski baru menjalani operasi sehari sebelumnya, berhasil berjalan keluar sendiri. Sementara itu, suaminya menggendong bayi mereka menuju tempat aman.
"Bangsal kami tepat di seberang ruang perawatan bayi tempat kebakaran terjadi. Seluruh lantai dipenuhi asap dan hawa panas. Saya bahkan tidak tahu bagaimana kami bisa membawa mereka keluar, bersama beberapa ibu yang baru melahirkan lainnya. Semuanya terasa samar dalam ingatan saya," ujarnya.
Istri Sardar Atee Rehman (39) juga dirawat di bangsal yang bersebelahan dengan ruang perawatan bayi setelah melahirkan seorang anak perempuan sehari sebelumnya.
"Istri saya menelepon sekitar pukul 06.30 pagi. Dia berteriak mengatakan ada kebakaran di suatu tempat dan asap mulai memenuhi bangsal. Dia meminta saya segera masuk," ungkap Rehman.
Menurut Rehman, petugas keamanan di dalam rumah sakit membantu. Namun, ia mengaku tidak melihat perawat maupun dokter. Sejumlah saksi lain menyampaikan hal serupa.
Beberapa keluarga pasien kemudian mengatakan staf rumah sakit sebenarnya berada di lokasi sepanjang malam, tetapi berlari meninggalkan tempat ketika kebakaran terjadi. Sebagian saksi menyebut tindakan itu sebagai reaksi spontan akibat kepanikan.
Manajemen PIMS memberikan keterangan berbeda.
Direktur Eksekutif PIMS Rana Imran Sikandar mengatakan dua dokter dan empat perawat sedang bertugas di unit perawatan intensif ketika kebakaran terjadi.
Menteri Federal Urusan Parlemen Tariq Fazal Chaudhry, saat berbicara kepada wartawan di rumah sakit, juga menyebut jumlah petugas yang sama.
Abdul Ghaffoor (26) warga Rawalpindi yang sedang menemani ibunya, mengatakan ia melihat keributan di luar bangsal lalu berlari untuk membantu.
"Saya mendengar staf biasanya mengunci pintu dan akses keluar karena ini bangsal bersalin. Mereka ingin memastikan laki-laki tidak diperbolehkan masuk. Selain itu, sebelumnya juga banyak terjadi kasus penculikan bayi. Karena itulah staf mengunci pintu-pintu keluar," katanya.
Pejabat PIMS memberikan penjelasan serupa kepada wartawan.
Menurut mereka, akses menuju ruang perawatan bayi memang dibatasi sebagai bagian dari kebijakan yang telah lama diterapkan untuk mencegah penculikan bayi dari bangsal. Mereka menegaskan pembatasan tersebut bukan kelalaian yang khusus terjadi pada kebakaran Rabu pagi.
PM Shehbaz Sharif memerintahkan penyelidikan atas kebakaran tersebut dan kemudian memberhentikan sementara Sekretaris Kesehatan Federal Aslam Ghaury.
Dua tim penyelidikan terpisah telah dibentuk, masing-masing oleh pemerintah distrik Islamabad dan kantor perdana menteri. Keduanya ditugaskan menyelidiki rangkaian kejadian dan penyebab tragedi tersebut.
Waqar, yang saudara perempuannya selamat, mengaku marah kepada pihak rumah sakit. Ia menuding pengelola rumah sakit lalai dan gagal memberikan perlindungan yang memadai kepada pasien, terutama bayi baru lahir.
"Ini adalah ruang perawatan untuk bayi dalam kondisi kritis. Kalau ada satu tempat yang seharusnya mendapat perhatian paling besar soal keselamatan, ya ruangan ini. Namun, sikap ceroboh yang sudah seperti tindakan kriminal justru berujung pada tragedi ini," imbuhnya.