AS Bakal Tingkatkan Pembelian Kembali Obligasi

Menkeu AS Scott Bessent tidak menyebutkan angka persis untuk pembelian kembali atau buyback obligasi yang akan lebih besar.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 21 Agustus 2026, 19:07 WIB
Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan, percepatan pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah atau obligasi pemerintah AS (treasury) bisa lebih besar dari US$ 4 miliar atau atau Rp 71,05 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.760).

Dalam sebuah wawancara langsung dengan CNBC, dikutip Jumat, (21/8/2026), Bessent menuturkan, departemen keuangan akan "menciptakan pasar" untuk obligasi atau surat utang bertenor jangka panjang, seiring imbal hasilnya melonjak akhir-akhir ini.

Departemen Keuangan mengumumkan pada Rabu akan menggandakan pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang yang dijadwalkan sebesar US$ 2 miliar atau Rp 35,52 triliun, yang menyebabkan imbal hasil turun tajam.

"Kami akan meningkatkan jumlah pembelian kembali saham," kata Bessent.

 "Saya ingin mencatat bahwa jumlahnya bisa lebih dari US$ 4 miliar per penerbitan," ia menambahkan.

Pernyataan tersebut menyebabkan penurunan sementara pada imbal hasil, yang sebagian besar telah mengembalikan penurunan setelah pengumuman Rabu. Obligasi 30 tahun jangka panjang terakhir diperdagangkan sekitar 5,235%. Obligasi tersebut baru-baru ini diperdagangkan pada level terbaru sejak sebelum krisis keuangan global 2008.

 Imbal hasil bertenor 10 tahun juga sempat turun saat Bessent berbicara, tetapi kemudian naik lagi, terakhir sekitar 5 basis poin menjadi 4,704%. Satu basis poin setara dengan 0,01%.

Menteri Keuangan mencatat tingkat imbal hasil tidak menjadi faktor dalam keputusan pembelian kembali obligasi. Ia ingin melihat fundamental yang mengendalikan pasar.

Meskipun ia mengatakan, pembelian kembali bisa meningkat, Bessent menolak menyebutkan angka pasti karena akan bergantung pada kondisi pasar.

"Kita akan lihat bagaimana kondisinya, dan Anda tahu jika kita akan menganalisisnya," ujar dia.

"Yang kami coba lakukan hanyalah membuat orang fokus pada fundamental dan tidak trading berdasarkan headline berita semata selama periode tenang di pasar yang tipis," ia menambahkan.

 

Kondisi Perdagangan Tak Cerminkan Kondisi Ekonomi

Suara Senat Amerika Serikat mengonfirmasi Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan AS dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. (Foto dok. Associated Press/Ben Curtis)

Bessent mengakui tekanan lebih jauh di ujung kurva. Ia menuturkan, tingkat perdagangan tidak mencerminkan kondisi ekonomi saat ini.

“Kami memiliki banyak pilihan, jadi kita lihat saja nanti," ujar dia dilansir dari CNBC.

"Sebagian dari upaya ini adalah memberi sinyal dan menunjukkan bahwa kami percaya imbal hasil tersebut tidak mencerminkan fundamental yang mendasarinya," ia menambahkan.

Ia juga mengkategorikan likuiditas untuk obligasi 30 tahun sebagai “sangat buruk,” yang memberikan insentif lain bagi Departemen Keuangan AS untuk melakukan intervensi di pasar yang biasanya kuat.

Beberapa faktor yang mendorong imbal hasil lebih tinggi antara lain meningkatnya utang dan defisit di AS, persaingan dari area lain termasuk penerbitan utang korporasi yang terkait dengan kecerdasan buatan dan imbal hasil yang lebih tinggi dari negara berdaulat lain seperti Jepang, dan meningkatnya premi jangka waktu, atau imbal hasil tambahan yang diminta investor untuk memegang utang pemerintah.

Dari segi fiskal, Bessent akan bertemu dengan Head of The Office of Management and Office, Russell Vought, untuk membahas konsolidasi fiskal. Angka-angka yang dirilis Departemen Keuangan pada Rabu menunjukkan utang nasional telah melampaui US$ 40 triliun atau Rp 710.520 triliun  minggu ini.

"Tidak ada yang ajaib tentang angka US$ 40 triliun, dan kita bisa mengatasinya melalui pertumbuhan ekonomi,” kata Bessent.

"Pesan kami kepada sekutu dan mitra dagang kami adalah bahwa pertumbuhan global adalah cara untuk mengatasi tumpukan utang ini," ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya