Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Mengecil di Kuartal II 2026

Selain defisit neraca pembayaran Indonesia mengecil, transaksi modal dan finansial mencatat surplus.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 21 Agustus 2026, 12:45 WIB
Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2026 masih defisit sebesar US$ 900 juta. Dok BI

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2026 masih defisit sebesar US$ 900 juta. Namun angka ini lebih kecil dibandingkan dengan defisit pada kuartal I 2026 sebesar US$ 9,1 miliar.

Perbaikan tersebut terutama ditopang membaiknya transaksi modal dan finansial yang kembali mencatat surplus, di tengah transaksi berjalan yang justru mengalami pelebaran defisit.

 

Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga.

Mengutip keterangan Bank Indonesia, Jumat (21/8/2026), posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar US$ 145,6 miliar, yang setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer.  Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia. Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada kuartal I 2026.

Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$ 12,5 miliar (3,3% dari PDB), melebar dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$ 3,6 miliar (1,0% dari PDB).

 

Transaksi modal dan finansial

Gedung Bank Indonesia, Jakarta. Foto: BI

Transaksi modal dan finansial mencatat surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI.

Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.

Investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.

Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$ 12,0 miliar pada kuartal II 2026, setelah pada kuartal I 2026 mengalami defisit sebesar US$ 4,8 miliar.

Ke depan, prospek NPI diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

Transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif.

Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya