Harga Emas Antam Hari Ini 21 Agustus 2026 Stabil, Cek Rincian di Sini

Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) stagnan pada Jumat, (21/8/2026). Berikut rincian harga emas Antam hari ini.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 Agustus 2026, 09:27 WIB
Pramuniaga menunjukkan emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk di sebuah gerai emas, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) stabil pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Harga emas Antam hari ini stagnan setelah kemarin melonjak signifikan mencapai Rp 80.000.

Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini betah di Rp 2.725.000 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas berada di posisi Rp 2.725.000 per gram.

Demikian juga harga buyback (beli kembali) stabil di 2.585.000 per gram.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang didapatkan pemilik emas jika menjual kembali logam mulianya ke Antam. Sementara itu, harga yang tercantum di awal merupakan harga jual resmi kepada konsumen.

Perlu diingat, harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar.

Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) lalu di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback sebesar Rp 2.989.000 per gram.

Rincian Harga Emas Antam:

  • 0,5 gram: Rp 1.412.500
  • 1 gram: Rp 2.725.000
  • 2 gram: Rp 5.400.000
  • 3 gram: Rp 8.082.000
  • 5 gram: Rp 13.440.000
  • 10 gram: Rp 26.800.000
  • 25 gram: Rp 66.835.000
  • 50 gram: Rp 133.505.000
  • 100 gram: Rp 266.860.000
  • 250 gram: Rp 666.840.000 (pre-order)
  • 500 gram: Rp 1.333.400.000 (pre-order)
  • 1.000 gram: Rp 2.665.600.000 (pre-order)

Seluruh informasi harga mengacu pada situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk.

Harga Emas Dunia

Ilustrasi harga emas dunia (Foto By AI)

Sebelumnya, harga emas dunia melemah tipis pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026 (Jumat pagi Jakarta). Meski demikian, harga emas dunia memulihkan sebagian koreksi sebelumnya dan diperdagangkan relatif stabil seiring prospek suku bunga riil jangka panjang lebih rendah mengimbangi risiko inflasi tinggi yang terus berlanjut akibat kenaikan harga minyak.

Mengutip CNBC, Jumat (21/8/2026), harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 4.516,19 per ons setelah sempat merosot ke level terendah US$ 4.450,08. Harga emas itu turun dari level tertinggi sejak 2 Juni yang sempat dicapai sebelumnya pada sesi itu.

Harga emas sempat melonjak lebih dari 4% pada Rabu pekan ini, setelah dolar AS dan imbal hasil obligasi turun tajam setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana peningkatan pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,6% ke level US$ 4.571,40.

“Emas mengalami tekanan aksi ambil untung yang wajar setelah kenaikan tajam pada sesi sebelumnya,” ujar Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Ia menambahkan, risalah rapat Federal Reserve (the Fed) AS yang bernada agak hawkish (cenderung mendukung pengetatan kebijakan) yang dirilis Rabu, ditambah dengan kenaikan harga minyak, telah memicu kembali kekhawatiran inflasi dan turut menekan harga logam mulia tersebut.

Namun, emas berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan wawancara dengan CNBC pada Kamis, pemerintah mungkin akan meningkatkan pembelian kembali obligasi negara (treasury), dengan nilai yang bisa melebihi US$ 4 miliar atau Rp 71,05 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.760) per penerbitan.

"Emas terbantu oleh prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah," kata analis independen Tai Wong.

 

Sentimen Harga Emas Lainnya

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Meskipun investor sering menganggap emas sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan permintaan karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Risalah rapat The Fed Juli menyoroti kekhawatiran sejumlah pembuat kebijakan mengenai inflasi dan menunjukkan, beberapa pejabat masih terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 67,4%  The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, menurut data CME FedWatch Tool.

Harga minyak melanjutkan tren kenaikannya hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu, seiring macetnya perundingan terkait konflik Iran yang terus memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan dari Timur Tengah.

"Mengingat para ekonom kami di AS memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan saat ini, kami melihat adanya peluang harga emas melampaui US$ 5.000 per ons pada tahun 2027 atau bahkan lebih cepat namun juga disertai potensi volatilitas," ungkap analis Morgan Stanley dalam sebuah catatan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya