Bursa Saham Asia Hari Ini Lesu Mengekor Wall Street, Kospi Susut 1%

Bursa saham Asia Pasifik tertekan pada Jumat, (21/8/2026) mengikuti wall street setelah imbal hasil obligasi kembali naik.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 Agustus 2026, 08:37 WIB
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham Jumat pagi, (21/8/2026). Koreksi bursa saham Asia Pasifik ini mengikuti wall street yang tertekan.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,92%. Indeks Topix melemah 0,40%. Indeks Kospi terpangkas 1,07%, sedangkan indeks Kosdaq turun 2,44%. Di sisi lain, indeks acuan Australia ASX 200 melemah 0,21%.

Sementara itu, di wall street, tiga indeks saham acuan melemah pada Kamis waktu setempat. Indeks Nasdaq susut 1% ke 26.067. Indeks S&P 500 terpangkas 0,87% ke 7.641,16 dan indeks Dow Jones merosot 1,32% ke 52.759,21.

Penurunan pada Kamis terjadi saat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang kembali naik, setelah upaya pemerintah untuk meredam gejolak pasar obligasi baru-baru ini gagal meredakan kekhawatiran investor mengenai inflasi.

"Berbeda dengan Quantative Easing/QE (pelonggaran kuantitatif) melalui Federal Reserve, Departemen Keuangan tidak dapat menciptakan uang untuk mendanai pembelian aset," tulis Chief Investment Officer untuk wilayah Amerika di UBS, Ulrike Hoffmann-Burchardi.

"Setiap pembelian kembali (buyback) harus didanai dari sumber lain, kemungkinan besar melalui peningkatan penerbitan surat utang jangka pendek (T-bills) atau penyesuaian pada bagian lain dari program pendanaannya,” ia menambahkan.

"Pada dasarnya, operasi ini mengubah profil jatuh tempo utang yang dipegang investor, alih-alih mengurangi jumlah utang yang harus diserap pasar. Langkah ini tidak menghilangkan kebutuhan pendanaan pemerintah maupun mengatasi kekhawatiran mengenai pasokan obligasi Treasury," tulis dia.

Saham Ross Stores melonjak lebih dari 7% dalam perdagangan di luar jam bursa (after-hours) setelah perusahaan mencatatkan kinerja kuartal kedua yang melampaui ekspektasi.

Penutupan IHSG pada 20 Agustus 2026

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kenaikan hingga penutupan perdagangan saham Kamis, (20/8/2026). IHSG hari ini menembus level 6.500 di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di kisaran 17.749 dan seluruh sektor saham menghijau.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melonjak 1,68% menjadi 6.501,58. Indeks saham LQ45 menanjak 1,8% menjadi 638,73. Seluruh indeks saham acuan menguat.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG bergerak menguat 1,68% disertai munculnya volume pembelian, penguatan IHSG sejalan dengan mayoritas pergerakan bursa global dan Asia yang juga menguat.

"Di sisi lain, emiten-emiten yang berkorelasi dengan harga komoditas emas juga mendorong pergerakan IHSG, di mana kita ketahui harga emas berada pada level US$ 4.500/toz-nya tadi pagi, kemudian nilai tukar rupiah juga bergerak menguat di Rp 17.798 per dolar AS,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

Sektor Saham

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada perdagangan Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.514,67 dan level terendah 6.444,39. Sebanyak 452 saham menguat sehingga angkat IHSG. 190 saham melemah dan 150 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 2.289.922 kali dengan volume perdagangan saham 78,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 15,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.749.

Kenaikan IHSG hari ini di tengah seluruh sektor saham yang menghijau. Sektor saham basic menguat 3,46%, dan catat kenaikan terbesar.

Sektor saham konsumer siklikal naik 2,16% dan sektor saham industri bertambah 2,15%. Lalu sektor saham energi menguat 1,26%, sektor saham konsumer nonsiklikal menanjak 1,98%, sektor saham kesehatan menanjak 0,98%, sektor saham keuangan melompat 1,49%.

Lalu sektor saham properti melonjak 1,21%, sektor saham teknologi bertambah 1,44%, sektor saham infrastruktur naik 0,17% dan sektor saham transportasi melambung 0,64%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya