Bangladesh Protes Myanmar Sebut Rohingya sebagai Bengali

Keberatan Bangladesh sudah disampaikan langsung ke Myanmar.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 20 Agustus 2026, 10:30 WIB
Pandangan umum dari Kamp Pengungsi Kutupalong di Cox's Bazar, Bangladesh, Senin (22/7/2019). Lebih dari satu juta etnis Rohingya melarikan diri dari Myanmar dan menetap di Kutupalong yang merupakan salah satu kamp pengungsi terbesar di dunia. (MUNIR UZ ZAMAN/AFP)

Liputan6.com, Dhaka - Bangladesh pada Selasa (18/8/2026) memprotes Myanmar yang menyebut warga Rohingya sebagai "Bengali", kelompok etnis terbesar di Bangladesh, serta hanya mengakui sebagian dari mereka sebagai warga yang memenuhi syarat untuk dipulangkan ke Myanmar di kemudian hari.

Kementerian Luar Negeri Bangladesh menyampaikan keberatan tersebut melalui sebuah pernyataan. Dhaka seperti dilaporkan kantor berita Anadolu menegaskan bahwa satu-satunya solusi berkelanjutan bagi krisis ini adalah pemulangan Rohingya ke Negara Bagian Rakhine secara aman, bermartabat, dan sukarela.

Menurut data terbaru badan pengungsi PBB hingga Juli, lebih dari 1,2 juta warga Rohingya kini mengungsi di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh. Sebagian besar dari mereka telah berada di sana sejak Agustus 2017, ketika ratusan ribu Rohingya melarikan diri dari operasi militer brutal di Myanmar.

Dalam pernyataan pada Sabtu (15/8), Kementerian Luar Negeri Myanmar menyebut para pengungsi Rohingya sebagai "Bengali". Myanmar mengatakan telah memverifikasi 308.975 orang sebagai mantan penduduk Rakhine.

"Myanmar akan menerima para pengungsi yang telah diverifikasi sebagai mantan penduduk Negara Bagian Rakhine setelah situasi keamanan di Rakhine menjadi lebih stabil," kata pemerintah junta Myanmar.

Kementerian Luar Negeri Bangladesh mengatakan Direktur Jenderal Urusan Myanmar Md. Toufiq-ur-Rahman kemudian bertemu dengan Duta Besar Myanmar untuk Bangladesh U Kyaw Soe Moe di Dhaka pada Selasa untuk menyampaikan keberatan atas pernyataan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Rahman mengatakan sejumlah informasi yang disampaikan Myanmar didasarkan pada data yang keliru, termasuk mengenai jumlah warga Rohingya yang mengungsi.

Ia menegaskan bahwa Rohingya bukanlah "Bengali". Menurut Rahman, Rohingya memiliki identitas etnis sendiri yang belum lama ini masih diakui oleh otoritas Myanmar.

Rahman mengatakan data warga Rohingya yang terdaftar dalam sistem PBB mencerminkan jumlah mereka yang sebenarnya. Ia mendesak Myanmar mempercepat proses verifikasi berdasarkan kesepakatan bilateral yang telah disetujui kedua negara.

Bangladesh juga meminta Myanmar memasukkan anak-anak yang lahir di kamp pengungsian serta warga Rohingya yang baru mengungsi setelah terpaksa meninggalkan Negara Bagian Rakhine sejak 2017 ke dalam proses tersebut.

Duta Besar Moe mengatakan akan menyampaikan keberatan Bangladesh kepada otoritas Myanmar.    

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya