Presiden Korsel Ajak Korut Berunding untuk Akhiri Perang Korea

Usulan itu disampaikan di tengah semakin eratnya hubungan Korea Utara-Rusia.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 16 Agustus 2026, 07:00 WIB
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berpidato dalam upacara peringatan 81 tahun Hari Pembebasan Korea di Seoul, Sabtu (15/8/2026). (Dok. AFP/Pool/Lee Jin-man)

Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung pada Sabtu (15/8/2026) mengusulkan perundingan dengan Korea Utara (Korut) untuk secara resmi mengakhiri Perang Korea

Korea Selatan dan Korea Utara hingga kini secara teknis masih berperang. Konflik pada 1950-1953, yang bermula dari serangan Korea Utara, berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Lee menyampaikan usulan tersebut dalam pidato pada upacara peringatan pembebasan Korea dari penjajahan Jepang yang berlangsung pada 1910-1945.

"Mari kita tinggalkan niat untuk saling mengancam dan mulai membahas cara mengakhiri perang yang telah berlangsung lama ini sebagai pihak-pihak yang terlibat langsung," kata Lee seperti dilaporkan CNA.

"Dengan begitu, kita juga mungkin dapat membahas langkah-langkah efektif untuk menghentikan pengembangan kemampuan nuklir Korea Utara."

Usulan Lee muncul setelah Korea Utara pekan ini mengecam rencana latihan militer tahunan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan. Pyongyang memperingatkan pula akan mengambil langkah penangkalan yang lebih kuat.

Pyongyang belakangan bereaksi keras terhadap penguatan militer Jepang secara bertahap di kawasan Pasifik. Korea Utara menembakkan dua rudal dalam dua pekan setelah Tokyo berjanji meningkatkan kemampuan pertahanannya dengan alasan situasi yang semakin mendesak dan mengkhawatirkan.

Korea Utara berulang kali menyatakan statusnya sebagai negara nuklir tidak dapat diubah sejak pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump di Hanoi pada 2019 gagal mencapai kesepakatan. Pertemuan itu berakhir tanpa hasil karena perbedaan mengenai cakupan denuklirisasi dan pelonggaran sanksi.

Sejak berkuasa pada Juni 2025, Lee yang memilih pendekatan lebih lunak terhadap Korea Utara telah mengubah kebijakan pendahulunya yang lebih keras. Ia menawarkan pembicaraan tanpa prasyarat kepada Korea Utara, yang memiliki senjata nuklir.

Pada Juli, Menteri Unifikasi Korea Selatan mengatakan Seoul telah meninggalkan kebijakan yang mengutamakan tekanan agar Korea Utara membongkar senjata nuklirnya. Fokus Seoul kini bergeser pada upaya menghentikan perluasan aktivitas nuklir Pyongyang.

Pemerintah Korea Utara sejauh ini belum menanggapi berbagai tawaran dialog yang berulang kali disampaikan Lee. Sebaliknya, Pyongyang justru semakin mempererat hubungan militernya dengan Rusia.

Para analis mengatakan Korea Utara menerima dukungan keuangan, makanan, energi, dan teknologi militer dari Moskow sebagai imbalan atas pengiriman pasukan dan amunisi untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina.

Kim Jong Un diperkirakan akan mengunjungi Rusia pada akhir tahun ini. Kunjungan tersebut berpotensi menjadi kesempatan untuk membahas pasokan senjata tambahan ke Moskow.

AS, sekutu utama Korea Selatan di bidang keamanan, menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara itu dari ancaman militer Pyongyang.

Kolonel Ryan Donald, juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS-Korea Selatan, mengatakan pengalaman tempur pasukan Korea Utara dalam perang di Eropa telah memunculkan ancaman baru yang perlu diperhitungkan pasukan AS dan Korea Selatan di Semenanjung Korea.

"Pengalaman yang mereka dapatkan di sana kini dibawa kembali ke Korea Utara," ungkap Donald kepada wartawan saat membahas latihan gabungan Korea Selatan-AS selama 11 hari yang dijadwalkan dimulai Senin (17/8).

"Latihan kami dirancang dengan mempertimbangkan ancaman tersebut."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya