Liputan6.com, Washington, DC - Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt (28) akan meninggalkan jabatannya pada akhir Agustus. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan keputusan tersebut pada Rabu (12/8/2026).
Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut Leavitt sebagai "salah satu staf yang paling saya percaya". Ia mengatakan Leavitt akan meninggalkan jabatannya pada akhir bulan ini agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anaknya yang masih kecil dan keluarganya, sebuah keputusan yang sepenuhnya dia pahami dan hormati.
Advertisement
Trump menambahkan, Leavitt akan tetap menjadi penasihatnya dari luar pemerintahan.
Menurut laporan CNN, kepergian Leavitt terjadi ketika Trump tengah menghadapi tekanan politik. Tingkat dukungan publik terhadap Trump rendah di tengah perang Iran yang masih berlangsung dan tingginya harga bensin. Mayoritas warga AS pun menilai Trump belum memberikan perhatian yang cukup terhadap persoalan-persoalan terpenting di dalam negeri.
Leavitt mencatat sejarah sebagai sekretaris pers Gedung Putih termuda. Ia juga menjadi perempuan pertama yang hamil saat menjabat dalam posisi tersebut. Bulan lalu, Leavitt kembali tampil di ruang pengarahan pers setelah menjalani cuti melahirkan singkat.
Pada masa jabatan pertama Trump, Leavitt menduduki posisi junior. Namun, pada periode kedua Trump, ia menjadi salah satu juru bicara presiden yang paling efektif dan loyal.
Leavitt dikenal sebagai pembela keras Trump dan kebijakan-kebijakannya. Ia kerap beradu argumen dengan wartawan yang mengajukan pertanyaan kritis, sekaligus menyambut lebih hangat media yang bersikap lebih bersahabat terhadap pemerintahan Trump.
Di luar podium Gedung Putih dan media sosial, Leavitt menampilkan kesehariannya sebagai seorang istri sekaligus ibu yang bekerja. Ia beberapa kali membawa putranya yang masih balita, Niko, ke Air Force One dan Ruang Oval. Ia mengunggah foto bersama suaminya dalam perayaan Easter Egg Roll dan Halloween di Gedung Putih, membuat pai apel sendiri, serta membagikan momen bersama putrinya yang baru lahir, Viviana.
Namun, seperti yang kerap terjadi di media sosial, gambaran tersebut tidak sepenuhnya memperlihatkan beratnya tuntutan pekerjaan yang dijalani Leavitt.
"Sejak kembali ke Gedung Putih setelah kelahiran putri saya, saya merasa dalam hati bahwa saya tidak dapat menjadi ibu terbaik yang layak didapatkan kedua anak saya yang masih kecil jika pada saat yang sama harus mencurahkan waktu, energi, dan perhatian secara terus-menerus seperti yang dituntut dari seorang Sekretaris Pers Gedung Putih," tulis Leavitt di media sosial pada Rabu.
Ia mengaku keputusan tersebut diambil dengan perasaan campur aduk.
Trump, yang meyakini dirinya sendiri sebagai juru bicara terbaik bagi pemerintahannya, dikenal menuntut banyak dari orang-orang yang berbicara atas namanya.
Setelah putrinya lahir pada 1 Mei, Leavitt mengambil cuti sekitar satu bulan dari Gedung Putih. Menurut seorang sumber yang mengetahui percakapan keduanya, Trump kerap menelepon Leavitt selama masa cuti itu dan sesekali menanyakan kapan ia akan kembali bekerja.
Ketika anak pertama Leavitt lahir pada Juli 2024, ia hanya mengambil cuti selama empat hari. Leavitt kembali mengikuti kegiatan kampanye sehari setelah Trump, yang saat itu masih menjadi calon presiden, menjadi korban percobaan pembunuhan di Butler, Pennsylvania.
"Situasi itu membuat saya kembali bekerja jauh lebih cepat daripada yang mungkin saya perkirakan atau harapkan," ujar Leavitt kemudian dalam wawancara dengan Megyn Kelly.
Saat kembali ke podium Gedung Putih bulan lalu, Leavitt mengakui bahwa menjalani pekerjaan dengan tuntutan tinggi sambil membesarkan dua anak kecil merupakan sesuatu yang "menantang".
Namun, saat itu ia menambahkan, "Saya memandang ini lebih dari sekadar pekerjaan. Saya melihatnya sebagai bentuk pengabdian kepada publik."
Setelah masa jabatan pertama Trump berakhir, Leavitt mencalonkan diri sebagai anggota Kongres AS dari negara bagian asalnya, New Hampshire. Ia kalah dalam pemilu.
Kemudian, selama kampanye presiden Trump pada 2024, Leavitt menjadi sosok yang dipercaya dan dengan cepat masuk ke lingkaran dekat Trump.
Kini, ketika persaingan menjelang pemilu paruh waktu 2026 semakin memanas, Leavitt dapat memainkan peran penting sebagai penyampai pesan politik Trump dari luar pemerintahan.
"Presiden Trump telah meminta saya untuk tetap menjadi salah satu penasihat utamanya dari luar pemerintahan dan saya akan selalu menjadi pendukung vokal Make America Great Again (MAGA) serta Partai Republik," tulis Leavitt pada Rabu.
Pengganti Leavitt Belum Ditentukan
Selama Leavitt menjalani cuti melahirkan baru-baru ini, pengarahan pers Gedung Putih digelar jauh lebih jarang.
Tim pers Gedung Putih beberapa kali menghadirkan pejabat tinggi untuk berbicara dari podium, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Penampilan mereka mendapat respons yang beragam.
Vance pada Rabu mengatakan Leavitt "memiliki salah satu pekerjaan tersulit di pemerintahan".
"Saya tahu betapa sulit sekaligus berharganya pekerjaan yang menuntut perhatian terus-menerus seperti ini bagi seorang orang tua yang masih muda," tulis Vance di X.
Hingga Rabu sore, menurut sebuah sumber, sejumlah staf Gedung Putih belum mengetahui siapa yang akan menggantikan Leavitt.
Mencari pengganti Leavitt, salah satu perempuan paling menonjol dalam pemerintahan Trump, bisa menjadi tantangan tersendiri.
Leavitt telah menjabat selama 18 bulan, menjadikannya sekretaris pers dengan masa jabatan terlama kedua selama kepresidenan Trump.
Sarah Huckabee Sanders, yang kini menjabat sebagai Gubernur Arkansas, menduduki posisi tersebut selama hampir dua tahun pada masa jabatan pertama Trump.
Sementara itu, Kayleigh McEnany menjabat selama delapan bulan, Stephanie Grisham selama 10 bulan, dan Sean Spicer selama enam bulan.
Pergantian personel terjadi pula di kantor pers Gedung Putih selama masa jabatan kedua Trump.
Taylor Budowich, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala staf bidang komunikasi, meninggalkan posisinya setelah delapan bulan. Dua wakil Leavitt, Harrison Fields dan Abigail Jackson, juga telah hengkang.
Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung memuji kiprah Leavitt dan menyebutnya sebagai rekan kerja terbaik.
"Meski ini hari yang menyedihkan, kami sangat bahagia untuk dia dan keluarganya. Ini bukan 'selamat tinggal'. Ini selalu 'sampai jumpa lagi'," tulis Cheung di X.